Pulang pagi jam 01.30 wib, apakah itu yang menyebabkan saya melepas beban di hati dan pikiran. Pulang pagi, itu juga karena dikarenakan saya bermain di warnet dulu. Satu setengah jam berada di balik bilik nomor 13, rasa-rasanya seperti terkotak dalam dunia Neo Futuris. mata lima watt, pikiran penat, hati deras hujan, tapi saya hilangkan dengan bertemu teman-teman di dunia kotak ini. Entah mengapa, tiba-tiba saja pikiran saya paranoid, ini mungkin karena saya terlalu banyak berpikir dan tertimbun hal yang sukar. Suara itu... Suara itu.... Sepertinya saya mengenalinya. Dari mana suara itu berasal? Terus mencari, dan terus mendengarkan dengan samar-samar. Ternyata, itu suara si banteng merah bersama antek-anteknya.
saya curiga, kenapa ia bisa berada disini? Sejak kapan ia disini? Atau dia mengikuti ku sedari tadi? Ah, sudah. Mungkin si banteng merah dan antek-anteknya sedang ingin bermain dunia kotak ini. 30 menit, 40 menit, satu jam berlalu. Si banteng dan antek-anteknya masih berada di situ. Ada apa ini?
Pletak... Pletuk.. Pletak... Pletuk.... bunyi suara sepatu mengarah ke bilik 13. Dia melewati bilik ini, tapi bukan si banteng merah, melainkan antek-anteknya. Waduh, ini darurat! saya jadi ingat persoalan saya dengan si banteng merah. Si banteng merah, ia sukar memandang saya dengan tatapan sinis, tapi entah mengapa ia masih saja begitu. Ia juga salah satu antek-antek partai kaos bolong. Saya tahu dia nampak begitu sinis melihat sepak terjang saya di organ-organ itu. Saya juga tahu, ini salah satu resiko bermain politik di dalam organ-organ itu.
Saya jadi ingat cerita orang-orang tua di tahun 1965 hingga 1999. Kala itu, masih terjadi pencarian orang hilang dan penemuan mayat tidak ada identitasnya. Waduh, paranoid lagi saya mengingat cerita-cerita itu. Jangan-jangan ini cara-cara yang dipakai oleh antek-antek penculik pada masa itu? Ah, gila... jangan... saya belum mau mati, saya masih banyak hutang dan jemuran kutang.
Masih, masih, masih terdengar suara si banteng merah bersama antek-anteknya di depan kasir. Sambil tertawa dan canda gurau banteng merah dan antek-anteknya bersikap. Saya tahu, pasti ia ingin membawa saya ke pelataran rawa-rawa dan mengikat saya dengan tali lalu disekap dan dipukili hingga mati. Si banteng merah selalu sinis ketika saya menengahi pembicaraannya. Saya kurang paham dengan kesinisan si banteng merah, padahal saya tidak pernah bermaksud menyingung perasaan dia. Sah-sah saja kan kalau ada penyanggahan di forum, asal jangan dibawa ke ranah pribadi. Ah, gila... bunyi sepatu itu kembali lagi melewati bilik 13. Saya selalu mereka-reka. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ah, sudah. Saya tidak gentar kalau memang benar si banteng merah ingin merampas ideologi saya.
Didalam dunia Neo Futuris saya berbincang dengan sukab. Teman saya di kampus.
“kab, besok pagi kalau saya tidak muncul di kampus tolong kasih informasi ke sukab-sukab lainnya”
“ada apa ini?”
“sudah, lakukan saja”
“kau dimana?”
Tidak saya tanggapi lagi percakap yang terjadi di dunia kotak itu. Saya tidak ingin semua sukab tahu kalau saya sedang diincar si banteng merah dan antek-anteknya. Saya selalu beranggapan kalau setiap peramasalah lebih baik selesaikan dengan sendiri dulu, tapi kalau itu memang mendesak untuk saya tidak terselesaikan. Apa boleh buat. Log off. Begitu tulisan yang terpangpang di dunia kotak ini.
Bersandal, menenteng tas, mengenakan sweter gelap dengan kepala tertunduk saya keluar dari bilik 13 menuju kasir. Si banteng merah dan antek-anteknya sudah menunggu di balik pintu berkaca. Membayar sewa bilik 13 seraya saya menelpon sukab.
“kab, jangan lupa”
“kau dimana?”
Tut.. tut... tut...
0 komentar:
Posting Komentar