8 Des 2010

NEGRI MIMPI TAPI ASLI part II

Awalnya hanya penasaran dengan kabar itu, kabar tentang negri yang berada di balik gunung disebrang lautan api. Tapi setelah ditelusuri, ini negri mimpi tapi asli. Sebelumnya pada bagian pertama, negri mimpi menunjukkan banyak fenomena aneh, pada kali ini pula saya akan mencoba menceritakannya lebih menarik lagi.

Seretan kaki menelusuri negri yang berada di balik gunung disebrang lautan api, tiba-tiba ku dengar suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki.

“Kenapa ibu menangis sambil berteriak di ruang hampa ini?”
“Negri ini fana”
“Fana?”
“Sepi dan penuh dosa”
“Sepi?”
“Sepi, tak ada sosok pemberani pembawa kebenaran sesungguhnya”
“Memang sosok itu seperti apa?”
“Huh, sudah.. aku tak mau lagi berbicara dengan mu”

Masih dalam kondisi menangis sambil berteriak, Ibu itu berpindah tempat dari sudut pojok dikanan ruangan hampa itu. Ditengah, dibawah lampu bohlam yang menerangi tempat itu ia kembali berteriak sambil menangis, kali ini dengan teriakkan yang lebih keras.

“Kemana dia?”

Sambil mengesot perlahan aku menghampirinya. Kembali kutanyakan, tentang diskusi absurd yang sama sekali orang tidak memahami kemauannya.

“Dia siapa bu?”

Perlahan-lahan suara isak tangis ibu itu mereda, kepalanya sedikit menganga ke atas sambil melirik serong kekiri atas, lalu ia menceritakan sesosok pembawa kebenaran yang dulu pernah ada di negri mimpi. Dia seorang pemuda, wajahnya tegas, dadanya tegap seperti seorang tentara yang sedang latihan militer di gurun pasir. Namanya Ru’ud, dia salah satu pemuda pemberontak yang menentang segala kebijakan pemerintah. Dia seperti sesosok pahlawan dikala senja keemasan, penuh kepercayaan dan teguh pendirinya. Saya jadi ingat dengan perjuangannya, “ujar si ibu”.

***
Bisingan suara knalpot menghiasi keramaian sudut kota, mobil pembawa upeti menjadi bagian dari bisingan suara tersebut. Terdengar iring-iringan sirine polisi pengawal pembawa upeti menyingkirkan segala hiruk pikuk kemacetan yang terjadi saat itu. Tiga sampai empat mobil dan sepeda motor polisi menggiringnya. Disetiap lampu merah iring-iringan mobil pembawa upeti itu selalu melaju dengan cepat, dan menghiraukan segala aturan lampu lalu lintas. Tiba-tiba di perempatan terakhir sebelum tempat tujuan, iring-iringan mobil pembawa upeti itu terhenti seketika. Segerombolan berjubah hitam mencegat iring-iringan tersebut. Ru’ud yang memimpin segerombolan itu, sebelumnya ia sudah merencanakan perampokan itu yang menurutnya sebagai symbol  penentangan terhadap pemerintah.

“Cepat keluar dan bukakan gembok yang mengikat itu!”

Sambil mengancungkan senjata ke kepala sopir pembawa mobil upeti tersebut. Perlahan-lahan dengan wajah yang berlumuran keringat disertai suhu badan yang dingin, sopir mobil pembawa upeti itu keluar dari tempat mengemudinya. Tangan yang gemetaran serta langkah kaki yang terseok-seok, sopir mobil pembawa upeti itu menuju box besar yang dibawanya. Satu persatu kunci gembok dipilihnya dengan wajah ketakutan dan penuh kepanikan, peluru yang akan menyelongsong tepat di kepalanya bisa menyebabkan kematian dan hilang jiwanya.

“Cepat!”

Sambil menembakkan senjata ke bawah sebelah kanan sopir mobil pembawa upeti. Dengan segeranya sopir pembawa upeti membuka box tersebut. Bergegas teman-teman Ru’ud pun menyelipkan segepok tindihan uang untuk pembayaran gaji pejabat pemerintah ke dalam karung putih berukuran 50 kilogram.

***
Uang hasil rampokkannya dibagikan kepada seluruh kaum tertindas di negri mimpi, ujar si ibu sambil mengusap air mata yang membekas dipipinya.

“Lalu kemana dia sekarang bu?”
“Dia pergi meninggalkan kami disini”
“Pergi kemana?”
“Pergi ke negri nan indah tiada tergapai oleh manusia yang masih hidup sekarang”
“Mati maksudnya?”
Dengan teriakkan keras dan tangisan kembali ia mengatakan.
“Tidak, ia tidak mati!”
“Ia masih ada, tapi ia pergi ke negri nan indah disana, dan akan kembali ketika negri ini membutuhkan sesosok tokoh lagi”.

Sambil menghembuskan nafas, perlahan aku meninggalkan ibu yang sedang gundah gulana menanti kedatangan sesosok tokoh, pahlawan, ataupun pejuang. Keluar melewati pintu tua berukiran seni pahat tua aku melangkahkan kaki, dan masih pula aku mendengar suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki. Memang benar-benar menyedihkan negri ini, tidak percaya diri seperti berdiri satu kaki, menanti datangnya tokoh, pahlawan, atau pejuang. padahal bukan menanti tokoh, pahlawan, atau pejuang saat ini yang mesti dilakukan, tapi merubah sistem pemirikan negri ini.

“huff… Dasar negri mimpi tapi asli”



- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^

0 komentar:

Posting Komentar