8 Des 2010

Diingatkan Kembali

Sabtu, 25 Sepetember 2010

Pukul. 13.55 WIB

Saat itu saya sedang berada di kantor LEM FPSB UII, tepatnya di sebelah sudut selatan pelataran parkir mobil FPSB UII. Sambil tidur-tiduran dan memainkan hand phone, langit pada waktu itu masih cerah, dan sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda sekalipun kalau ada angin ribut berserta hujan. sekitar 5 menit kemudian, tiba-tiba saja angin yang tadinya bersahabat dengan saya, ia mengiur, melambai, serta mengelus dengan tenang berubah menjadi kencang seperti hembusan dari mulut.

“Huh, ngantuk lama-kelamaan saya disini.” (Dalam hati saya berbicara).

Oia, saya lupa ada bagian yang belum saya masukkan. Pada saat saya dikantor LEM anggota panitia pelaksana Makrab Psikologi yang sedang konsultasi dengan Fungsionasir LEM. Lanjut, kebagian berikutnya, pada pukul 14.00 WIB ada beberapa motor yang jatuh terkena angin ribut, terjatuh. Ooh, awalnya saya kira ini cuman hal yang biasa, angin kencang dan sepeda motor yang standarnya mungkin kurang kuat menahan. “Ujar saya”.

“Sudahlah, saya pulang dulu.”

Saya bercakap dengan seseorang disana, walaupun sepertinya tidak ada yang mendengar kepamitan saya, mungkin karena disana situasi sedang tidak kondusif . 5 sampai 10 orang sibuk membangunkan sepeda motor nya. Padahal saat itu motor yang jatuh tidak sama dengan jumlah orang yang sibuk.

“Kaya laut ya? Biru”

sambil bercanda saya mengatakan ucapan itu, seraya memakai sandal jepit. Seperti laut, karena di kantor saat itu keadaan cukup penuh dengan orang sekitar 20-26 orang berpakaian almamater UII. Maklum sedang konsultasi, semua panitia wajib datang.

Pukul 14.05 WIB

Berjalan dengan tenang sambil menikmati hembusan angin kencang ketika saya menuju pulang ke kos. Tak jauh melangkah dari kantor, saya bertemu dengan teman saya. Mas Arif namanya, saya memanggil ia mas. Ya, karena ia lebih tua dari saya, mas Arif salah satu mahasiswa Prodi Psikologi angkatan 2007.

“Eh, ada mas Arif”
“Minal aidin mas”
“Ya sama-sama man”
Seraya berjabat tangan saling memeluk layaknya seorang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.

“Habis konsultasi makrab man?”
“Ooh, gak mas”
“Cuman mampir ke kantor saja”
“Mas dari mana?”
“Dari lantai atas, ada acara”
Aduh, saya lupa lagi memasukan beberapa keterangan. Saya bertemu dengan mas Arif di area parkir Masjid Ulil Al’Bab.

“Mau kemana man?”
“Pulang ke kos mas”
“Oh, yaudah kalo gitu bareng saja”
“Mas ingin kemana?”
“Mas ingin ke rumah teman sih”

Pukul 14.10 WIB

Sambil mengambil motor, situasi keadaan saat itu bertambah aneh, langit yang tadinya terang, terlihat setengah bagian gelap dan seperti membentuk lengkukkan mata (di bagian yang terang). gerimis pun turun, angin semakin keras berhembus. Bruk, tiba-tiba saja pohon tumbang di dekat asrama UII. Saya menunda kepulangan saya ke kos, begitupula mas Arif. Kebetulan sekali pada waktu itu saya membawa kamera. Saya langsung menghampiri pohon tumbang yang pertama saya lihat, sebelumnya sebenarnya sudah ada pohon bambu yang tumbang di depan candi Pustakasala.

Hujan semakin deras disertai angin yang berhembus keras, saya menghentikkan sejenak pengabadian moment ini, berteduh di depan pintu masuk Masjid Ulil Al’Bab.

Selang 2 menit kemudian menyusul pohon tumbang persis di area dalam candi Pustakasala. Penasaran dan ingin sekali memotretnya tapi masih hujan deras dan angin keras. 5 menit kemudian tepatnya pukul 14.17 WIB pohon tumbang kembali saya lihat. Kali ini pohon deretan pos satpam boulevard UII.

Gerimis dan angin yang sesekali berhembus keras. Saya kembali menghampiri pohon-pohon yang tumbang tersebut dan mengabadikan moment.

Kalau saya bisa simpulkan kejadian ini seperti dalam kajian geografinya disebut dengan hujan frontal yaitu hujan yang terjadi apabila masa udara yang dingin bertemu dengan masa udara yang panas. Tempat pertemuan antara masa kedua itu disebut bidang front, karena lebih berat masa udara dingin berada dibawah disekitar bidang front.
sumber: http://id.m.wikiepedia.org/wiki/hujan

Sayangnya saya belum menguasai benar tentang ilmu alam, mohon dimaklumi kalau sedikit melenceng. Dari beberapa pohon tumbang yang saya lihat berjumlah 3, sedangkan pohon yang tidak saya lihat berjumlah sekitar 2 pohon. Jadi keseluruhan pohon tumbang sekitar 5.

Catatan:
Kalau kita melihat fenomena alam yang terjadi seperti ini, patutnya kita kembali menengok Al-Qur’an dan Hadistnya. disebutkan dalam surat Az-Zalzalah ayat: 1-5 Allah berfirman:

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya, ‘mengapa bumi begini?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.”

Sedangkan dalam Hadistnya, sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga seorang berjalan melewati kuburan orang lain, kemudian ia berkata ‘ah, seandainya aku berada di tempat itu’.” (Dalam Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Seperti apa yang difirmankan dalam Al-Qur’an dan Hadist, saya menjadi sangat bersyukur karena sampai detik ini saya masih diberikan nikmat yang berlimpah. Contoh: Andaikan saja saya tidak bertemu dengan teman saya, mungkin saya akan tertimpa pohon tumbang ketika pulang ke kos. Hanya selang beberapa menit saja pohon tumbang sudah menutupi sebagian jalan UII.

Patut kita sadari bahwa kejadian biasa dan fenomena sebenarnya tidak serta merta berawal dari kebetulan. Karena semua yang hidup diatas yang hidup memiliki sekenario masing-masing yang telah dibuat oleh sang Maha Agung yaitu Allah SWT.

Selang beberapa jam kemudian gunung kaliurang masih mengeluarkan asap larva, yang biasa disebut orang-orang sekitar sebagai wedus gembel.

Oleh:
Muhammad Iman Ramadhan.
Mahasiswa Komunikasi FPSB UII

0 komentar:

Posting Komentar