8 Des 2010

Menitik Beratkan

Dunia ini memang penuh lika-liku, orang-orang melintir ke kanan-kiri hingga mati terjatuh, karena mereka tidak tahu bahwa mereka sudah tidak lagi sempurna. Sempurna, bila hari ini, esok, kemarin, hingga sekarang kalian menitik beratkan pada satu tujuan. Hanya menghina kalian bernyali.

Hah, you so beautiful face....
But heart and conscience?
You have?
No..


Mengapa ku berkata? Aku lelah dengan kebusukan dunia. Hanya mengejar mode diatas neraka.
You look  luxurios...
It's result from you?
Hah.....


Seperti air tergenang saat ia tenang, aku tidak ingin berulang kembali. Aku bisa seperti mereka, merana dalam dunia materi. Bosan dan sudah aku terjatuh. Sekarang dan sampai mati pula aku ingin hidup sederhana. Menikmati indahnya dunia, sehat, dan terjaga.

Hei kalian manusia berparas
Pahamilah terlebih dahulu
Sebelum kalian mencerca

Peace your life guys.... ^^

I Miss You, My Little Angel

Dia menampar ku di atas awan
Aku tersadar tanpa hanyutan
Tapi kenapa aku menampiknya?
Bodohnya aku dengan diriku

           Munafik aku berkata 'putus' dengan nya
           Dalam hati ku berkata
           Apakah ini cinta?
           Heii... my little angel..
           I miss u..

Aku tahu kamu memahaminya
Aku mengerti tentang kamu
Tapi terkadang aku bingun dibuatmu
Kamu membuat aku galau

                               Ah, sudah..
                               Aku hanya berkhayal mendapatkanmu kembali
                              Tapi kenapa tidak?
                              Lalu bagaimana?
                              Apa kamu menerima konsekuensinya?
                              Aku jauh nan dunia formal
                              Terisolasi dengan pendidikan

Setiap kali melihat kamu di layar kaca
Teringat kenangan saat indah berdua
Di stasiun kota duduk bercanda
Menanti kereta tua
Meski sempat bosan menantinya
Tapi kamu membuat itu tiada
I hope you like this moment..
Aku ingin kembali lagi seperti dahulu
I want jamming with you.....


AKU DAN AKU

Malam itu bulan tidak sebulat ia menyinari bumi, bintang yang dengan malu-malunya, muncul samar-samar di balik awan malam yang menyelimuti. Ini bukan cerita tentang sebuah roman ataupun novel yang akan diterbitkan, cerita tentang seorang penulis yang menuliskan tinta diatas kertas putih yang terpacu karena deadline tugas. Mencoba menuliskan tentang jalan-jalan kehidupan dunia si penulis, saat ia mulai mengetahui apa yang belum ia ketahui, cerita tentang masa-masa transisinya ketika ia banyak mengalami perjalanan hidupnya. Mulai dari cinta, keluarga, hingga kegelisahan ia terhadap fenomena duniawi.

Saat umur 11 tahun, ketika itu aku masih mengenakan seragam celana merah berserta baju yang berwarna putih. Saat umur 11 tahun bukan awal hidupku, saat umur itu  aku masih polos, ingusan, dan manja. Saat umur itu juga aku mulai menyukai seseorang yang tentunya berlawanan jenis dariku, hanya sekedar menyukai dan belum tahu apa arti cinta dan sayang. Beranjak remaja, umur ku bertambah genap menjadi 14 tahun, saat itu pula benih-benih cinta mulai tumbuh dan saat itu juga aku memiliki cinta pertama ku yang biasa orang bilang “cinta monyet”. Tak berlangsung lama jalinan kasih sayang itu tumbuh. Hingga mencapai umur 17 tahun aku sudah berulang kali menjalin kasih sayang, tapi hasilnya tetap sama “disakiti dan menyakiti”. Di masa umur 17 tahun pula, aku mulai mengerti apa arti cinta. cinta yang merupakan “ekspresi hati yang sulit dideskripsikan dalam sebuah perasaan mendalam karena adanya perhatian terhadap suatu objek yang memiliki hubungan diantara ke-duanya”. begitulah kesimpulan yang dapat aku ambil setelah mengalami perjalanan cinta berulang kali, dan saat ini aku masih berusaha untuk mencintai Allah SWT dan keluarga terlebih dahulu.

Bapak yang berasal dari Kalimantan Selatan dan Ibu dari Jawa Barat, sungguh perbedaan suku yang tidak mudah untuk menyatukannya. Aku yang terlahir sebagai anak ke-enam, sebelum adik ku yang berumur 1 setengah tahun  meninggal, dan kakak ku yang pertama juga ikut menyusul kepergian adik ku ke negri indah disana. Sekarang dan untuk selanjutnya aku menjadi anak terakhir dari 5 bersaudara yang awalnya 7 bersaudara. Tak terlalu mewah dan tak terlalu mengenaskan tempat tinggal ku, yang berjarak 50 meter dari mesjid berdiri tegak. Rumah yang sangat istimewa tentunya bagiku dan keluargaku. Ada selentingan kalimat yang sering aku dengar “belajarlah menjadi orang yang bertanggung jawab” ujar bapak ku. sampai sekarang kalimat tersebut masih terpendam di dalam hatiku dan pikiran ku. belajar dan terus belajar untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab itulah amanah yang aku simpan sampai saat ini.

Masa-masa transisi, begitulah manusia sewajarnya. Proses melewati proses aku jalani dalam usia ku yang sudah cukup dibilang dewasa. Kegelisahan ku mulai memuncak ketika aku memasuki masa kuliah. Awal pertama kuliah, aku seperti memasuki lorong labirin yang gelap dan penuh pertanyaan-pertanyaan mendasar. Kesadaran mulai muncul ketika itu. Kesadaran akan kepekaan memandang dan mendeskripsikan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Organisasi sewaktu itu yang membuatku mulai bergerak menjelajahi lorong labirin yang gelap tersebut. Tidak sampai di organisasi pula, aku mulai merambah dunia imajinasi dan kepekaan ku dalam buku. Pertama aku mulai membaca buku sebenarnya sudah mulai sejak SMA, akan tetapi masa kuliahlah yang membangkitkan ku menerapkan hasil bacaan ku. Sempat aku mengingat tokoh revolusioner terkenal bernama Ernesto Che Guevara, ia salah satu tokoh yang aku idolakan, dan tak lupa juga dengan kalimat terkenalnya “Hasta la Victoria siempre” yang artinya berjuang menuju kemenangan selamanya. Bukan saja kalimat khas itu, Che Guevara juga meninggalkan wasiat yang menjadi inspirasi aku “Pengorbanan kita adalah dengan kesadaran sepenuhnya, yakni sebagai ongkos bagi kemerdekaan yang kita bangun. Jalan kita sangat panjang, dan sebagian kita malah tidak diketahui, kita sadar akan keterbatasan diri. Kita akan mendukung orang-orang abad 21, yakni kita sendiri”. Sifat keras dan teguh pendiriannya membuat jantung ku berdetak kencang, seperti mengayuhkan sepeda berkilo-kilometer. Semangat dan kesadaran yang tinggi menggambarkan jiwa seorang pemuda yang haus akan kebenaran yang sesungguhnya. Tidak kalah penting tokoh dalam negri yang aku kagumi yaitu almarhum Ir. Soekarno, tentunya bangsa Indonesia sudah tahu tentang beliau apalagi dengan kalimat khas nya “Bangkit melawan, atau tunduk tertindas”. Ini juga menjadi penyemangat kesadaran ku, dan tak kalah penting juga aku menyukai kalimat “aku tidak dapat dan tidak ingin menunggang kuda berkaki tiga”. banyak sekali kalimat inspirasi yang aku jadikan kiblat berpikir, tentunya tidak dapat seluruhnya aku sebutkan satu persatu. Seperti, “Lebih baik diasingkan dari pada menjadi bagian dari kemunafikkan” (Soe Hok Gie), “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa” (Milan Kundera), “Orang-orang harus dibangunkan, kesaksian harus diberikan agar kehidupan tetap terjaga” (Ws. Rendra), dan terakhir pandangan pemikiran yang mungkin terasa nyata pada saat ini yaitu pandangan pemikiran dari Khalil Gibran “Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofinya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal ban dan tukang tiru, kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi”.

