8 Des 2010

Manusia Penonton

Bunyi suara ambulance lalu-lalang menghiasi sepanjang jalan kaliurang, ini bukan parade ataupun festival hari ulang tahun. Lihat dan rasakan diatas sana sudah ada kepulan asap tebal menggulung diawan, ada apa ini? asap itu seperti asap dari kereta api tua. Bukan, itu bukan asap dari kereta api tua. Itu asap dari gunung merapi. Ah, gila.. gunung tua itu sedang merokok? Kalau itu sih sudah biasa. Dari tahun 1500 Masehi gunung itu sudah 70 kali mengeluarkan asap rokoknya, tapi kadang-kadang gunung itu juga sukar mengehempaskan api rokoknya.

Wajah-wajah itu terlihat mengkerut serta penuh dempulan hitam. Aku tiadak tahu kenapa dan mengapa wajah mereka seperti itu? Seketika aku melihat wajahku di cermin. Oh, ternyata wajahku sama seperti mereka, malah hingga pakaian ku juga ikut mengkerut dan penuh dempulan hitam. Bukan itu permasalahan semua dari gunung yang sedang merokok.

Mereka yang mengungsi ke posko-posko pengungsian telihat begitu cemas dan panik. Tidak hanya itu, tim relawan lalu-lalang menghibur para penonton dipinggir jalan. Manusia penonton, begitulah yang bisa kusimpulkan saat ini. ratusan hingga ribuan jejeran sepasang mata menerangi sepanjang jalan arah ke gunung merapi itu. Mereka terlihat sangat antusias melihat kepanikan dan kecemasan yang mondar-mandir menghiasi jalan. Hanya menonton dan memajang tubuh dipinggiran jalan. Entah apa yang mereka maksudkan? Tidak jelas dan tujuan mereka. Mungkin mereka takut di dalam rumah atau mereka ingin melihat parade suara sirine berkeliaran. Tidakkah para manusia penonton itu mengerjakan hal yang lebih penting? Malah aku melihat sebagian besar manusia penonton ini pergi menuju kejadian bencana ini.

Tidakkah mereka mempunyai rasa empati? Sekarang bukan hanya sekedar simpati, dan bukan sekedar eksistensi juga. Keresahan dan kecemasan dari para manusia penonton ini tidak menghasilkan banyak untuk mereka yang menjadi korban. Indonesia... Indonesia.... manusia penonton sudah menjadi tradisi di negara ini. setiap kejadian dan setiap tragedi kalau tidak ada manusia penonton, belum dikatakan hal yang sensasional. Kecelakaan, kericuhan, hingga bencana alam, manusia penonton selalu hadir dihadapan kita. Ini tidak bisa disalahkan, tapi ini bisa juga meresahkan. Meresahkan dalam arti kata, kehadiran manusia penonton ini membuat pengahalang bagi para dewa penyelamat. Manusia penonton sukar membuat kehambatan tertib lalu lintas. Mereka tidak mengetahui berapa banyak korban yang berjatuhan dan kehilangan keluarganya. Mereka juga tidak merasakan kecemasan dan kepanikkan korban. Lalu mengapa mereka tetap berdiri tegar dipinggir jalan? Kehebohan yang bombastis mereka menyaksikan bencana alam ini.

Ini kah yang disebut euforia? Bagiku mereka, manusia penonton sebenarnya juga panik, tetapi panik yang berlebihan. Apalagi untuk manusia penonton yang menghampiri lokasi bencana. Mereka hanya ingin melihat, menonton, melihat, menonton. Kalau saja mereka melakukan tindakan selain itu. Seperti, mengungsi dari lokasi bencana, kembali ke rumah mengumpulkan bantuan berupa sandang, pangan, papan, atau mereka juga menjadi dewa penyelamat. Huh, ini cuman harapanku saja. Tentunya mereka yang sadar dengan itu hanya beberapa kecil. Saya sempat mendengar selentingan percakapan dari manusia penonton.

“Mbah Marijan meninggal”
“Mbah Marijan menghilang”
“Bukan, Mbah Marijan sudah dibawah”
“Salah, dirumah Mbah Marijan ada korban tewas”

Seraya mereka sambil ribut mempersoalkan juru kunci gunung merapi dipinggir jalan. Adakah percakapan yang lebih berharga dari ini? kring... kring... kring.... suara handphone disertai getaran di kantong saku ku.

“Ya, halo”
“kamu dimana man?”
“Di lokasi”
“Kumpulkan teman-teman”
“Untuk?”
“Ya, jadi relawan”
Tut... Tut... Tut...


0 komentar:

Posting Komentar