Dunia ini memang penuh lika-liku, orang-orang melintir ke kanan-kiri hingga mati terjatuh, karena mereka tidak tahu bahwa mereka sudah tidak lagi sempurna. Sempurna, bila hari ini, esok, kemarin, hingga sekarang kalian menitik beratkan pada satu tujuan. Hanya menghina kalian bernyali.
Hah, you so beautiful face....
But heart and conscience?
You have?
No..
Mengapa ku berkata? Aku lelah dengan kebusukan dunia. Hanya mengejar mode diatas neraka.
You look luxurios...
It's result from you?
Hah.....
Seperti air tergenang saat ia tenang, aku tidak ingin berulang kembali. Aku bisa seperti mereka, merana dalam dunia materi. Bosan dan sudah aku terjatuh. Sekarang dan sampai mati pula aku ingin hidup sederhana. Menikmati indahnya dunia, sehat, dan terjaga.
Hei kalian manusia berparas
Pahamilah terlebih dahulu
Sebelum kalian mencerca
Peace your life guys.... ^^
8 Des 2010
Menitik Beratkan
Diposting oleh
The man's
Jam
3:56 AM
0
komentar
Label: Puisi
I Miss You, My Little Angel
Aku tersadar tanpa hanyutan
Tapi kenapa aku menampiknya?
Bodohnya aku dengan diriku
Munafik aku berkata 'putus' dengan nya
Dalam hati ku berkata
Apakah ini cinta?
Heii... my little angel..
I miss u..
Aku tahu kamu memahaminya
Aku mengerti tentang kamu
Tapi terkadang aku bingun dibuatmu
Kamu membuat aku galau
Ah, sudah..
Aku hanya berkhayal mendapatkanmu kembali
Tapi kenapa tidak?
Lalu bagaimana?
Apa kamu menerima konsekuensinya?
Aku jauh nan dunia formal
Terisolasi dengan pendidikan
Setiap kali melihat kamu di layar kaca
Teringat kenangan saat indah berdua
Di stasiun kota duduk bercanda
Menanti kereta tua
Meski sempat bosan menantinya
Tapi kamu membuat itu tiada
I hope you like this moment..
Aku ingin kembali lagi seperti dahulu
I want jamming with you.....

Diposting oleh
The man's
Jam
1:56 AM
0
komentar
Label: Puisi
AKU DAN AKU
Diposting oleh
The man's
Jam
1:55 AM
0
komentar
Label: Catatan Pinggir
Polkadot
Matahari terbit membangunkan pagi
Aku terjerat dengan sinaran mentari
Tak satupun yang memperhatikanku
Tapi tak membuatku kehilangan arah
Entah terlelai atau hanya lamunan?
Aku ingin berbicara dengan nya
Masih enggan
Karena dia bukan punyaku
Tapi kenapa tidak?
Ah sudah.. aku hanya berandai
Selalu bermimpi dengan kebulatan warna-warni malam
Tidak seperti hari-hariku yang dulu
Mungkin suatu saat kan ku gapai
Ah sudah... lagi-lagi aku berangan
Terima kasih telah membuat hariku berwarna
Seperti motif POLKADOT yang kamu pakai
Diposting oleh
The man's
Jam
1:54 AM
0
komentar
Label: Puisi
Nurani dan Logika
Karena telah merasa dewasa
Dewasa? apakah aku sudah dewasa?
Seharusnya bukan itu yang kamu Tanya
Lalu apa?
Kapan kamu mengenal dunia?
Bukan waktu yang aku tunggu
Ya memang, tapi kamu saat ini belum mengenal dunia sana
Sekarang atau besok akupun bisa
Ego, angkuh, serta murka kamu berkata
Seakan-akan melupakan bangkai semasa berjaya
Tapi memang aku sanggup dengan itu semua
Hati-hati dunia ini penuh dengan rekayasa
Sedikit berkata, terjerumus dunia maya
Bukan waktu yang merubah semua
Tapi diri kita sebagai manusia
Penulis: Sebagai penokohan antara alam berpikir dan perasaan yang sering kali membuat kita bimbang. Hati nurani yang ingin membangkitkan kebaikan sebenarnya, akan tetapi dia terlebih dahulu melewati fase berpikir atau logika. Seimbangkan hati dan logika kita agar bisa mencapai semua keinginan kita.