Begitulah sekilas tentang perjalanan hidup sang penulis dan inspirasi-inpirasinya.

Polkadot

26 Nov 2010 Pukul 17.05 WIB

Matahari terbit membangunkan pagi
Aku terjerat dengan sinaran mentari
Tak satupun yang memperhatikanku
Tapi tak membuatku kehilangan arah

                        Entah terlelai atau hanya lamunan?
                        Aku ingin berbicara dengan nya
                        Masih enggan

Karena dia bukan punyaku
Tapi kenapa tidak?
Ah sudah.. aku hanya berandai

                     Selalu bermimpi dengan kebulatan warna-warni malam
                     Tidak seperti hari-hariku yang dulu
                     Mungkin suatu saat kan ku gapai
                     Ah sudah... lagi-lagi aku berangan

Terima kasih telah membuat hariku berwarna
Seperti motif POLKADOT yang kamu pakai


Nurani dan Logika

Hari ini aku merasa gembira

Karena telah merasa dewasa

Dewasa? apakah aku sudah dewasa?

Seharusnya bukan itu yang kamu Tanya

                         Lalu apa?

                        Kapan kamu mengenal dunia?

                        Bukan waktu yang aku tunggu

                       Ya memang, tapi kamu saat ini belum mengenal dunia sana

Sekarang atau besok akupun bisa

Ego, angkuh, serta murka kamu berkata

Seakan-akan melupakan bangkai semasa berjaya

Tapi memang aku sanggup dengan itu semua

                             Hati-hati dunia ini penuh dengan rekayasa

                            Sedikit berkata, terjerumus dunia maya

                            Bukan waktu yang merubah semua

                           Tapi diri kita sebagai manusia



Penulis: Sebagai penokohan antara alam berpikir dan perasaan yang sering kali membuat kita bimbang. Hati nurani yang ingin membangkitkan kebaikan sebenarnya, akan tetapi dia terlebih dahulu melewati fase berpikir atau logika. Seimbangkan hati dan logika kita agar bisa mencapai semua keinginan kita.

Surprise

Seorang anak muda bernama Reno, terkunci dikamar tidurnya. Sebelumnya di kamarnya banyak botol bir, puntung rokok serta lintingan ganja berserakan. Ia ingin mengetahui setan apa yang ada dikamarnya semalam. Kunci kamar, sama sekali ia tidak mengetahui keberadaannya. Tiga jam ia mondar-mandir, telpon sana-sini, hingga mendobrak pintu kamar, tak kunjung ia keluar. Sempat ia berpikir untuk menjebol atap langit kamarnya untuk keluar dari kamar sial tersebut. Seketika ia melamun dan mengingat kembali kejadian tadi malam. Pada empat jam terakhir, akhirnya ia ingat. Kunci kamarnya dibawa oleh temannya. lima sampai enam orang temannya malam itu sedang merayakan hari ulang tahun Reno. Seorang temannya yang terakhir pulang membawa kunci tersebut, hingga menyuruh si Reno untuk membuka pintu dengan peniti yang berada di dalam salah satu bir tersebut. “Sial, ini gara-gara minum”, ujar Reno. Mencari-cari, lalu dapatlah ia peniti itu. Bukan persoalan gampang membuka pintu dengan peniti. Satu jam ia mengutak-atik pintu dengan peniti, dan pada akhirnya ia bisa membuka pintu tersebut sambil menahan kencing. Tiba-tiba di depan pintu kamar, teman-teman dan pacarnya sudah menunggu di depan pintu dengan membawa kue ulang tahun, trompet, serta peralatan badut lainnya. Reno yang tak kuasa menahan kencingnya, akhirnya air kencing tersebut mengalir membasahi celananya, seraya teman-teman dan pacarnya mengucapkan SURPRISE…………!!!!!

Topeng Nasi Goreng

Malam itu bulan besinar tidak sebulat pada malam sebelumnya. Angin yang berhembus memberikan tanda-tanda kalau malam itu akan ada tetesan air dari langit. Berjalan dan terus berjalan aku menuju tempat dimana orang-orang berbincang sambil menguyah mulutnya dengan gumpalan nasi, lauk pauk, maupun makanan lainnya. Melewati kuburan, pohon rindang, kebun tebu hingga tanjakkan jalan yang cukup terjal. Kelipan lampu berwarna kuning menghiasi jalan-jalan sekitar tempat pengisi perut manusia. Kelipannya seperti detak jantung. Satu… Dua… Satu… Dua… Begitulah ritme lampu kuning yang tergantung tinggi di perempatan jalan tersebut.

“Pesan apa mas?”
“Nasi mas”
“Pedas?”
“Ya”
“Oia, telurnya dipisah ya”
“Ya mas”

Sambil menganggukkan kepala juru masak tersebut. Tempat ini seperti ruang makan special, empat sekawan dengan wajah riang berbincang mengasikkan, seperti sedang bermain game portable. Disamping empat sekawan, sepasang suami-istri dan satu anaknya sedang bercanda gurau menanti pesanannya. Begitupula kedua pasangan dihadapan ku, sedang asik saling membalas suapan demi suapan sesendok nasi. Aku? tidak selebih dan sesempurna mereka, aku tetap terduduk sendiri terpojok menanti nasi goreng seraya memainkan handphone, karena memang itulah yang bisa menemani aku saat sedang sendiri dikeramaian. Tapi, bukan alasan ku untuk berhenti selalu menikmati hidup ini. Wuah, akhirnya pesananku telah selesai.

