Malam itu bulan besinar tidak sebulat pada malam sebelumnya. Angin yang berhembus memberikan tanda-tanda kalau malam itu akan ada tetesan air dari langit. Berjalan dan terus berjalan aku menuju tempat dimana orang-orang berbincang sambil menguyah mulutnya dengan gumpalan nasi, lauk pauk, maupun makanan lainnya. Melewati kuburan, pohon rindang, kebun tebu hingga tanjakkan jalan yang cukup terjal. Kelipan lampu berwarna kuning menghiasi jalan-jalan sekitar tempat pengisi perut manusia. Kelipannya seperti detak jantung. Satu… Dua… Satu… Dua… Begitulah ritme lampu kuning yang tergantung tinggi di perempatan jalan tersebut.
“Pesan apa mas?”
“Nasi mas”
“Pedas?”
“Ya”
“Oia, telurnya dipisah ya”
“Ya mas”
Sambil menganggukkan kepala juru masak tersebut. Tempat ini seperti ruang makan special, empat sekawan dengan wajah riang berbincang mengasikkan, seperti sedang bermain game portable. Disamping empat sekawan, sepasang suami-istri dan satu anaknya sedang bercanda gurau menanti pesanannya. Begitupula kedua pasangan dihadapan ku, sedang asik saling membalas suapan demi suapan sesendok nasi. Aku? tidak selebih dan sesempurna mereka, aku tetap terduduk sendiri terpojok menanti nasi goreng seraya memainkan handphone, karena memang itulah yang bisa menemani aku saat sedang sendiri dikeramaian. Tapi, bukan alasan ku untuk berhenti selalu menikmati hidup ini. Wuah, akhirnya pesananku telah selesai.
“Minumnya apa mas?”
“Oh, air putih saja mas”
Beralih pertanyaan itu ke pelanggan lain.
“Air es”
“Es teh”
“Teh susu”
“Susu hangat”
“Susu jahe”
“Jahe panas”
“Es jeruk”
Loh, loh, loh. Sampai bingung aku mendengar pesanan berentetetan itu, Seperti sedang dikejar kereta api. Seberapa mahirnya seorang pembuat minuman itu bisa melayani banyak orang dalam waktu sekejap. Ketekunan dan semangat tinggi demi mencari nafkah modal utama mereka. Sayang aku masih belum bisa setekun dan sesemangat seperti sang juru masak dan pembuat minuman itu.
“Sayang, besok kita nonton ya”
“Nonton apa?”
“Nonton film lah”
“Filmnya bukan udah ada?”
“Film apa?”
“Loh, kemarin kita lagi ngapain?”
“Oia, aku lupa”
“Tapi, itu kan cuman berapa menit?”
“Yasudah, besok lagi”
“Lagi apa?”
“Loh, seperti kemarin”
“He-He-He, jadi malu”
“Tapi lebih lama”
“Biar kamu gak minta nonton film ke mall”
“Huuu, dasar!”
“Tapi mau kan?”
Seraya senyum tersipu malu seorang gadis kepada pasangannya. Percakapan itu seakan-akan membawa aku kedalam trend pergaulan pasangan masa kini. Entah benar atau hanya sabotase. Huh, sudah, lebih baik aku menyuap makanan ku, sebelum dingin dan menjadi bubur. Sambil menikmati nasi goreng dengan rasa penuh ketekunan dan semangat ini, rasanya seperti terbangun dalam mimpi suram terjatuh ke dalam lembah penuh darah binatang. Seperti yang sebelum aku bilang, tempat ini seperti ruang makan special. Aku tidak akan bisa menutup kedua telinga ku untuk berhenti mendengarkan segala percakapan di ruang special ini. Kali ini percakapan dari empat sekawan yang bersebelahan dengan ku.
“Aduh, gila”
“Gila apanya?”
“Apa yang gila?”
“Siapa gila?”