Diposting oleh
The man's
Jam
1:53 AM
0
komentar
Label: Puisi
Surprise
Diposting oleh
The man's
Jam
1:50 AM
0
komentar
Label: Cerpen
Topeng Nasi Goreng
Diposting oleh
The man's
Jam
1:49 AM
0
komentar
Label: Cerpen
NEGRI MIMPI TAPI ASLI part IV
“Begini ceritanya, saat itu aku sedang berjalan ditengah, dikeramaian kota. Aku tidak tahu kejadian itu pagi, siang, senja, ataupun malam. Freedom… Freedom… Terdengar suara teriakan seperti itu. Awalnya aku pikir itu hanya demonstrasi biasa. Ah, paling-paling menuntut harga sembako turun. Seraya sambil berjalan dengan adik ku.”
“Apa yang menyedihkan?”
“Nanti kamu akan tahu”
Kembali, masrya melanjutkan cerita aneh itu, Membuat aku semakin penasaran. Rasanya, aku ingin berlama-lama berduaan bersama dia, mendengarkan, mengartikan, dan memahami kehidupannya. Seperti dalam novel-novel percintaan masa kini.
***
Tiba-tiba saja suara jeritan hati itu menghilang, dan aku tak tahu kemana perginya. Seperti tenggelam kepusaran bumi yang panas. Kiranya aku menyangka mereka sedang istirahat karena capai, terus berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar.
“Mba ayo ikut bersama kami!”
Sambil mengemgam dan mengborgol tangan kanan ku dan tangan kiri adik ku.
“Loh, saya ingin dibawa kemana pak?”
Adik ku saat itu sepertinya sangat ketakutan dan sempat menangis. Menangis ketakutan, karena trauma dengan aparat. Aparat yang keparat, sedikit-sedikit mendamprat.
Bruk, aku terjatuh dengan adik ku.
“Kita dimana lis?”
“Tempatnya dingin, lembab, serta penuh bercak darah ka”
Sambil menahan tangisan ketakutan.
“Hey, kamu berdua ikuti saya!”
Terdengar bunyi suara mesin ketik yang amuradul sedang mengintrograsi beberapa orang.
“Nama kamu siapa?”
“Siapa pak?”
“Kamu”
“Adik saya, atau saya pak?”
“Ya, kamu goblok!”
“Oh, Marsya pak”
“Marsya pak atau Marsya?”
“Marsya”
“Lalu adikmu?”
“Monalisa, pak”
“Pada saat kejadian kamu berada dimana?”
“Kejadian apa pak?”
“Loh, tadi kamu ngapain di jalan?”
“Oh, itu saya ingin beli susu pak”
“Pasti kamu tahukan apa yang dilakukan mereka”
“Ya, tahu pak”
“Mereka sedang apa?”
“Mana saya tahu pak”
“Loh, gimana?”
“Iya pak”
“Iya, apanya?”
“Ya, mana saya tahu mereka sedang apa?”
“Saya saja tidak bisa lihat pak”
“Maksudmu buta?”
“Iya pak”
“Nah, itu mata mu terbuka”
“Pak, orang buta memang harus tertutup matanya?”
“Ya.. Ya..”
Dialog intrograsi berganti arah kepada adik ku.
“Monalisa, apa yang kamu tahu tentang kejadian itu?”
“Tadi, ada yang berteriak-teriak pak”
“Mereka berteriak apa?”
“Lepaskan Leonardo dari jeruji, pak”
Tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri Monalisa, bunyi sepatunya terdengar sangat khas. Pletak.. Pletuk.. Pletak.. Pletuk... Mereka membawa monalisa ke sebuah ruangan, entah ruangan atau tempat apa? Aku tidak mengerti. kembali aku diintrograsi.
“Monalisa dibawa kemana pak?”
“Sudah! Jangan banyak tanya”
“Apa yang kamu dengar dari mereka?”
“Mereka siapa pak?”
“Mereka yang berteriak-teriak, goblok!”
“Oh, katanya freedom-freedom”
***
Anehnya aku tidak dibawa oleh mereka. Mungkin mereka tidak suka menahan orang buta, atau mungkin orang buta bisa menyusahkan mereka, atau orang buta tidak akan tahu apa yang mereka perbuat. “Ujar Marsya”
“Lalu, Monalisa dimana?”
Sambil beteriak serta menangis tanpa air mata, ia mengusir ku.
“Aghhh….. sudah, kamu pergi saja”
“Aku ingin sendiri disini”
“Menunggu Monalisa kembali”
Aku tersentak melihat sikapnya. Padahal, aku ingin sekali menjadi hati di hatinya. Ya, kalau memang itu yang terbaik untuknya, apa boleh buat. Karena cinta memang tak harus memiliki. Huh, dasar negri mimpi. Semakin aneh, membuat orang semakin penasaran. Huh, negri mimpi tapi asli.
catatan:
- parfum casablank, pelesetan dari diodoran casablanca. karena saya suka dengan wanginya. hehehe..
- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^
Diposting oleh
The man's
Jam
1:48 AM
0
komentar
Label: Cerpen
Diingatkan Kembali
Pukul. 13.55 WIB
Saat itu saya sedang berada di kantor LEM FPSB UII, tepatnya di sebelah sudut selatan pelataran parkir mobil FPSB UII. Sambil tidur-tiduran dan memainkan hand phone, langit pada waktu itu masih cerah, dan sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda sekalipun kalau ada angin ribut berserta hujan. sekitar 5 menit kemudian, tiba-tiba saja angin yang tadinya bersahabat dengan saya, ia mengiur, melambai, serta mengelus dengan tenang berubah menjadi kencang seperti hembusan dari mulut.
“Huh, ngantuk lama-kelamaan saya disini.” (Dalam hati saya berbicara).
Oia, saya lupa ada bagian yang belum saya masukkan. Pada saat saya dikantor LEM anggota panitia pelaksana Makrab Psikologi yang sedang konsultasi dengan Fungsionasir LEM. Lanjut, kebagian berikutnya, pada pukul 14.00 WIB ada beberapa motor yang jatuh terkena angin ribut, terjatuh. Ooh, awalnya saya kira ini cuman hal yang biasa, angin kencang dan sepeda motor yang standarnya mungkin kurang kuat menahan. “Ujar saya”.
“Sudahlah, saya pulang dulu.”
Saya bercakap dengan seseorang disana, walaupun sepertinya tidak ada yang mendengar kepamitan saya, mungkin karena disana situasi sedang tidak kondusif . 5 sampai 10 orang sibuk membangunkan sepeda motor nya. Padahal saat itu motor yang jatuh tidak sama dengan jumlah orang yang sibuk.
“Kaya laut ya? Biru”
sambil bercanda saya mengatakan ucapan itu, seraya memakai sandal jepit. Seperti laut, karena di kantor saat itu keadaan cukup penuh dengan orang sekitar 20-26 orang berpakaian almamater UII. Maklum sedang konsultasi, semua panitia wajib datang.
Pukul 14.05 WIB
Berjalan dengan tenang sambil menikmati hembusan angin kencang ketika saya menuju pulang ke kos. Tak jauh melangkah dari kantor, saya bertemu dengan teman saya. Mas Arif namanya, saya memanggil ia mas. Ya, karena ia lebih tua dari saya, mas Arif salah satu mahasiswa Prodi Psikologi angkatan 2007.
“Eh, ada mas Arif”
“Minal aidin mas”
“Ya sama-sama man”
Seraya berjabat tangan saling memeluk layaknya seorang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.
“Habis konsultasi makrab man?”
“Ooh, gak mas”
“Cuman mampir ke kantor saja”
“Mas dari mana?”
“Dari lantai atas, ada acara”
Aduh, saya lupa lagi memasukan beberapa keterangan. Saya bertemu dengan mas Arif di area parkir Masjid Ulil Al’Bab.
“Mau kemana man?”
“Pulang ke kos mas”
“Oh, yaudah kalo gitu bareng saja”
“Mas ingin kemana?”
“Mas ingin ke rumah teman sih”
Pukul 14.10 WIB
Sambil mengambil motor, situasi keadaan saat itu bertambah aneh, langit yang tadinya terang, terlihat setengah bagian gelap dan seperti membentuk lengkukkan mata (di bagian yang terang). gerimis pun turun, angin semakin keras berhembus. Bruk, tiba-tiba saja pohon tumbang di dekat asrama UII. Saya menunda kepulangan saya ke kos, begitupula mas Arif. Kebetulan sekali pada waktu itu saya membawa kamera. Saya langsung menghampiri pohon tumbang yang pertama saya lihat, sebelumnya sebenarnya sudah ada pohon bambu yang tumbang di depan candi Pustakasala.
Hujan semakin deras disertai angin yang berhembus keras, saya menghentikkan sejenak pengabadian moment ini, berteduh di depan pintu masuk Masjid Ulil Al’Bab.
Selang 2 menit kemudian menyusul pohon tumbang persis di area dalam candi Pustakasala. Penasaran dan ingin sekali memotretnya tapi masih hujan deras dan angin keras. 5 menit kemudian tepatnya pukul 14.17 WIB pohon tumbang kembali saya lihat. Kali ini pohon deretan pos satpam boulevard UII.
