Adalah social movements yang diprakarsai oleh kedua mahasiswa semester akhir. Kurangnya ruang dan pendekatan apresiasi-aspirasi dari setiap individu dirasa kini semakin menipis. Jogja Karya Total Video (J.K.T video) mempersembahkan sebuah gerakan independent untuk melawan segala kebijakan social yang dirasa kurang seimbang. Program ini akan terus berlangsung jika atensi dan perkembangan manusiswa alias manusia mahasiswa dapat terus melek dengan lingkungan sekitar terkhusus pada lingkup sosial Akademik dan Organisasi. Program ini akan dilaksanakan pada akhir Maret 2012, yang dimulai dari kampus Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Come & Join teman..!
Bentuk Karya:
Akan dibuka stand rekam video yang bertema 'Expreesion ExploARTion'. Setiap individu manusiswa berhak mengeksplorasi ekspresinya, mulai dari; ber-puisi, berprosa, orasi, pantonim, musikalisasi puisi, freestyle, dan semua yang berhubungan dengan presepsi/keluh kesah manusiswa tentang lingkup sosial kampusnya, yang jelas ini bukan ajang audisi boyband/girlband. Kami tidak menerima manusiswa yang ingin bernyayi. Terima kasih.
Hasil Karya: Video (belum ditentukan durasinya)
Waktu: 12.00 -13.00 & 15.30 -17.00 WIB (setiap hari pelakasanaannya)
Tanggal: 27 - 29 Maret 2012
Waktu: 12.00 -13.00 & 15.30 -17.00 WIB (setiap hari pelakasanaannya)
Tanggal: 27 - 29 Maret 2012
Tempat: Hall Pelataran Gedung Perpustakaan Lama UII.
Follow Up:
Ramuan video yang sudah diedit menjadi satu karya akan di tampilkan dalam pemutaran sederhana. Jika kami memiliki dana yang berkecukupan video ini akan dibekukan kedalam kepingan CD dan dibagikan kepada peserta.
Created by: M Iman Ramadhan & Ancol Marley
_________________________________________________________________________________
STOP SENIORITAS
Masa
liburan sekolah sudah hampir usai. Para mahasiswa-mahasiswi baru kini mulai
berbenah diri menghadapi masa baru. Ya, Universitas, dan perkuliahan. Masa-masa
perpindahan dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke Universitas (Perkuliahan) akan
menjadi sangat penting jika kita soroti. Transisi ini juga seringkali
menjangkit angkatan-angkatan lama yang memberikan tradisi penyambutan secara
sporagis. Sejatinya, para angkatan-angkatan lama ini memberi nama penyambutan
itu dengan OSPEK, saya kurang paham dengan akronim ini. Maklum, semenjak SMA
saya tidak pernah mengikuti kegiatan sejenis ini. Para Mahasiswa Baru dan Mahasiswi Baru (MABA-MIBA),
dianjurkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Alih-alih mengenalkan lingkungan
kampus, fasilitas, kultur akademik, mengikat jalinan pertemanan, tempa mental,
atau apalah. Yang jelas kegiatan ini mesti makan biaya buanyak.
Biar bagaimanapun perdebatan
tentang OSPEK ini tidak memberikan titik terang yang pasti “penting atau tidak
kegiatan itu dilaksanakan?”. Ah.. sudah
saya tidak mau panjang lebar. Demi menjaga estabilitas penyambutan
MABA-MIBA (opotoh?), maka saya
mengajak para mahasiswa-mahasiswi baru untuk tidak terpengaruh dengan penyakit
senioritas ini. Ups.. saya belum
menjelaskan apa hubungan senioritas dengan OSPEK.
Oke. Terkait hubungan
senioritas dengan OSPEK, mesti kita perhatikan secara hati-hati. Seringkali OSPEK
menjadi ajang unjuk gigi bagi para angkatan-angkatan lama (senioritas) sebut
saja. Itu menjadi sangat menjijikan bagi saya. Lebih-lebih, tak jarang kita
melihat para senioritas menyerukan MABA-MIBA untuk berbaris (layak tentara) dan dijemur dibawah
terik matahari, lalu digiring selayaknya anak-anak ayam yang baru menetas. Selain itu, OSPEK juga identik
dengan tindakan bullying yang
dilakukan oleh para kakak angkatan (senior) kepada MABA-MIBA (junior). Ada yang
dilakukan secara berlebihan hingga mengakibatkan cedera fisik. Namun ada juga
yang dilakukan dengan tingkatan yang masih bisa ditolerir. Apapun dampaknya,
cerita maupun pengalaman selama mengikuti OSPEK tersebut pada akhirnya menjadi
pengalaman tersendiri bagi peserta dan panitia. Ugh.. It’s useless.
Secara sadar memang perlakuan tersebut tidak ada gunanya, dan hanya sebagai ajang narsis dan pengakuan ‘bahwa yang lama mesti dihormati dan yang baru mesti menghormati’ (tidak seimbang). Budaya-budaya semacam itu jadi kejanggalan dan traumatik tersendiri bagi MABA-MIBA, jika diawal sudah dihadapkan dengan kegiatan basi tersebut. Hmm.. saya bukan ingin memboikot acara ospek. Meski demikian saya akan memberikan sikap ihwal SENIORITAS, yang sangat menjijikan dan sangat menjenuhkan. Mari satukan nyali! STOP SENIORITAS!
Bentuk Gerakan: Rahasia donk! | Waktu: Ada deh! | Tempat: Ruang yang cukup strategis.
Secara sadar memang perlakuan tersebut tidak ada gunanya, dan hanya sebagai ajang narsis dan pengakuan ‘bahwa yang lama mesti dihormati dan yang baru mesti menghormati’ (tidak seimbang). Budaya-budaya semacam itu jadi kejanggalan dan traumatik tersendiri bagi MABA-MIBA, jika diawal sudah dihadapkan dengan kegiatan basi tersebut. Hmm.. saya bukan ingin memboikot acara ospek. Meski demikian saya akan memberikan sikap ihwal SENIORITAS, yang sangat menjijikan dan sangat menjenuhkan. Mari satukan nyali! STOP SENIORITAS!
Bentuk Gerakan: Rahasia donk! | Waktu: Ada deh! | Tempat: Ruang yang cukup strategis.



