Kembali ku melangkahkan kaki, Demi kepuasan hati penasaran dengan negri ini, negri mimpi tapi asli. Seretan langkah mulai meninggalkan ruang hampa yang di dalamnya ada seorang ibu dengan jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki. Tak jauh ku melangkahkan kaki kudengar lagi suara jeritan hati, gaduh, serta penuh caci maki. Ternyata itu berasal dari kursi taman yang diduduki seorang wanita.
Bau parfumnya wangi, sepertinya aku mengenal bau parfum ini. Ya, ini semerbak wangi parfum casablank. Paras wajah wanita ini lugu, manis, dan anggun. Aku seperti melihat bidadari yang sedang bergelayunan di batang-batang serabut pohon beringin surga firdaus. Wuiihhh, akhirnya setelah jenuh melihat banyak fenomena aneh di negri ini, ternyata ada juga sinar-sinar rembulan malam hari.
Oohhh… tapi, kulihat wanita dengan parfum casablank itu menangis sambil memegang tisu yang dirobek-robeknya, ia seperti sedang merobek-robek isi perut lembu. Dengan langkah hati-hati aku menghampiri wanita semerbak parfum casablank itu. Kuberanikan diri duduk di sampingnya. Awalnya aku gugup berada disampingnya, perlahan-lahan aku menarik nafas lalu mengembuskannya melewati rongga-rongga mulut. Untuk menghilangkan rasa gugup, aku mulai menayakan sesuatu kepadanya.
“Kenapa kamu menangis?”
Wanita parfum casablank masih tetap menangis tersenduh-senduh. Aneh, serta bingung hatiku berbicara, tapi aku penasaran dengan wanita parfum casablank ini. Seperti tentara yang sedang dilempari mortir dan merentetkan peluru ke arah pemortir untuk meraih kemerdekaan di muka, aku kembali menayakannya dengan pertanyaan yang sama, tapi sedikit agak akrab.
“Hey, kenapa kamu menangis?”
Masih tetap sama sikap wanita parfum casablank itu. Aku menyebut ia wanita parfum casablank, karena aku belum tahu siapa nama panggilannya.
“Aku tahu kamu menangis”
“Tapi, aku tidak tahu kenapa kamu menangis?”
Tiba-tiba ia menanggapi ungkapan basa-basi ku.
“Kamu tidak perlu tahu”
Suaranya merdu seperti tembang lagu jazz dalam melodi blues. Aku mulai terbuai ombak-ombak samudra dikala biru keemasan pada senja keemasan. Penuh misteri tanggapan wanita parfum casablank ini.
“Kalau begitu, aku boleh tahu siapa nama panggilanmu?”
“Panggil saja aku marsya”
Sambil tersendak-sendak ia menahan tangisan. Semakin terombang-ambing aku oleh ombak-ombak samudra biru keemasan pada senja keemasan, mendengar kembali suaranya dengan ungkapan kata panggilan namanya. Oohhh…. Marsya… Oohhh… Marsya… Seandainya kamu merasuki hatiku dan memainkan ayunan yang kosong itu seperti bidadari cahaya rembulan malam hari, pasti akan ku ayunkan ayunan itu setiap hari. Sepertinya aku tersengat lebah cinta. Kembali kutanyakan tentang apa yang dia tangiskan.
“Aku penasaran dengan tangisan mu”
“Buang saja penasaran mu ke tempat sampah itu”
Masih dengan nada yang menahan tangisan. Kali ini aku bukan hanya terombang-ambing. Aku semakin menggelora, seperti napoleon pada saat menaklukan badai lautan ditengah samudra malam.
“Aku pungut kembali penasaran itu”
“Kamu tidak akan paham, dan tidak akan merasakan ini”
Dalam keadaan tertunduk paras wajah lugu, manis, dan anggun itu seolah-olah mengajak aku menyelami kehidupan yang sudah ia alami sebelumnya. Masa lalu ku panjang, aku seperti terseret ombak memasuki lorong labirin yang sesak dipenuhi rimbunan daun. Kisah-kisah hidup ku tidak sedih awal nya, tapi akhirnya menyedihkan.”Ujar si Marsya”.
#bergabung.... ^^
- apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan.
- kritik dan saran mohon kirim ke no ini 085717xxxxx
- sekali lagi.. peace.... ^^
0 komentar:
Posting Komentar