
Film memiliki
ruang-ruang misteri yang memerlukan energi untuk lebih jauh mengantarkan visi,
pesan, dan kesan di dalamnya. Ketika perkembangan teknologi telah mencapai
titik kemapanan, maka sebuah medium pun semakin meluas, film adalah salah
satunya. Bela Balazs, seorang kritikus film kenamaan yang banyak menulis
artikel sejak tahun ‘60an, pernah mengatakan
“Biar bagaimanapun, film adalah cerminan suatu bangsa, film atau video
adalah suatu cabang kesenian yang lahir karena perkembangan teknologi”. Bukan
hanya persoalan teknologi, film juga sudah banyak memberikan sumbangsi besar
terhadap pembentukkan pola hidup manusia. Mulai dari; pola pikir, budaya, politik,
ekonomi, dan agama. Kita mengetahui bahwa sebuah film terlahir bukan karena
tidak memiliki alegori sosial. Seperti apa yang dikatakan Balazs cermin suatu
bangsa terlahir berkat film itu, setiap negara pastinya memiliki cara pandang
tersendiri mengenai misteri yang ada di dalam film.
Film mungkin anugerah terbesar yang
pernah dimiliki oleh manusia. Semua orang merasa kisah hidupnya terwakili lewat
film. Kemahiran sang sutradara dalam mendalangi sebuah sekenario merupakan
senjatanya. Dalam medium polesemik ini memang bukan lagi sebagai hal yang
dianggap baru. Kita tidak akan berbicara tentang posisi film itu di mata
manusia masa kini. Saya akan membahas bagaimana film merepresentasikan gender
di setiap mise en scene-nya.
Beberapa film yang telah saya
kategorikan sudah tersusun rapih, tapi tampaknya saya terpikat oleh gaya
bertutur film Iran. Maka saya putuskan untuk membuat sebuah resensi ini untuk
film A Separation. A Separation
merupakan film yang jeli menangkap kegelisahan dan permasalahan keluarga kelas
menengah di Iran. Asghar Farhadi pernah menunjukkan ini dengan sangat subtil di
Wednesday Fireworks (2006). Namun, di Wednesday Fireworks,
masalah hanya muncul di kelas menengah. Sedangkan kelas bawah yang sedang
berjuang memenuhi kebutuhan dasar, malah bisa menikmati hidup dan
kebahagian-kebahagian kecil yang terjadi. Di A Separation, Asghar tak
lagi selunak itu. Kali ini, ia menampilkan kedua kelas ekonomi ini sama-sama
bermasalah. Ketika keduanya berbenturan, mereka akan mencapai ujung resolusi
atau titik klimaks yang lebih tinggi. Apakah demikian?
Film
ini bercerita tentang pasangan suami istri, Nader dan Simin yang hendak
bercerai. Alasannya sederhana, Simin ingin pindah ke luar negeri karena
beranggapan negara lain lebih cocok untuk membesarkan anak perempuan mereka,
Termeh, sedangkan Nader menolak dengan alasan harus menjaga ayahnya yang
mengidam penyakit Alzheimer. Merupakan sejenis sindrom
dengan apoptosis
sel-sel otak
pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Di
sela masa de facto hubungan mereka, Simin tinggal di rumah ibunya yang
membuat Nader kalang kabut mengurusi rumah, Termeh, dan ayah Nader. Mengatasi
masalah itu, ia mempekerjakan Razieh, seorang pembantu rumah tangga yang selalu
membawa anak perempuannya kemana-mana. Razieh dipekerjakan oleh Nader berkat
usul dari Simin.
Razieh
yang religius seketika minta berhenti karena tak ingin mengurusi ayah Nader.
Baginya itu kurang pantas. Sebagai solusi, ia menawarkan suaminya yang sudah
lama menganggur untuk melanjutkan pekerjaannya. Sang suami sayangnya tak jua
muncul ke rumah Nader karena dipenjara dan Razieh terpaksa menggantikannya.