Gerimis dan angin yang sesekali berhembus keras. Saya kembali menghampiri pohon-pohon yang tumbang tersebut dan mengabadikan moment.
Kalau saya bisa simpulkan kejadian ini seperti dalam kajian geografinya disebut dengan hujan frontal yaitu hujan yang terjadi apabila masa udara yang dingin bertemu dengan masa udara yang panas. Tempat pertemuan antara masa kedua itu disebut bidang front, karena lebih berat masa udara dingin berada dibawah disekitar bidang front.
sumber: http://id.m.wikiepedia.org/wiki/hujan
Sayangnya saya belum menguasai benar tentang ilmu alam, mohon dimaklumi kalau sedikit melenceng. Dari beberapa pohon tumbang yang saya lihat berjumlah 3, sedangkan pohon yang tidak saya lihat berjumlah sekitar 2 pohon. Jadi keseluruhan pohon tumbang sekitar 5.
Catatan:
Kalau kita melihat fenomena alam yang terjadi seperti ini, patutnya kita kembali menengok Al-Qur’an dan Hadistnya. disebutkan dalam surat Az-Zalzalah ayat: 1-5 Allah berfirman:
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya, ‘mengapa bumi begini?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.”
Sedangkan dalam Hadistnya, sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga seorang berjalan melewati kuburan orang lain, kemudian ia berkata ‘ah, seandainya aku berada di tempat itu’.” (Dalam Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Seperti apa yang difirmankan dalam Al-Qur’an dan Hadist, saya menjadi sangat bersyukur karena sampai detik ini saya masih diberikan nikmat yang berlimpah. Contoh: Andaikan saja saya tidak bertemu dengan teman saya, mungkin saya akan tertimpa pohon tumbang ketika pulang ke kos. Hanya selang beberapa menit saja pohon tumbang sudah menutupi sebagian jalan UII.
Patut kita sadari bahwa kejadian biasa dan fenomena sebenarnya tidak serta merta berawal dari kebetulan. Karena semua yang hidup diatas yang hidup memiliki sekenario masing-masing yang telah dibuat oleh sang Maha Agung yaitu Allah SWT.
Selang beberapa jam kemudian gunung kaliurang masih mengeluarkan asap larva, yang biasa disebut orang-orang sekitar sebagai wedus gembel.
Oleh:
Muhammad Iman Ramadhan.
Mahasiswa Komunikasi FPSB UII

Diposting oleh
The man's
Jam
1:47 AM
0
komentar
Label: Catatan Pinggir
NEGRI MIMPI TAPI ASLI part III
Diposting oleh
The man's
Jam
1:46 AM
0
komentar
Label: Cerpen
NEGRI MIMPI TAPI ASLI part II
Seretan kaki menelusuri negri yang berada di balik gunung disebrang lautan api, tiba-tiba ku dengar suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki.
“Kenapa ibu menangis sambil berteriak di ruang hampa ini?”
“Negri ini fana”
“Fana?”
“Sepi dan penuh dosa”
“Sepi?”
“Sepi, tak ada sosok pemberani pembawa kebenaran sesungguhnya”
“Memang sosok itu seperti apa?”
“Huh, sudah.. aku tak mau lagi berbicara dengan mu”
Masih dalam kondisi menangis sambil berteriak, Ibu itu berpindah tempat dari sudut pojok dikanan ruangan hampa itu. Ditengah, dibawah lampu bohlam yang menerangi tempat itu ia kembali berteriak sambil menangis, kali ini dengan teriakkan yang lebih keras.
“Kemana dia?”
Sambil mengesot perlahan aku menghampirinya. Kembali kutanyakan, tentang diskusi absurd yang sama sekali orang tidak memahami kemauannya.
“Dia siapa bu?”
Perlahan-lahan suara isak tangis ibu itu mereda, kepalanya sedikit menganga ke atas sambil melirik serong kekiri atas, lalu ia menceritakan sesosok pembawa kebenaran yang dulu pernah ada di negri mimpi. Dia seorang pemuda, wajahnya tegas, dadanya tegap seperti seorang tentara yang sedang latihan militer di gurun pasir. Namanya Ru’ud, dia salah satu pemuda pemberontak yang menentang segala kebijakan pemerintah. Dia seperti sesosok pahlawan dikala senja keemasan, penuh kepercayaan dan teguh pendirinya. Saya jadi ingat dengan perjuangannya, “ujar si ibu”.
