“Lalu, apa yang kamu tangiskan?”
“Begini ceritanya, saat itu aku sedang berjalan ditengah, dikeramaian kota. Aku tidak tahu kejadian itu pagi, siang, senja, ataupun malam. Freedom… Freedom… Terdengar suara teriakan seperti itu. Awalnya aku pikir itu hanya demonstrasi biasa. Ah, paling-paling menuntut harga sembako turun. Seraya sambil berjalan dengan adik ku.”
“Apa yang menyedihkan?”
“Nanti kamu akan tahu”
Kembali, masrya melanjutkan cerita aneh itu, Membuat aku semakin penasaran. Rasanya, aku ingin berlama-lama berduaan bersama dia, mendengarkan, mengartikan, dan memahami kehidupannya. Seperti dalam novel-novel percintaan masa kini.
***
Tiba-tiba saja suara jeritan hati itu menghilang, dan aku tak tahu kemana perginya. Seperti tenggelam kepusaran bumi yang panas. Kiranya aku menyangka mereka sedang istirahat karena capai, terus berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar.
“Mba ayo ikut bersama kami!”
Sambil mengemgam dan mengborgol tangan kanan ku dan tangan kiri adik ku.
“Loh, saya ingin dibawa kemana pak?”
Adik ku saat itu sepertinya sangat ketakutan dan sempat menangis. Menangis ketakutan, karena trauma dengan aparat. Aparat yang keparat, sedikit-sedikit mendamprat.
Bruk, aku terjatuh dengan adik ku.
“Kita dimana lis?”
“Tempatnya dingin, lembab, serta penuh bercak darah ka”
Sambil menahan tangisan ketakutan.
“Hey, kamu berdua ikuti saya!”
Terdengar bunyi suara mesin ketik yang amuradul sedang mengintrograsi beberapa orang.
“Nama kamu siapa?”
“Siapa pak?”
“Kamu”
“Adik saya, atau saya pak?”
“Ya, kamu goblok!”
“Oh, Marsya pak”
“Marsya pak atau Marsya?”
“Marsya”
“Lalu adikmu?”
“Monalisa, pak”
“Pada saat kejadian kamu berada dimana?”
“Kejadian apa pak?”
“Loh, tadi kamu ngapain di jalan?”
“Oh, itu saya ingin beli susu pak”
“Pasti kamu tahukan apa yang dilakukan mereka”
“Ya, tahu pak”
“Mereka sedang apa?”
“Mana saya tahu pak”
“Loh, gimana?”
“Iya pak”
“Iya, apanya?”
“Ya, mana saya tahu mereka sedang apa?”
“Saya saja tidak bisa lihat pak”
“Maksudmu buta?”
“Iya pak”
“Nah, itu mata mu terbuka”
“Pak, orang buta memang harus tertutup matanya?”
“Ya.. Ya..”
Dialog intrograsi berganti arah kepada adik ku.
“Monalisa, apa yang kamu tahu tentang kejadian itu?”
“Tadi, ada yang berteriak-teriak pak”
“Mereka berteriak apa?”
“Lepaskan Leonardo dari jeruji, pak”
Tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri Monalisa, bunyi sepatunya terdengar sangat khas. Pletak.. Pletuk.. Pletak.. Pletuk... Mereka membawa monalisa ke sebuah ruangan, entah ruangan atau tempat apa? Aku tidak mengerti. kembali aku diintrograsi.
“Monalisa dibawa kemana pak?”
“Sudah! Jangan banyak tanya”
“Apa yang kamu dengar dari mereka?”
“Mereka siapa pak?”
“Mereka yang berteriak-teriak, goblok!”
“Oh, katanya freedom-freedom”
***
Anehnya aku tidak dibawa oleh mereka. Mungkin mereka tidak suka menahan orang buta, atau mungkin orang buta bisa menyusahkan mereka, atau orang buta tidak akan tahu apa yang mereka perbuat. “Ujar Marsya”
“Lalu, Monalisa dimana?”
Sambil beteriak serta menangis tanpa air mata, ia mengusir ku.
“Aghhh….. sudah, kamu pergi saja”
“Aku ingin sendiri disini”
“Menunggu Monalisa kembali”
Aku tersentak melihat sikapnya. Padahal, aku ingin sekali menjadi hati di hatinya. Ya, kalau memang itu yang terbaik untuknya, apa boleh buat. Karena cinta memang tak harus memiliki. Huh, dasar negri mimpi. Semakin aneh, membuat orang semakin penasaran. Huh, negri mimpi tapi asli.
catatan:
- parfum casablank, pelesetan dari diodoran casablanca. karena saya suka dengan wanginya. hehehe..
- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^
“Begini ceritanya, saat itu aku sedang berjalan ditengah, dikeramaian kota. Aku tidak tahu kejadian itu pagi, siang, senja, ataupun malam. Freedom… Freedom… Terdengar suara teriakan seperti itu. Awalnya aku pikir itu hanya demonstrasi biasa. Ah, paling-paling menuntut harga sembako turun. Seraya sambil berjalan dengan adik ku.”
“Apa yang menyedihkan?”
“Nanti kamu akan tahu”
Kembali, masrya melanjutkan cerita aneh itu, Membuat aku semakin penasaran. Rasanya, aku ingin berlama-lama berduaan bersama dia, mendengarkan, mengartikan, dan memahami kehidupannya. Seperti dalam novel-novel percintaan masa kini.
***
Tiba-tiba saja suara jeritan hati itu menghilang, dan aku tak tahu kemana perginya. Seperti tenggelam kepusaran bumi yang panas. Kiranya aku menyangka mereka sedang istirahat karena capai, terus berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar.
“Mba ayo ikut bersama kami!”
Sambil mengemgam dan mengborgol tangan kanan ku dan tangan kiri adik ku.
“Loh, saya ingin dibawa kemana pak?”
Adik ku saat itu sepertinya sangat ketakutan dan sempat menangis. Menangis ketakutan, karena trauma dengan aparat. Aparat yang keparat, sedikit-sedikit mendamprat.
Bruk, aku terjatuh dengan adik ku.
“Kita dimana lis?”
“Tempatnya dingin, lembab, serta penuh bercak darah ka”
Sambil menahan tangisan ketakutan.
“Hey, kamu berdua ikuti saya!”
Terdengar bunyi suara mesin ketik yang amuradul sedang mengintrograsi beberapa orang.
“Nama kamu siapa?”
“Siapa pak?”
“Kamu”
“Adik saya, atau saya pak?”
“Ya, kamu goblok!”
“Oh, Marsya pak”
“Marsya pak atau Marsya?”
“Marsya”
“Lalu adikmu?”
“Monalisa, pak”
“Pada saat kejadian kamu berada dimana?”
“Kejadian apa pak?”
“Loh, tadi kamu ngapain di jalan?”
“Oh, itu saya ingin beli susu pak”
“Pasti kamu tahukan apa yang dilakukan mereka”
“Ya, tahu pak”
“Mereka sedang apa?”
“Mana saya tahu pak”
“Loh, gimana?”
“Iya pak”
“Iya, apanya?”
“Ya, mana saya tahu mereka sedang apa?”
“Saya saja tidak bisa lihat pak”
“Maksudmu buta?”
“Iya pak”
“Nah, itu mata mu terbuka”
“Pak, orang buta memang harus tertutup matanya?”
“Ya.. Ya..”
Dialog intrograsi berganti arah kepada adik ku.
“Monalisa, apa yang kamu tahu tentang kejadian itu?”
“Tadi, ada yang berteriak-teriak pak”
“Mereka berteriak apa?”
“Lepaskan Leonardo dari jeruji, pak”
Tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri Monalisa, bunyi sepatunya terdengar sangat khas. Pletak.. Pletuk.. Pletak.. Pletuk... Mereka membawa monalisa ke sebuah ruangan, entah ruangan atau tempat apa? Aku tidak mengerti. kembali aku diintrograsi.
“Monalisa dibawa kemana pak?”
“Sudah! Jangan banyak tanya”
“Apa yang kamu dengar dari mereka?”
“Mereka siapa pak?”
“Mereka yang berteriak-teriak, goblok!”
“Oh, katanya freedom-freedom”
***
Anehnya aku tidak dibawa oleh mereka. Mungkin mereka tidak suka menahan orang buta, atau mungkin orang buta bisa menyusahkan mereka, atau orang buta tidak akan tahu apa yang mereka perbuat. “Ujar Marsya”
“Lalu, Monalisa dimana?”
Sambil beteriak serta menangis tanpa air mata, ia mengusir ku.
“Aghhh….. sudah, kamu pergi saja”
“Aku ingin sendiri disini”
“Menunggu Monalisa kembali”
Aku tersentak melihat sikapnya. Padahal, aku ingin sekali menjadi hati di hatinya. Ya, kalau memang itu yang terbaik untuknya, apa boleh buat. Karena cinta memang tak harus memiliki. Huh, dasar negri mimpi. Semakin aneh, membuat orang semakin penasaran. Huh, negri mimpi tapi asli.
catatan:
- parfum casablank, pelesetan dari diodoran casablanca. karena saya suka dengan wanginya. hehehe..
- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^
0 komentar:
Posting Komentar