“Minumnya apa mas?”
“Oh, air putih saja mas”
Beralih pertanyaan itu ke pelanggan lain.
“Air es”
“Es teh”
“Teh susu”
“Susu hangat”
“Susu jahe”
“Jahe panas”
“Es jeruk”

Loh, loh, loh. Sampai bingung aku mendengar pesanan berentetetan itu, Seperti sedang dikejar kereta api. Seberapa mahirnya seorang pembuat minuman itu bisa melayani banyak orang dalam waktu sekejap. Ketekunan dan semangat tinggi demi mencari nafkah modal utama mereka. Sayang aku masih belum bisa setekun dan sesemangat seperti sang juru masak dan pembuat minuman itu.

“Sayang, besok kita nonton ya”
“Nonton apa?”
“Nonton film lah”
“Filmnya bukan udah ada?”
“Film apa?”
“Loh, kemarin kita lagi ngapain?”
“Oia, aku lupa”
“Tapi, itu kan cuman berapa menit?”
“Yasudah, besok lagi”
“Lagi apa?”
“Loh, seperti kemarin”
“He-He-He, jadi malu”
“Tapi lebih lama”
“Biar kamu gak minta nonton  film ke mall
“Huuu, dasar!”
“Tapi mau kan?”

Seraya senyum tersipu malu seorang gadis kepada pasangannya. Percakapan itu seakan-akan membawa aku kedalam trend pergaulan pasangan masa kini. Entah benar atau hanya sabotase. Huh, sudah, lebih baik aku menyuap makanan ku, sebelum dingin dan menjadi bubur. Sambil menikmati nasi goreng dengan rasa penuh ketekunan dan semangat ini, rasanya seperti terbangun dalam mimpi suram terjatuh ke dalam lembah penuh darah binatang. Seperti yang sebelum aku bilang, tempat ini seperti ruang makan special. Aku tidak akan bisa menutup kedua telinga ku untuk berhenti mendengarkan segala percakapan di ruang special ini. Kali ini percakapan dari empat sekawan yang bersebelahan dengan ku.

“Aduh, gila”
“Gila apanya?”
“Apa yang gila?”
“Siapa gila?”
Boy lihat dia tadi di kampus”
“Dia siapa?”
“Siapa?”
“Siapa dia?”
“Kirana boy, Kirana”
“Semakin hari, ia semakin seksi dan anggun boy
“Ah, kau cuman bisa mengkhayal”
“Betul itu”
“Mana bisa kamu dapatkan dia?”
“Huss, berkhayalkan boleh saja”
“Tidak bayar ini kan boy
“Makin gila kau dibuatnya”
“Betul itu”
“Sudahlah, kita omongin yang lain saja”

Seorang kawan yang tergila-gila dengan wanita yang bernama Kirana itu masih tampak tertenggun seraya memandang tisu-tisu di meja.

“Heh, kemarin aku dapat barang bagus”
“Kau dapat dimana?”
“Boleh itu”
“Kirana, oh, Kirana”
“Kampung Ngandek”
“Berapa?”
“Wah, asik donk”
“Satu papan men
“Kirana, Kirana, Kirana”
“Yasudah, habis ini kita bakar di kos”
“Ok, tancap gas men
“Betul itu”

Tiba-tiba kawan yang tergila-gila dengan wanita bernama Kirana terbangun dari lamunannya.

“Heh boy, lagi omongin apa boy?”
“Ah, kau ini”
“Wanita itu racun men
“Betul itu”
“Heh, boy aku kan cuman berkhayal”
“Kalian lagi ngomongin Kirana juga ya?”
“Ah, sudahlah”
“Sehabis makan kita mau bakar men
“Betul itu”
“Oh, bakar”
“Kalau gitu aku ikut, biar aku bisa terbang melayang bersama Kirana dimalam ini”
“Sudah gila kau”
Men-men
“Betul itu”

Tetap menikmati rasa bumbu khas dari nasi goreng ini. Percakapan empat sekawan itu seperti cerita dalam film-film pemuda belia dalam pergaulan metropolitan. Wanita dan bakar-membakar. Entah apa yang mereka bakar. Dedaunan kering atau mungkin sampah pencemar lingkungan semerbak mewangi. Andai saja kedua telinga ini hanya bisa mendengarkan yang baik-baik, mungkin obrolan yang buruk tidak akan ada dan tidak akan terpendam dikepala ku. Pendengaran kedua telinga ini beralih kearah sepasang suami-istri dan seorang anaknya. Seraya aku menikmati nasi goreng yang sudah setengah piring ini.

“Tadi di sekolah belajar apa nak?”
“Mengarang mah”
“Mengarang tentang apa?”
“Ya, pasti mengarang ceritalah pah”
“Bukan mah, bukan cerita”
“Terus apa?”
“Mengarang bebas mah”
“Bebas?”
“Ah, si mamah ini masa gak tau? kayak gak pernah sekolah saja”
“Pasti karangan cerita bebas ya de?”
“Ih, si papah juga gak nyambung”
“Loh, terus apa donk de?”
“Ya, mengarang bebas”
“Mengarang imajinasi, mengarang lukisan, mengarang ucapan, mengarang kesedihan, mengarang kesenangan, pokoknya bebas deh pah”
“Kata ibu guru, karangan bebas itu seperti membuat topeng, bermacam-macam aneka bentuk yang aneh dan unik”

Rintik hujan sepertinya sudah menghidupi bumi, atap seng-seng ruang makan special ini bergemuruh seraya digempur oleh batu dari langit. Mendengar percakap diantara anak dan orang tuanya, aku teringat masa-masa kecilku. Topeng, nasi goreng ini apakah bentuk dari sebuah topeng kehidupan? Ah, aku kira tidak. Ini hanya sebuah makanan penunda lapar saja. Kalau orang-orang yang menikmati nasi goreng ini mungkin memiliki topengnya sendiri-sendiri. Ya, aku setuju dengan yang itu. Hidup ini penuh dengan topeng.

NEGRI MIMPI TAPI ASLI part IV

“Lalu, apa yang kamu tangiskan?”

“Begini ceritanya, saat itu aku sedang berjalan ditengah, dikeramaian kota. Aku tidak tahu kejadian itu pagi, siang, senja, ataupun malam. Freedom… Freedom… Terdengar suara teriakan seperti itu. Awalnya aku pikir itu hanya demonstrasi biasa. Ah, paling-paling menuntut harga sembako turun. Seraya sambil berjalan dengan adik ku.”

“Apa yang menyedihkan?”
“Nanti kamu akan tahu”

Kembali, masrya melanjutkan cerita aneh itu, Membuat aku semakin penasaran. Rasanya, aku ingin berlama-lama berduaan bersama dia, mendengarkan, mengartikan, dan memahami kehidupannya. Seperti dalam novel-novel percintaan masa kini.

***
Tiba-tiba saja suara jeritan hati itu menghilang, dan aku tak tahu kemana perginya. Seperti tenggelam kepusaran bumi yang panas. Kiranya aku menyangka mereka sedang istirahat karena capai, terus berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar.

“Mba ayo ikut bersama kami!”
Sambil mengemgam dan mengborgol tangan kanan ku dan tangan kiri adik ku.