***
Bisingan suara knalpot menghiasi keramaian sudut kota, mobil pembawa upeti menjadi bagian dari bisingan suara tersebut. Terdengar iring-iringan sirine polisi pengawal pembawa upeti menyingkirkan segala hiruk pikuk kemacetan yang terjadi saat itu. Tiga sampai empat mobil dan sepeda motor polisi menggiringnya. Disetiap lampu merah iring-iringan mobil pembawa upeti itu selalu melaju dengan cepat, dan menghiraukan segala aturan lampu lalu lintas. Tiba-tiba di perempatan terakhir sebelum tempat tujuan, iring-iringan mobil pembawa upeti itu terhenti seketika. Segerombolan berjubah hitam mencegat iring-iringan tersebut. Ru’ud yang memimpin segerombolan itu, sebelumnya ia sudah merencanakan perampokan itu yang menurutnya sebagai symbol penentangan terhadap pemerintah.
“Cepat keluar dan bukakan gembok yang mengikat itu!”
Sambil mengancungkan senjata ke kepala sopir pembawa mobil upeti tersebut. Perlahan-lahan dengan wajah yang berlumuran keringat disertai suhu badan yang dingin, sopir mobil pembawa upeti itu keluar dari tempat mengemudinya. Tangan yang gemetaran serta langkah kaki yang terseok-seok, sopir mobil pembawa upeti itu menuju box besar yang dibawanya. Satu persatu kunci gembok dipilihnya dengan wajah ketakutan dan penuh kepanikan, peluru yang akan menyelongsong tepat di kepalanya bisa menyebabkan kematian dan hilang jiwanya.
“Cepat!”
Sambil menembakkan senjata ke bawah sebelah kanan sopir mobil pembawa upeti. Dengan segeranya sopir pembawa upeti membuka box tersebut. Bergegas teman-teman Ru’ud pun menyelipkan segepok tindihan uang untuk pembayaran gaji pejabat pemerintah ke dalam karung putih berukuran 50 kilogram.
***
Uang hasil rampokkannya dibagikan kepada seluruh kaum tertindas di negri mimpi, ujar si ibu sambil mengusap air mata yang membekas dipipinya.
“Lalu kemana dia sekarang bu?”
“Dia pergi meninggalkan kami disini”
“Pergi kemana?”
“Pergi ke negri nan indah tiada tergapai oleh manusia yang masih hidup sekarang”
“Mati maksudnya?”
Dengan teriakkan keras dan tangisan kembali ia mengatakan.
“Tidak, ia tidak mati!”
“Ia masih ada, tapi ia pergi ke negri nan indah disana, dan akan kembali ketika negri ini membutuhkan sesosok tokoh lagi”.
Sambil menghembuskan nafas, perlahan aku meninggalkan ibu yang sedang gundah gulana menanti kedatangan sesosok tokoh, pahlawan, ataupun pejuang. Keluar melewati pintu tua berukiran seni pahat tua aku melangkahkan kaki, dan masih pula aku mendengar suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki. Memang benar-benar menyedihkan negri ini, tidak percaya diri seperti berdiri satu kaki, menanti datangnya tokoh, pahlawan, atau pejuang. padahal bukan menanti tokoh, pahlawan, atau pejuang saat ini yang mesti dilakukan, tapi merubah sistem pemirikan negri ini.
“huff… Dasar negri mimpi tapi asli”
- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^
Diposting oleh
The man's
Jam
1:45 AM
0
komentar
Label: Cerpen
Untukmu
Saat ini aku hanya bisa menanggapi semua yang ada dihadapanku
Aku tidak berharap engkau membalasnya
Tapi aku berharap engkau bisa mengerti
Kenapa aku bersikap
Mengapa aku melakukannya
Bukan untuk membuat engkau menderita
Tapi hanya menjelaskan
Semua deskripsi tentang hati ku yang sedang ingin berandai
Apabila senja pun tak ku dapat
Mengapa tidak ku dapatkan dirimu?
