8 Des 2010

AKU DAN AKU

Malam itu bulan tidak sebulat ia menyinari bumi, bintang yang dengan malu-malunya, muncul samar-samar di balik awan malam yang menyelimuti. Ini bukan cerita tentang sebuah roman ataupun novel yang akan diterbitkan, cerita tentang seorang penulis yang menuliskan tinta diatas kertas putih yang terpacu karena deadline tugas. Mencoba menuliskan tentang jalan-jalan kehidupan dunia si penulis, saat ia mulai mengetahui apa yang belum ia ketahui, cerita tentang masa-masa transisinya ketika ia banyak mengalami perjalanan hidupnya. Mulai dari cinta, keluarga, hingga kegelisahan ia terhadap fenomena duniawi.

Saat umur 11 tahun, ketika itu aku masih mengenakan seragam celana merah berserta baju yang berwarna putih. Saat umur 11 tahun bukan awal hidupku, saat umur itu  aku masih polos, ingusan, dan manja. Saat umur itu juga aku mulai menyukai seseorang yang tentunya berlawanan jenis dariku, hanya sekedar menyukai dan belum tahu apa arti cinta dan sayang. Beranjak remaja, umur ku bertambah genap menjadi 14 tahun, saat itu pula benih-benih cinta mulai tumbuh dan saat itu juga aku memiliki cinta pertama ku yang biasa orang bilang “cinta monyet”. Tak berlangsung lama jalinan kasih sayang itu tumbuh. Hingga mencapai umur 17 tahun aku sudah berulang kali menjalin kasih sayang, tapi hasilnya tetap sama “disakiti dan menyakiti”. Di masa umur 17 tahun pula, aku mulai mengerti apa arti cinta. cinta yang merupakan “ekspresi hati yang sulit dideskripsikan dalam sebuah perasaan mendalam karena adanya perhatian terhadap suatu objek yang memiliki hubungan diantara ke-duanya”. begitulah kesimpulan yang dapat aku ambil setelah mengalami perjalanan cinta berulang kali, dan saat ini aku masih berusaha untuk mencintai Allah SWT dan keluarga terlebih dahulu.

Bapak yang berasal dari Kalimantan Selatan dan Ibu dari Jawa Barat, sungguh perbedaan suku yang tidak mudah untuk menyatukannya. Aku yang terlahir sebagai anak ke-enam, sebelum adik ku yang berumur 1 setengah tahun  meninggal, dan kakak ku yang pertama juga ikut menyusul kepergian adik ku ke negri indah disana. Sekarang dan untuk selanjutnya aku menjadi anak terakhir dari 5 bersaudara yang awalnya 7 bersaudara. Tak terlalu mewah dan tak terlalu mengenaskan tempat tinggal ku, yang berjarak 50 meter dari mesjid berdiri tegak. Rumah yang sangat istimewa tentunya bagiku dan keluargaku. Ada selentingan kalimat yang sering aku dengar “belajarlah menjadi orang yang bertanggung jawab” ujar bapak ku. sampai sekarang kalimat tersebut masih terpendam di dalam hatiku dan pikiran ku. belajar dan terus belajar untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab itulah amanah yang aku simpan sampai saat ini.

Masa-masa transisi, begitulah manusia sewajarnya. Proses melewati proses aku jalani dalam usia ku yang sudah cukup dibilang dewasa. Kegelisahan ku mulai memuncak ketika aku memasuki masa kuliah. Awal pertama kuliah, aku seperti memasuki lorong labirin yang gelap dan penuh pertanyaan-pertanyaan mendasar. Kesadaran mulai muncul ketika itu. Kesadaran akan kepekaan memandang dan mendeskripsikan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Organisasi sewaktu itu yang membuatku mulai bergerak menjelajahi lorong labirin yang gelap tersebut. Tidak sampai di organisasi pula, aku mulai merambah dunia imajinasi dan kepekaan ku dalam buku. Pertama aku mulai membaca buku sebenarnya sudah mulai sejak SMA, akan tetapi masa kuliahlah yang membangkitkan ku menerapkan hasil bacaan ku. Sempat aku mengingat tokoh revolusioner terkenal bernama Ernesto Che Guevara, ia salah satu tokoh yang aku idolakan, dan tak lupa juga dengan kalimat terkenalnya “Hasta la Victoria siempre” yang artinya berjuang menuju kemenangan selamanya. Bukan saja kalimat khas itu, Che Guevara juga meninggalkan wasiat yang menjadi inspirasi aku “Pengorbanan kita adalah dengan kesadaran sepenuhnya, yakni sebagai ongkos bagi kemerdekaan yang kita bangun. Jalan kita sangat panjang, dan sebagian kita malah tidak diketahui, kita sadar akan keterbatasan diri. Kita akan mendukung orang-orang abad 21, yakni kita sendiri”. Sifat keras dan teguh pendiriannya membuat jantung ku berdetak kencang, seperti mengayuhkan sepeda berkilo-kilometer. Semangat dan kesadaran yang tinggi menggambarkan jiwa seorang pemuda yang haus akan kebenaran yang sesungguhnya. Tidak kalah penting tokoh dalam negri yang aku kagumi yaitu almarhum Ir. Soekarno, tentunya bangsa Indonesia sudah tahu tentang beliau apalagi dengan kalimat khas nya “Bangkit melawan, atau tunduk tertindas”. Ini juga menjadi penyemangat kesadaran ku, dan tak kalah penting juga aku menyukai kalimat “aku tidak dapat dan tidak ingin menunggang kuda berkaki tiga”. banyak sekali kalimat inspirasi yang aku jadikan kiblat berpikir, tentunya tidak dapat seluruhnya aku sebutkan satu persatu. Seperti, “Lebih baik diasingkan dari pada menjadi bagian dari kemunafikkan” (Soe Hok Gie), “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa” (Milan Kundera), “Orang-orang harus dibangunkan, kesaksian harus diberikan agar kehidupan tetap terjaga” (Ws. Rendra), dan terakhir pandangan pemikiran yang mungkin terasa nyata pada saat ini yaitu pandangan pemikiran dari Khalil Gibran “Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofinya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal ban dan tukang tiru, kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi”.

Begitulah sekilas tentang perjalanan hidup sang penulis dan inspirasi-inpirasinya.

0 komentar:

Posting Komentar