“Loh, saya ingin dibawa kemana pak?”
Adik ku saat itu sepertinya sangat ketakutan dan sempat menangis. Menangis ketakutan, karena trauma dengan aparat. Aparat yang keparat, sedikit-sedikit mendamprat.

Bruk, aku terjatuh dengan adik ku.
“Kita dimana lis?”
“Tempatnya dingin, lembab, serta penuh bercak darah ka”
Sambil menahan tangisan ketakutan.

“Hey, kamu berdua ikuti saya!”

Terdengar bunyi suara mesin ketik yang amuradul sedang mengintrograsi beberapa orang.
“Nama kamu siapa?”
“Siapa pak?”
“Kamu”
“Adik saya, atau saya pak?”
“Ya, kamu goblok!”
“Oh, Marsya pak”
“Marsya pak atau Marsya?”
“Marsya”
“Lalu adikmu?”
“Monalisa, pak”
“Pada saat kejadian kamu berada dimana?”
“Kejadian apa pak?”
“Loh, tadi kamu ngapain di jalan?”
“Oh, itu saya ingin beli susu pak”
“Pasti kamu tahukan apa yang dilakukan mereka”
“Ya, tahu pak”
“Mereka sedang apa?”
“Mana saya tahu pak”
“Loh, gimana?”
“Iya pak”
“Iya, apanya?”
“Ya, mana saya tahu mereka sedang apa?”
“Saya saja tidak bisa lihat pak”
“Maksudmu buta?”
“Iya pak”
“Nah, itu mata mu terbuka”
“Pak, orang buta memang harus tertutup matanya?”
“Ya.. Ya..”

Dialog intrograsi berganti arah kepada adik ku.
“Monalisa, apa yang kamu tahu tentang kejadian itu?”
“Tadi, ada yang berteriak-teriak pak”
“Mereka berteriak apa?”
“Lepaskan Leonardo dari jeruji, pak”

Tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri Monalisa, bunyi sepatunya terdengar sangat khas. Pletak.. Pletuk.. Pletak.. Pletuk... Mereka membawa monalisa ke sebuah ruangan, entah ruangan atau tempat apa? Aku tidak mengerti. kembali aku diintrograsi.

“Monalisa dibawa kemana pak?”
“Sudah! Jangan banyak tanya”
“Apa yang kamu dengar dari mereka?”
“Mereka siapa pak?”
“Mereka yang berteriak-teriak, goblok!”
“Oh, katanya freedom-freedom

***
Anehnya aku tidak dibawa oleh mereka. Mungkin mereka tidak suka menahan orang buta, atau mungkin orang buta bisa menyusahkan mereka, atau orang buta tidak akan tahu apa yang mereka perbuat. “Ujar Marsya”

“Lalu, Monalisa dimana?”
Sambil beteriak serta menangis tanpa air mata, ia mengusir ku.

“Aghhh….. sudah, kamu pergi saja”
“Aku ingin sendiri disini”
“Menunggu Monalisa kembali”

Aku tersentak melihat sikapnya. Padahal, aku ingin sekali menjadi hati di hatinya. Ya, kalau memang itu yang terbaik untuknya, apa boleh buat. Karena cinta memang tak harus memiliki. Huh, dasar negri mimpi. Semakin aneh, membuat orang semakin penasaran. Huh, negri mimpi tapi asli.

catatan:
- parfum casablank, pelesetan dari diodoran casablanca. karena saya suka dengan wanginya. hehehe..
- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^

Diingatkan Kembali

Sabtu, 25 Sepetember 2010

Pukul. 13.55 WIB

Saat itu saya sedang berada di kantor LEM FPSB UII, tepatnya di sebelah sudut selatan pelataran parkir mobil FPSB UII. Sambil tidur-tiduran dan memainkan hand phone, langit pada waktu itu masih cerah, dan sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda sekalipun kalau ada angin ribut berserta hujan. sekitar 5 menit kemudian, tiba-tiba saja angin yang tadinya bersahabat dengan saya, ia mengiur, melambai, serta mengelus dengan tenang berubah menjadi kencang seperti hembusan dari mulut.

“Huh, ngantuk lama-kelamaan saya disini.” (Dalam hati saya berbicara).

Oia, saya lupa ada bagian yang belum saya masukkan. Pada saat saya dikantor LEM anggota panitia pelaksana Makrab Psikologi yang sedang konsultasi dengan Fungsionasir LEM. Lanjut, kebagian berikutnya, pada pukul 14.00 WIB ada beberapa motor yang jatuh terkena angin ribut, terjatuh. Ooh, awalnya saya kira ini cuman hal yang biasa, angin kencang dan sepeda motor yang standarnya mungkin kurang kuat menahan. “Ujar saya”.

“Sudahlah, saya pulang dulu.”

Saya bercakap dengan seseorang disana, walaupun sepertinya tidak ada yang mendengar kepamitan saya, mungkin karena disana situasi sedang tidak kondusif . 5 sampai 10 orang sibuk membangunkan sepeda motor nya. Padahal saat itu motor yang jatuh tidak sama dengan jumlah orang yang sibuk.

“Kaya laut ya? Biru”

sambil bercanda saya mengatakan ucapan itu, seraya memakai sandal jepit. Seperti laut, karena di kantor saat itu keadaan cukup penuh dengan orang sekitar 20-26 orang berpakaian almamater UII. Maklum sedang konsultasi, semua panitia wajib datang.

Pukul 14.05 WIB

Berjalan dengan tenang sambil menikmati hembusan angin kencang ketika saya menuju pulang ke kos. Tak jauh melangkah dari kantor, saya bertemu dengan teman saya. Mas Arif namanya, saya memanggil ia mas. Ya, karena ia lebih tua dari saya, mas Arif salah satu mahasiswa Prodi Psikologi angkatan 2007.

“Eh, ada mas Arif”
“Minal aidin mas”
“Ya sama-sama man”
Seraya berjabat tangan saling memeluk layaknya seorang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.

“Habis konsultasi makrab man?”
“Ooh, gak mas”
“Cuman mampir ke kantor saja”
“Mas dari mana?”
“Dari lantai atas, ada acara”
Aduh, saya lupa lagi memasukan beberapa keterangan. Saya bertemu dengan mas Arif di area parkir Masjid Ulil Al’Bab.

“Mau kemana man?”
“Pulang ke kos mas”
“Oh, yaudah kalo gitu bareng saja”
“Mas ingin kemana?”
“Mas ingin ke rumah teman sih”

Pukul 14.10 WIB

Sambil mengambil motor, situasi keadaan saat itu bertambah aneh, langit yang tadinya terang, terlihat setengah bagian gelap dan seperti membentuk lengkukkan mata (di bagian yang terang). gerimis pun turun, angin semakin keras berhembus. Bruk, tiba-tiba saja pohon tumbang di dekat asrama UII. Saya menunda kepulangan saya ke kos, begitupula mas Arif. Kebetulan sekali pada waktu itu saya membawa kamera. Saya langsung menghampiri pohon tumbang yang pertama saya lihat, sebelumnya sebenarnya sudah ada pohon bambu yang tumbang di depan candi Pustakasala.

