8 Des 2010

Keadilan adalah Sebuah Kesejahteraan

Aku adalah seorang manusia, makhluk yang sesungguhnya diciptakan sempurna dengan akal pikiran, tubuh  yang beguna, dan juga mempunyai hasrat yang lain dari pada makhluk  lainnya. Akan tetapi kenapa aku ini selalu tidak puas akan yang diberikan oleh-Nya? Kenapa? Dan mengapa? Aku ini seorang yang tidak akan tinggal diam menyaksikan kekuasaan yang menjadi peluru tajam yang menindas kesejahteraan rakyat. Kenapa? Dan mengapa? Lagi-lagi pertanyaan itu muncul di dalam benak otak ku ini yang tidak akan merasa puas akan segala-galanya.

Akupun mencari jawaban itu sendiri, aku menyulusuri sungai, gunung, pesisir pantai, keramai kota, dan disaat ku berada dalam keadaan senang maupun susah. Tapi itu semua hanya menjadi gambaran yang berada di benak otak ku ini, tidak akan menjadi penyelesaian yang sangat berarti di dalam kehidupan di dunia ini, karena dunia ini penuh dengan warna-warni dalam kehidupan yang di dalamnya hanya ada dua kata yang saling berlawanan (baik dan buruk, kaya dan miskin, dll). Kalaupun semua itu tidak ada di dalam kehidupan ini apa yang akan terjadi? Mahluk hidup tidak akan saling membutuhkan, tidak akan lagi ada surga dan neraka, siang dan malam, dan semua yang berhubungan dengan kehidupan ini. Tetapi aku masih bertanya-tanya akan sebuah kesejahteraan yang pernah di janjikan oleh tikus-tikus yang hanya mencari kedudukan semata.

Dimana adanya kesejahteraan? Kesejahteraan tidak akan pernah di dapat, karena semua itu bergantung pada para pemimpin kekuasaan yang menjadi tikus-tikus busuk. Akupun menyulusuri sungai yang menjadi saksi bisu akan sebuah kemelut yang hanya bisa terdiam dan menjadi korban dari perbuatan manusia yang tidak memperdulikan lingkungannya. Aku menyelusuri gunung yang hanya menjadi sebuah tempat yang tidak lazim untuk melakukan sebuah perbuatan dari kedua pasangan yang belum terikat akan sebuah perjanjian. Aku menyelusuri pesisir pantai yang kotor, kusam, busuk, dan bau. Aku menyelusuri keramaian kota, yang tidak memperdulikan orang yang berada di sekitarnya hanya karena mereka mempunyai urusan yang hanya duniawi saja. Dimana sebuah rasa peduli? Akankah ada? Semua itu hanya bergantung pada setiap manusia yang sadar akan lingkungan disekitarnya, tetapi tak sebatas kesadaran semata.

Keadilan menjadi salah satu keberhasilan dalam mencapai kesejahteraan. Tak heran kita melihat di seantero dunia bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan hidup yang tidak semata dari materi saja tetapi kebutuhan batin memiliki arti penting dalam menyesuaiankan dan menyeimbangkan kehidupan di dunia ini. Kesejahteraan adalah salah satu kebutuhan batin yang mencakup semua aspek psikologis dari manusia. Tak hanya manusia yang menginginkan sebuah kesejahteraan tetapi binatang, dan alam pun membutuhkan itu. Memang sebuah kesejahteraraan itu susah untuk dicapainya, banyak pisau-pisau yang melukai kesejahteraan.

Pisau-pisau yang semakin hari semakin tajam dan kita pun hanya terdiam melihat pisau-pisau yang melukai kesejahteraan itu menikam. Pisau-pisau kesejahteraan menjadi musuh besar yang menghancurkan harapan setiap manusia untuk menggapai kesejahteraan. Akupun mengartikan pisau-pisau itu adalah keterpurukan mental manusia, ketika aku melihat para pemimpin kekuasaan memiliki otoritas dan memanfaatkannya untuk sebuah kesempatan besar dalam meningkatkan rasa ketidak puasan. Ini adalah sebuah contoh dari sebuah keterpurukan mental dimana nafsu lebih didahulukan ketimbang memperjuangan kesejahteraan rakyatnya.

Manusia menganggap bahwa keadilan adalah pembagian yang sama rata, ya memang itu yang dibutuhkan. Akan tetapi akupun melihat bahwa keadilan yang saat ini menjadi sangat luas pengertiannya, keadilan yang pemahamannya adalah pembagian yang sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Aku menganggap bahwa keadilan hanya berpatokan pada sebuah pembagian yang harus memiliki penyesuaian yang proposional.  Sampai saat ini rasa keadilan hanya dimiliki oleh Allah SWT. Fenomena yang berkembang ketidak adilan memiliki sebab dan akibatnya. Sebab dari ketidak adilan merupakan manusia yang sesungguhnya sempurna, tetapi manusia itu sendiri yang  mengkotori kertas putih dengan tinta hitam yang di teteskan dengan sengaja. Dosa yang diperbuat dengan sengaja maupun tidak sengaja itu adalah tinta hitam, tipex yang menghapus setiap tinta hitam tersebut menjadi senjata utama yang perlu ujian dan cobaan untuk mendapatkannya.

Akibat yang dialami dari sebuah ketidak adilan merupakan sebuah awal kehancuran dari kesejahteraan, dimana titik awal yang didapat dari sebuah kesejahteraan adalah keadilan. Dan bahwa sesungguhnya islam mengajarkan kepada umatnya jalan yang terbaik untuk mencapai keadilan adalah jalan tengah yang harus ditempuh. Muslim yang sejati adalah muslim yang tidak memihak pada golongan tertentu. Dan semua itu ada pada rasa keadilan, dimana keadilan adalah sebuah kesejahteraan.

0 komentar:

Posting Komentar