Dan itu bukan pelarian ku
Hanya saja kamu tahu apa yang aku mau
Dan kamu tahu yang aku rasakan
Kamu mengerti dan tidak menutupi itu
Tapi ada satu hal yang memutus jembatan itu
Teman, karena teman aku tetap pada posisi semula
Menanggapi dan bersikap
Dan juga bukan menyakiti hatimu yang berandai itu
Ada yang menyukaimu
Tapi, aku tidak bisa menutupi kesukaran itu
Karena aku tidak bisa menghianati janjiku
Untuk mengenalkan mu kepada nya
Diposting oleh
The man's
Jam
1:38 AM
0
komentar
Label: Puisi
Bilik 13
Diposting oleh
The man's
Jam
1:35 AM
0
komentar
Label: Cerpen
Keadilan adalah Sebuah Kesejahteraan
Diposting oleh
The man's
Jam
1:32 AM
0
komentar
Label: Catatan Pinggir
Manusia Penonton
Wajah-wajah itu terlihat mengkerut serta penuh dempulan hitam. Aku tiadak tahu kenapa dan mengapa wajah mereka seperti itu? Seketika aku melihat wajahku di cermin. Oh, ternyata wajahku sama seperti mereka, malah hingga pakaian ku juga ikut mengkerut dan penuh dempulan hitam. Bukan itu permasalahan semua dari gunung yang sedang merokok.
Mereka yang mengungsi ke posko-posko pengungsian telihat begitu cemas dan panik. Tidak hanya itu, tim relawan lalu-lalang menghibur para penonton dipinggir jalan. Manusia penonton, begitulah yang bisa kusimpulkan saat ini. ratusan hingga ribuan jejeran sepasang mata menerangi sepanjang jalan arah ke gunung merapi itu. Mereka terlihat sangat antusias melihat kepanikan dan kecemasan yang mondar-mandir menghiasi jalan. Hanya menonton dan memajang tubuh dipinggiran jalan. Entah apa yang mereka maksudkan? Tidak jelas dan tujuan mereka. Mungkin mereka takut di dalam rumah atau mereka ingin melihat parade suara sirine berkeliaran. Tidakkah para manusia penonton itu mengerjakan hal yang lebih penting? Malah aku melihat sebagian besar manusia penonton ini pergi menuju kejadian bencana ini.
Tidakkah mereka mempunyai rasa empati? Sekarang bukan hanya sekedar simpati, dan bukan sekedar eksistensi juga. Keresahan dan kecemasan dari para manusia penonton ini tidak menghasilkan banyak untuk mereka yang menjadi korban. Indonesia... Indonesia.... manusia penonton sudah menjadi tradisi di negara ini. setiap kejadian dan setiap tragedi kalau tidak ada manusia penonton, belum dikatakan hal yang sensasional. Kecelakaan, kericuhan, hingga bencana alam, manusia penonton selalu hadir dihadapan kita. Ini tidak bisa disalahkan, tapi ini bisa juga meresahkan. Meresahkan dalam arti kata, kehadiran manusia penonton ini membuat pengahalang bagi para dewa penyelamat. Manusia penonton sukar membuat kehambatan tertib lalu lintas. Mereka tidak mengetahui berapa banyak korban yang berjatuhan dan kehilangan keluarganya. Mereka juga tidak merasakan kecemasan dan kepanikkan korban. Lalu mengapa mereka tetap berdiri tegar dipinggir jalan? Kehebohan yang bombastis mereka menyaksikan bencana alam ini.
Ini kah yang disebut euforia? Bagiku mereka, manusia penonton sebenarnya juga panik, tetapi panik yang berlebihan. Apalagi untuk manusia penonton yang menghampiri lokasi bencana. Mereka hanya ingin melihat, menonton, melihat, menonton. Kalau saja mereka melakukan tindakan selain itu. Seperti, mengungsi dari lokasi bencana, kembali ke rumah mengumpulkan bantuan berupa sandang, pangan, papan, atau mereka juga menjadi dewa penyelamat. Huh, ini cuman harapanku saja. Tentunya mereka yang sadar dengan itu hanya beberapa kecil. Saya sempat mendengar selentingan percakapan dari manusia penonton.
“Mbah Marijan meninggal”
“Mbah Marijan menghilang”
“Bukan, Mbah Marijan sudah dibawah”
“Salah, dirumah Mbah Marijan ada korban tewas”
Seraya mereka sambil ribut mempersoalkan juru kunci gunung merapi dipinggir jalan. Adakah percakapan yang lebih berharga dari ini? kring... kring... kring.... suara handphone disertai getaran di kantong saku ku.
“Ya, halo”
“kamu dimana man?”
“Di lokasi”
“Kumpulkan teman-teman”
“Untuk?”
“Ya, jadi relawan”
Tut... Tut... Tut...

Diposting oleh
The man's
Jam
1:29 AM
0
komentar
Label: Cerpen
Copyright © 2011 Serabutan Jurnal
Designed by headsetoptions, Blogger Templates by Blog and Web