Hujan semakin deras disertai angin yang berhembus keras, saya menghentikkan sejenak pengabadian moment ini, berteduh di depan pintu masuk Masjid Ulil Al’Bab.

Selang 2 menit kemudian menyusul pohon tumbang persis di area dalam candi Pustakasala. Penasaran dan ingin sekali memotretnya tapi masih hujan deras dan angin keras. 5 menit kemudian tepatnya pukul 14.17 WIB pohon tumbang kembali saya lihat. Kali ini pohon deretan pos satpam boulevard UII.

Gerimis dan angin yang sesekali berhembus keras. Saya kembali menghampiri pohon-pohon yang tumbang tersebut dan mengabadikan moment.

Kalau saya bisa simpulkan kejadian ini seperti dalam kajian geografinya disebut dengan hujan frontal yaitu hujan yang terjadi apabila masa udara yang dingin bertemu dengan masa udara yang panas. Tempat pertemuan antara masa kedua itu disebut bidang front, karena lebih berat masa udara dingin berada dibawah disekitar bidang front.
sumber: http://id.m.wikiepedia.org/wiki/hujan

Sayangnya saya belum menguasai benar tentang ilmu alam, mohon dimaklumi kalau sedikit melenceng. Dari beberapa pohon tumbang yang saya lihat berjumlah 3, sedangkan pohon yang tidak saya lihat berjumlah sekitar 2 pohon. Jadi keseluruhan pohon tumbang sekitar 5.

Catatan:
Kalau kita melihat fenomena alam yang terjadi seperti ini, patutnya kita kembali menengok Al-Qur’an dan Hadistnya. disebutkan dalam surat Az-Zalzalah ayat: 1-5 Allah berfirman:

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya, ‘mengapa bumi begini?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.”

Sedangkan dalam Hadistnya, sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga seorang berjalan melewati kuburan orang lain, kemudian ia berkata ‘ah, seandainya aku berada di tempat itu’.” (Dalam Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Seperti apa yang difirmankan dalam Al-Qur’an dan Hadist, saya menjadi sangat bersyukur karena sampai detik ini saya masih diberikan nikmat yang berlimpah. Contoh: Andaikan saja saya tidak bertemu dengan teman saya, mungkin saya akan tertimpa pohon tumbang ketika pulang ke kos. Hanya selang beberapa menit saja pohon tumbang sudah menutupi sebagian jalan UII.

Patut kita sadari bahwa kejadian biasa dan fenomena sebenarnya tidak serta merta berawal dari kebetulan. Karena semua yang hidup diatas yang hidup memiliki sekenario masing-masing yang telah dibuat oleh sang Maha Agung yaitu Allah SWT.

Selang beberapa jam kemudian gunung kaliurang masih mengeluarkan asap larva, yang biasa disebut orang-orang sekitar sebagai wedus gembel.

Oleh:
Muhammad Iman Ramadhan.
Mahasiswa Komunikasi FPSB UII

NEGRI MIMPI TAPI ASLI part III

Kembali ku melangkahkan kaki, Demi kepuasan hati penasaran dengan negri ini, negri mimpi tapi asli. Seretan langkah mulai meninggalkan ruang hampa yang di dalamnya ada seorang ibu dengan jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki. Tak jauh ku melangkahkan kaki kudengar lagi suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki. Ternyata itu berasal dari kursi taman yang diduduki seorang wanita.

Bau parfumnya wangi, sepertinya aku mengenal bau parfum ini. Ya, ini semerbak wangi parfum casablank. Paras wajah wanita ini lugu, manis, dan anggun. Aku seperti melihat bidadari yang sedang bergelayunan di batang-batang serabut pohon beringin surga firdaus. Wuiihhh, akhirnya setelah jenuh melihat banyak fenomena aneh di negri ini, ternyata ada juga sinar-sinar rembulan malam hari.

Oohhh… tapi, kulihat wanita dengan parfum casablank itu menangis sambil memegang tisu yang dirobek-robeknya, ia seperti sedang merobek-robek isi perut lembu. Dengan langkah hati-hati aku menghampiri wanita semerbak parfum casablank itu. Kuberanikan diri duduk di sampingnya. Awalnya aku gugup berada disampingnya, perlahan-lahan aku menarik nafas lalu mengembuskannya melewati rongga-rongga mulut. Untuk menghilangkan rasa gugup, aku mulai menayakan sesuatu kepadanya.

“Kenapa kamu menangis?”

Wanita parfum casablank masih tetap menangis tersenduh-senduh. Aneh, serta bingung hatiku berbicara, tapi aku penasaran dengan wanita parfum casablank ini. Seperti tentara yang sedang dilempari mortir dan merentetkan peluru ke arah pemortir untuk meraih kemerdekaan di muka, aku kembali menayakannya dengan pertanyaan yang sama, tapi sedikit agak akrab.

“Hey, kenapa kamu menangis?”

Masih tetap sama sikap wanita parfum casablank itu. Aku menyebut ia wanita parfum casablank, karena aku belum tahu siapa nama panggilannya.

“Aku tahu kamu menangis”
“Tapi, aku tidak tahu kenapa kamu menangis?”

Tiba-tiba ia menanggapi ungkapan basa-basi ku.

“Kamu tidak perlu tahu”

Suaranya merdu seperti tembang lagu jazz dalam melodi blues.  Aku mulai terbuai ombak-ombak samudra dikala biru keemasan pada senja keemasan. Penuh misteri tanggapan wanita parfum casablank ini.

“Kalau begitu, aku boleh tahu siapa nama panggilanmu?”
“Panggil saja aku marsya”

Sambil tersendak-sendak ia menahan tangisan. Semakin terombang-ambing aku oleh ombak-ombak samudra biru keemasan pada senja keemasan, mendengar kembali suaranya dengan ungkapan kata panggilan namanya. Oohhh…. Marsya… Oohhh… Marsya… Seandainya kamu merasuki hatiku dan memainkan ayunan yang kosong itu seperti bidadari cahaya rembulan malam hari, pasti akan ku ayunkan ayunan itu setiap hari. Sepertinya aku tersengat lebah cinta. Kembali kutanyakan tentang apa yang dia tangiskan.

“Aku penasaran dengan tangisan mu”
“Buang saja penasaran mu ke tempat sampah itu”

Masih dengan nada yang menahan tangisan. Kali ini aku bukan hanya terombang-ambing. Aku semakin menggelora, seperti napoleon pada saat menaklukan badai lautan ditengah samudra malam.

“Aku  pungut kembali penasaran itu”
“Kamu tidak akan paham, dan tidak akan merasakan ini”

Dalam keadaan tertunduk paras wajah lugu, manis, dan anggun itu seolah-olah mengajak aku menyelami kehidupan yang sudah ia alami sebelumnya. Masa lalu ku panjang, aku seperti terseret ombak memasuki lorong labirin yang sesak dipenuhi rimbunan daun. Kisah-kisah hidup ku tidak sedih awal nya, tapi akhirnya menyedihkan.”Ujar si Marsya”.