“Boy lihat dia tadi di kampus”
“Dia siapa?”
“Siapa?”
“Siapa dia?”
“Kirana boy, Kirana”
“Semakin hari, ia semakin seksi dan anggun boy”
“Ah, kau cuman bisa mengkhayal”
“Betul itu”
“Mana bisa kamu dapatkan dia?”
“Huss, berkhayalkan boleh saja”
“Tidak bayar ini kan boy”
“Makin gila kau dibuatnya”
“Betul itu”
“Sudahlah, kita omongin yang lain saja”
Seorang kawan yang tergila-gila dengan wanita yang bernama Kirana itu masih tampak tertenggun seraya memandang tisu-tisu di meja.
“Heh, kemarin aku dapat barang bagus”
“Kau dapat dimana?”
“Boleh itu”
“Kirana, oh, Kirana”
“Kampung Ngandek”
“Berapa?”
“Wah, asik donk”
“Satu papan men”
“Kirana, Kirana, Kirana”
“Yasudah, habis ini kita bakar di kos”
“Ok, tancap gas men”
“Betul itu”
Tiba-tiba kawan yang tergila-gila dengan wanita bernama Kirana terbangun dari lamunannya.
“Heh boy, lagi omongin apa boy?”
“Ah, kau ini”
“Wanita itu racun men”
“Betul itu”
“Heh, boy aku kan cuman berkhayal”
“Kalian lagi ngomongin Kirana juga ya?”
“Ah, sudahlah”
“Sehabis makan kita mau bakar men”
“Betul itu”
“Oh, bakar”
“Kalau gitu aku ikut, biar aku bisa terbang melayang bersama Kirana dimalam ini”
“Sudah gila kau”
“Men-men”
“Betul itu”
Tetap menikmati rasa bumbu khas dari nasi goreng ini. Percakapan empat sekawan itu seperti cerita dalam film-film pemuda belia dalam pergaulan metropolitan. Wanita dan bakar-membakar. Entah apa yang mereka bakar. Dedaunan kering atau mungkin sampah pencemar lingkungan semerbak mewangi. Andai saja kedua telinga ini hanya bisa mendengarkan yang baik-baik, mungkin obrolan yang buruk tidak akan ada dan tidak akan terpendam dikepala ku. Pendengaran kedua telinga ini beralih kearah sepasang suami-istri dan seorang anaknya. Seraya aku menikmati nasi goreng yang sudah setengah piring ini.
“Tadi di sekolah belajar apa nak?”
“Mengarang mah”
“Mengarang tentang apa?”
“Ya, pasti mengarang ceritalah pah”
“Bukan mah, bukan cerita”
“Terus apa?”
“Mengarang bebas mah”
“Bebas?”
“Ah, si mamah ini masa gak tau? kayak gak pernah sekolah saja”
“Pasti karangan cerita bebas ya de?”
“Ih, si papah juga gak nyambung”
“Loh, terus apa donk de?”
“Ya, mengarang bebas”
“Mengarang imajinasi, mengarang lukisan, mengarang ucapan, mengarang kesedihan, mengarang kesenangan, pokoknya bebas deh pah”
“Kata ibu guru, karangan bebas itu seperti membuat topeng, bermacam-macam aneka bentuk yang aneh dan unik”
Rintik hujan sepertinya sudah menghidupi bumi, atap seng-seng ruang makan special ini bergemuruh seraya digempur oleh batu dari langit. Mendengar percakap diantara anak dan orang tuanya, aku teringat masa-masa kecilku. Topeng, nasi goreng ini apakah bentuk dari sebuah topeng kehidupan? Ah, aku kira tidak. Ini hanya sebuah makanan penunda lapar saja. Kalau orang-orang yang menikmati nasi goreng ini mungkin memiliki topengnya sendiri-sendiri. Ya, aku setuju dengan yang itu. Hidup ini penuh dengan topeng.
0 komentar:
Posting Komentar