#bergabung.... ^^



- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^

NEGRI MIMPI TAPI ASLI part II

Awalnya hanya penasaran dengan kabar itu, kabar tentang negri yang berada di balik gunung disebrang lautan api. Tapi setelah ditelusuri, ini negri mimpi tapi asli. Sebelumnya pada bagian pertama, negri mimpi menunjukkan banyak fenomena aneh, pada kali ini pula saya akan mencoba menceritakannya lebih menarik lagi.

Seretan kaki menelusuri negri yang berada di balik gunung disebrang lautan api, tiba-tiba ku dengar suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki.

“Kenapa ibu menangis sambil berteriak di ruang hampa ini?”
“Negri ini fana”
“Fana?”
“Sepi dan penuh dosa”
“Sepi?”
“Sepi, tak ada sosok pemberani pembawa kebenaran sesungguhnya”
“Memang sosok itu seperti apa?”
“Huh, sudah.. aku tak mau lagi berbicara dengan mu”

Masih dalam kondisi menangis sambil berteriak, Ibu itu berpindah tempat dari sudut pojok dikanan ruangan hampa itu. Ditengah, dibawah lampu bohlam yang menerangi tempat itu ia kembali berteriak sambil menangis, kali ini dengan teriakkan yang lebih keras.

“Kemana dia?”

Sambil mengesot perlahan aku menghampirinya. Kembali kutanyakan, tentang diskusi absurd yang sama sekali orang tidak memahami kemauannya.

“Dia siapa bu?”

Perlahan-lahan suara isak tangis ibu itu mereda, kepalanya sedikit menganga ke atas sambil melirik serong kekiri atas, lalu ia menceritakan sesosok pembawa kebenaran yang dulu pernah ada di negri mimpi. Dia seorang pemuda, wajahnya tegas, dadanya tegap seperti seorang tentara yang sedang latihan militer di gurun pasir. Namanya Ru’ud, dia salah satu pemuda pemberontak yang menentang segala kebijakan pemerintah. Dia seperti sesosok pahlawan dikala senja keemasan, penuh kepercayaan dan teguh pendirinya. Saya jadi ingat dengan perjuangannya, “ujar si ibu”.

***
Bisingan suara knalpot menghiasi keramaian sudut kota, mobil pembawa upeti menjadi bagian dari bisingan suara tersebut. Terdengar iring-iringan sirine polisi pengawal pembawa upeti menyingkirkan segala hiruk pikuk kemacetan yang terjadi saat itu. Tiga sampai empat mobil dan sepeda motor polisi menggiringnya. Disetiap lampu merah iring-iringan mobil pembawa upeti itu selalu melaju dengan cepat, dan menghiraukan segala aturan lampu lalu lintas. Tiba-tiba di perempatan terakhir sebelum tempat tujuan, iring-iringan mobil pembawa upeti itu terhenti seketika. Segerombolan berjubah hitam mencegat iring-iringan tersebut. Ru’ud yang memimpin segerombolan itu, sebelumnya ia sudah merencanakan perampokan itu yang menurutnya sebagai symbol  penentangan terhadap pemerintah.

“Cepat keluar dan bukakan gembok yang mengikat itu!”

Sambil mengancungkan senjata ke kepala sopir pembawa mobil upeti tersebut. Perlahan-lahan dengan wajah yang berlumuran keringat disertai suhu badan yang dingin, sopir mobil pembawa upeti itu keluar dari tempat mengemudinya. Tangan yang gemetaran serta langkah kaki yang terseok-seok, sopir mobil pembawa upeti itu menuju box besar yang dibawanya. Satu persatu kunci gembok dipilihnya dengan wajah ketakutan dan penuh kepanikan, peluru yang akan menyelongsong tepat di kepalanya bisa menyebabkan kematian dan hilang jiwanya.

“Cepat!”

Sambil menembakkan senjata ke bawah sebelah kanan sopir mobil pembawa upeti. Dengan segeranya sopir pembawa upeti membuka box tersebut. Bergegas teman-teman Ru’ud pun menyelipkan segepok tindihan uang untuk pembayaran gaji pejabat pemerintah ke dalam karung putih berukuran 50 kilogram.

***
Uang hasil rampokkannya dibagikan kepada seluruh kaum tertindas di negri mimpi, ujar si ibu sambil mengusap air mata yang membekas dipipinya.

“Lalu kemana dia sekarang bu?”
“Dia pergi meninggalkan kami disini”
“Pergi kemana?”
“Pergi ke negri nan indah tiada tergapai oleh manusia yang masih hidup sekarang”
“Mati maksudnya?”
Dengan teriakkan keras dan tangisan kembali ia mengatakan.
“Tidak, ia tidak mati!”
“Ia masih ada, tapi ia pergi ke negri nan indah disana, dan akan kembali ketika negri ini membutuhkan sesosok tokoh lagi”.

Sambil menghembuskan nafas, perlahan aku meninggalkan ibu yang sedang gundah gulana menanti kedatangan sesosok tokoh, pahlawan, ataupun pejuang. Keluar melewati pintu tua berukiran seni pahat tua aku melangkahkan kaki, dan masih pula aku mendengar suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki. Memang benar-benar menyedihkan negri ini, tidak percaya diri seperti berdiri satu kaki, menanti datangnya tokoh, pahlawan, atau pejuang. padahal bukan menanti tokoh, pahlawan, atau pejuang saat ini yang mesti dilakukan, tapi merubah sistem pemirikan negri ini.

“huff… Dasar negri mimpi tapi asli”



- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^

Untukmu

Saat ini aku hanya bisa menanggapi semua yang ada dihadapanku
Aku tidak berharap engkau membalasnya
Tapi aku berharap engkau bisa mengerti
Kenapa aku bersikap
Mengapa aku melakukannya
Bukan untuk membuat engkau menderita
Tapi hanya menjelaskan
Semua deskripsi tentang hati ku yang sedang ingin berandai
Apabila senja pun tak ku dapat
Mengapa tidak ku dapatkan dirimu?
Dan  itu bukan pelarian ku
Hanya saja kamu tahu apa yang aku mau
Dan kamu tahu yang aku rasakan
Kamu mengerti dan tidak menutupi itu
Tapi ada satu hal yang memutus jembatan itu
Teman, karena teman aku tetap pada posisi semula
Menanggapi dan bersikap
Dan juga bukan menyakiti hatimu yang berandai itu
Ada yang menyukaimu
Tapi, aku tidak bisa menutupi kesukaran itu
Karena aku tidak bisa menghianati janjiku
Untuk mengenalkan mu kepada nya

Bilik 13

Pulang pagi jam 01.30 wib, apakah itu yang menyebabkan saya melepas beban di hati dan pikiran. Pulang pagi, itu juga karena dikarenakan saya bermain di warnet dulu. Satu setengah jam berada di balik bilik nomor 13, rasa-rasanya seperti terkotak dalam dunia Neo Futuris. mata lima watt, pikiran penat, hati deras hujan, tapi saya hilangkan dengan bertemu teman-teman di dunia kotak ini. Entah mengapa, tiba-tiba saja pikiran saya paranoid, ini mungkin karena saya terlalu banyak berpikir dan tertimbun hal yang sukar. Suara itu... Suara itu.... Sepertinya saya mengenalinya. Dari mana suara itu berasal? Terus mencari, dan terus mendengarkan dengan samar-samar. Ternyata, itu suara si banteng merah bersama antek-anteknya.

saya curiga, kenapa ia bisa berada disini? Sejak kapan ia disini? Atau dia mengikuti ku sedari tadi? Ah, sudah. Mungkin si banteng merah dan antek-anteknya sedang ingin bermain dunia kotak ini. 30 menit, 40 menit, satu jam berlalu. Si banteng dan antek-anteknya masih berada di situ. Ada apa ini?

Pletak... Pletuk.. Pletak... Pletuk.... bunyi suara sepatu mengarah ke bilik 13. Dia melewati bilik ini, tapi bukan si banteng merah, melainkan antek-anteknya. Waduh, ini darurat! saya jadi ingat persoalan saya dengan si banteng merah. Si banteng merah, ia sukar memandang saya dengan tatapan sinis, tapi entah mengapa ia masih saja begitu. Ia juga salah satu antek-antek partai kaos bolong. Saya tahu dia nampak begitu sinis melihat sepak terjang saya di organ-organ itu. Saya juga tahu, ini salah satu resiko bermain politik di dalam organ-organ itu.

Saya jadi ingat cerita orang-orang tua di tahun 1965 hingga 1999. Kala itu, masih terjadi pencarian orang hilang dan penemuan mayat tidak ada identitasnya. Waduh, paranoid lagi saya mengingat cerita-cerita itu. Jangan-jangan ini cara-cara yang dipakai oleh antek-antek penculik pada masa itu? Ah, gila... jangan... saya belum mau mati, saya masih banyak hutang dan jemuran kutang.

Masih, masih, masih terdengar suara si banteng merah bersama antek-anteknya di depan kasir. Sambil tertawa dan canda gurau banteng merah dan antek-anteknya bersikap. Saya tahu, pasti ia ingin membawa saya ke pelataran rawa-rawa dan mengikat saya dengan tali lalu disekap dan dipukili hingga mati. Si banteng merah selalu sinis ketika saya menengahi pembicaraannya. Saya kurang paham dengan kesinisan si banteng merah, padahal saya tidak pernah bermaksud menyingung perasaan dia. Sah-sah saja kan kalau ada penyanggahan di forum, asal jangan dibawa ke ranah pribadi. Ah, gila... bunyi sepatu itu kembali lagi melewati bilik 13. Saya selalu mereka-reka. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ah, sudah. Saya tidak gentar kalau memang benar si banteng merah ingin merampas ideologi saya.

Didalam dunia Neo Futuris saya berbincang dengan sukab. Teman saya di kampus.

“kab, besok pagi kalau saya tidak muncul di kampus tolong kasih informasi ke sukab-sukab lainnya”
“ada apa ini?”
“sudah, lakukan saja”
“kau dimana?”

Tidak saya tanggapi lagi percakap yang terjadi di dunia kotak itu. Saya tidak ingin semua sukab tahu kalau saya sedang diincar si banteng merah dan antek-anteknya. Saya selalu beranggapan kalau setiap peramasalah lebih baik selesaikan dengan sendiri dulu, tapi kalau itu memang mendesak untuk saya tidak terselesaikan. Apa boleh buat. Log off. Begitu tulisan yang terpangpang di dunia kotak ini.

Bersandal, menenteng tas, mengenakan sweter gelap dengan kepala tertunduk saya keluar dari bilik 13 menuju kasir. Si banteng merah dan antek-anteknya sudah menunggu di balik pintu berkaca. Membayar sewa bilik 13 seraya saya menelpon sukab.

“kab, jangan lupa”
“kau dimana?”
Tut.. tut... tut... 

Keadilan adalah Sebuah Kesejahteraan

Aku adalah seorang manusia, makhluk yang sesungguhnya diciptakan sempurna dengan akal pikiran, tubuh  yang beguna, dan juga mempunyai hasrat yang lain dari pada makhluk  lainnya. Akan tetapi kenapa aku ini selalu tidak puas akan yang diberikan oleh-Nya? Kenapa? Dan mengapa? Aku ini seorang yang tidak akan tinggal diam menyaksikan kekuasaan yang menjadi peluru tajam yang menindas kesejahteraan rakyat. Kenapa? Dan mengapa? Lagi-lagi pertanyaan itu muncul di dalam benak otak ku ini yang tidak akan merasa puas akan segala-galanya.

Akupun mencari jawaban itu sendiri, aku menyulusuri sungai, gunung, pesisir pantai, keramai kota, dan disaat ku berada dalam keadaan senang maupun susah. Tapi itu semua hanya menjadi gambaran yang berada di benak otak ku ini, tidak akan menjadi penyelesaian yang sangat berarti di dalam kehidupan di dunia ini, karena dunia ini penuh dengan warna-warni dalam kehidupan yang di dalamnya hanya ada dua kata yang saling berlawanan (baik dan buruk, kaya dan miskin, dll). Kalaupun semua itu tidak ada di dalam kehidupan ini apa yang akan terjadi? Mahluk hidup tidak akan saling membutuhkan, tidak akan lagi ada surga dan neraka, siang dan malam, dan semua yang berhubungan dengan kehidupan ini. Tetapi aku masih bertanya-tanya akan sebuah kesejahteraan yang pernah di janjikan oleh tikus-tikus yang hanya mencari kedudukan semata.

Dimana adanya kesejahteraan? Kesejahteraan tidak akan pernah di dapat, karena semua itu bergantung pada para pemimpin kekuasaan yang menjadi tikus-tikus busuk. Akupun menyulusuri sungai yang menjadi saksi bisu akan sebuah kemelut yang hanya bisa terdiam dan menjadi korban dari perbuatan manusia yang tidak memperdulikan lingkungannya. Aku menyelusuri gunung yang hanya menjadi sebuah tempat yang tidak lazim untuk melakukan sebuah perbuatan dari kedua pasangan yang belum terikat akan sebuah perjanjian. Aku menyelusuri pesisir pantai yang kotor, kusam, busuk, dan bau. Aku menyelusuri keramaian kota, yang tidak memperdulikan orang yang berada di sekitarnya hanya karena mereka mempunyai urusan yang hanya duniawi saja. Dimana sebuah rasa peduli? Akankah ada? Semua itu hanya bergantung pada setiap manusia yang sadar akan lingkungan disekitarnya, tetapi tak sebatas kesadaran semata.

Keadilan menjadi salah satu keberhasilan dalam mencapai kesejahteraan. Tak heran kita melihat di seantero dunia bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan hidup yang tidak semata dari materi saja tetapi kebutuhan batin memiliki arti penting dalam menyesuaiankan dan menyeimbangkan kehidupan di dunia ini. Kesejahteraan adalah salah satu kebutuhan batin yang mencakup semua aspek psikologis dari manusia. Tak hanya manusia yang menginginkan sebuah kesejahteraan tetapi binatang, dan alam pun membutuhkan itu. Memang sebuah kesejahteraraan itu susah untuk dicapainya, banyak pisau-pisau yang melukai kesejahteraan.

Pisau-pisau yang semakin hari semakin tajam dan kita pun hanya terdiam melihat pisau-pisau yang melukai kesejahteraan itu menikam. Pisau-pisau kesejahteraan menjadi musuh besar yang menghancurkan harapan setiap manusia untuk menggapai kesejahteraan. Akupun mengartikan pisau-pisau itu adalah keterpurukan mental manusia, ketika aku melihat para pemimpin kekuasaan memiliki otoritas dan memanfaatkannya untuk sebuah kesempatan besar dalam meningkatkan rasa ketidak puasan. Ini adalah sebuah contoh dari sebuah keterpurukan mental dimana nafsu lebih didahulukan ketimbang memperjuangan kesejahteraan rakyatnya.

Manusia menganggap bahwa keadilan adalah pembagian yang sama rata, ya memang itu yang dibutuhkan. Akan tetapi akupun melihat bahwa keadilan yang saat ini menjadi sangat luas pengertiannya, keadilan yang pemahamannya adalah pembagian yang sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Aku menganggap bahwa keadilan hanya berpatokan pada sebuah pembagian yang harus memiliki penyesuaian yang proposional.  Sampai saat ini rasa keadilan hanya dimiliki oleh Allah SWT. Fenomena yang berkembang ketidak adilan memiliki sebab dan akibatnya. Sebab dari ketidak adilan merupakan manusia yang sesungguhnya sempurna, tetapi manusia itu sendiri yang  mengkotori kertas putih dengan tinta hitam yang di teteskan dengan sengaja. Dosa yang diperbuat dengan sengaja maupun tidak sengaja itu adalah tinta hitam, tipex yang menghapus setiap tinta hitam tersebut menjadi senjata utama yang perlu ujian dan cobaan untuk mendapatkannya.

Akibat yang dialami dari sebuah ketidak adilan merupakan sebuah awal kehancuran dari kesejahteraan, dimana titik awal yang didapat dari sebuah kesejahteraan adalah keadilan. Dan bahwa sesungguhnya islam mengajarkan kepada umatnya jalan yang terbaik untuk mencapai keadilan adalah jalan tengah yang harus ditempuh. Muslim yang sejati adalah muslim yang tidak memihak pada golongan tertentu. Dan semua itu ada pada rasa keadilan, dimana keadilan adalah sebuah kesejahteraan.

Manusia Penonton

Bunyi suara ambulance lalu-lalang menghiasi sepanjang jalan kaliurang, ini bukan parade ataupun festival hari ulang tahun. Lihat dan rasakan diatas sana sudah ada kepulan asap tebal menggulung diawan, ada apa ini? asap itu seperti asap dari kereta api tua. Bukan, itu bukan asap dari kereta api tua. Itu asap dari gunung merapi. Ah, gila.. gunung tua itu sedang merokok? Kalau itu sih sudah biasa. Dari tahun 1500 Masehi gunung itu sudah 70 kali mengeluarkan asap rokoknya, tapi kadang-kadang gunung itu juga sukar mengehempaskan api rokoknya.

Wajah-wajah itu terlihat mengkerut serta penuh dempulan hitam. Aku tiadak tahu kenapa dan mengapa wajah mereka seperti itu? Seketika aku melihat wajahku di cermin. Oh, ternyata wajahku sama seperti mereka, malah hingga pakaian ku juga ikut mengkerut dan penuh dempulan hitam. Bukan itu permasalahan semua dari gunung yang sedang merokok.

Mereka yang mengungsi ke posko-posko pengungsian telihat begitu cemas dan panik. Tidak hanya itu, tim relawan lalu-lalang menghibur para penonton dipinggir jalan. Manusia penonton, begitulah yang bisa kusimpulkan saat ini. ratusan hingga ribuan jejeran sepasang mata menerangi sepanjang jalan arah ke gunung merapi itu. Mereka terlihat sangat antusias melihat kepanikan dan kecemasan yang mondar-mandir menghiasi jalan. Hanya menonton dan memajang tubuh dipinggiran jalan. Entah apa yang mereka maksudkan? Tidak jelas dan tujuan mereka. Mungkin mereka takut di dalam rumah atau mereka ingin melihat parade suara sirine berkeliaran. Tidakkah para manusia penonton itu mengerjakan hal yang lebih penting? Malah aku melihat sebagian besar manusia penonton ini pergi menuju kejadian bencana ini.

Tidakkah mereka mempunyai rasa empati? Sekarang bukan hanya sekedar simpati, dan bukan sekedar eksistensi juga. Keresahan dan kecemasan dari para manusia penonton ini tidak menghasilkan banyak untuk mereka yang menjadi korban. Indonesia... Indonesia.... manusia penonton sudah menjadi tradisi di negara ini. setiap kejadian dan setiap tragedi kalau tidak ada manusia penonton, belum dikatakan hal yang sensasional. Kecelakaan, kericuhan, hingga bencana alam, manusia penonton selalu hadir dihadapan kita. Ini tidak bisa disalahkan, tapi ini bisa juga meresahkan. Meresahkan dalam arti kata, kehadiran manusia penonton ini membuat pengahalang bagi para dewa penyelamat. Manusia penonton sukar membuat kehambatan tertib lalu lintas. Mereka tidak mengetahui berapa banyak korban yang berjatuhan dan kehilangan keluarganya. Mereka juga tidak merasakan kecemasan dan kepanikkan korban. Lalu mengapa mereka tetap berdiri tegar dipinggir jalan? Kehebohan yang bombastis mereka menyaksikan bencana alam ini.

Ini kah yang disebut euforia? Bagiku mereka, manusia penonton sebenarnya juga panik, tetapi panik yang berlebihan. Apalagi untuk manusia penonton yang menghampiri lokasi bencana. Mereka hanya ingin melihat, menonton, melihat, menonton. Kalau saja mereka melakukan tindakan selain itu. Seperti, mengungsi dari lokasi bencana, kembali ke rumah mengumpulkan bantuan berupa sandang, pangan, papan, atau mereka juga menjadi dewa penyelamat. Huh, ini cuman harapanku saja. Tentunya mereka yang sadar dengan itu hanya beberapa kecil. Saya sempat mendengar selentingan percakapan dari manusia penonton.

“Mbah Marijan meninggal”
“Mbah Marijan menghilang”
“Bukan, Mbah Marijan sudah dibawah”
“Salah, dirumah Mbah Marijan ada korban tewas”

Seraya mereka sambil ribut mempersoalkan juru kunci gunung merapi dipinggir jalan. Adakah percakapan yang lebih berharga dari ini? kring... kring... kring.... suara handphone disertai getaran di kantong saku ku.

“Ya, halo”
“kamu dimana man?”
“Di lokasi”
“Kumpulkan teman-teman”
“Untuk?”
“Ya, jadi relawan”
Tut... Tut... Tut...