Masalah mulai muncul saat Razieh meninggalkan ayah Nader dalam kondisi tangan
terikat di tempat tidur. Nader yang pulang melihat sang ayah terpuruk di lantai,
marah besar, dan mengusir Razieh dengan tuduhan mencuri. Adu mulut keduanya
menyebabkan Nader mendorongnya ke luar rumah. Razieh pun menuduh kembali, bahwa
Nader adalah penyebab keguguran kandungannya. Razieh pun membawa kasus itu ke
meja hijau, hingga pada akhirnya kompleksitas masalah semakin meluas.
Film
ini telah membidik saya kepada persoalan kepercayaan, perceraian, dan
pengangguran. Pertanyaannya adalah bagaimana korelasi antar ketiga persoalan
itu dalam representasi gender? Meski demikian hal ini tidak bisa dijawab dengan
singkat. Mari kita gali satu demi satu isi (content)
yang terdapat dalam film A Separation ini
dengan seksama.
Kepercayaan
Film ini tak khayal adalah
visualisasi atas sublimasi kepercayaan agama yang selama ini sebatas
norma-norma dan hukum islam yang kaku. Saya melihat film ini berdasarkan agama
yang dianut oleh para tokoh di dalamnya. Tidak sebatas agama, kepercayaan antar
relasi Adam-Hawa pun juga saya terima dari film ini. Sesungguhnya film ini
telah memberi persoalan kompleksitas kepercayaan yang tinggi. Lebih khusus kita
akan ber-onani dengan hal gender yang
terbangun oleh kepercayaan di dalamnya. Meski demikian, pembicaraan tentang
kepercayaan merupakan hal yang paling sensual untuk dibicarakan.
Revolusi Islam di Iran mungkin
merupakan contoh yang paling menyolok mengenai Islam sebagai kekuatan politik
di dunia modern. Hal ini, tentu saja merupakan prototipe dari “Islam politik”
(Islam Fundamentalis) yang menjadi kekuatan besar sekarang ini. Secara garis
besar hal tersebut juga mengaitkan kita pada persoalan hubungan relasi antar
gender untuk film ini.
Topik perbedaan gender, seperti juga
pada Islam merupakan hal yang sulit untuk diamati. Semisal, jika kita sebagai
bangsa barat melihat masalah yang timbul di film A Separation sebagai ‘orang luar’, sehingga kita harus berhati-hati
dalam menggunakan model barat ke persepsi budaya Islam dan perlakuan terhadap
perempuan. Representasi penampilan fisik sangat kuat dalam film ini sehingga
secara tidak langsung kita sudah memiliki makna terhadap perempuan. Sebuah
konstruksi telah mengarahkan kita kepada beberapa perilaku di representasikan
sebagai lebih sesuai untuk disandang perempuan ketimbang perilaku lainnya.
Pertama, perempuan ketika setia melakukan aktivitas domestik atau mengurus
pekerjaan. Kedua, perempuan yang mengekspresikan emosi. Ketiga, perilaku
memposisikan perempuan di belakang dalam serombongan laki-laki.
Kebanyakkan orang Amerika mungkin
merasa aneh ketika melihat sekumpulan perempuan menutup rambut mereka dengan
menggunakan jilbab, namun perempuan muslim mungkin sulit mengerti mengapa
banyak perempuan di Amerika mewarnai rambut mereka. Generalisasi itu menyangkut
gender, yang terkadang melewatkan masalah perbedaan regional. Meski demikian,
film ini telah menghindar dari persoalan pokok itu, Simin secara fisik
menggunakan jilbab yang tidak begitu tertutup dan berambut kemerahan adalah
suatu efek revolusi politik di Iran tanpa disadari langsung. Walaupun, Razieh
yang menjadi tokoh muslim yang bisa dikatakan sangat fundamentalis lebih
menampilkan dirinya dengan berpakaian tertutup dibandingkan Simin. Secara gamblang film ini bukan mengarahkan kita
kepada benturan masalah di atas masalah tersebut, melainkan langsung
menghadapkan kita kepada suatu konstruksi oposisi biner. Oposisi biner yang
dihadapkan oleh film A Separation menekankan
kita “berdasarkan cara pakaian mereka, daya tarik mereka, dan anak-anak mereka
dan struktur wacana bisa dilihat dari operasi dalam oposisi-oposisi dan tidak
ada yang lebih bersifat oposisional ketimbang wacana gender” menurut (Burton, 2011:
265).
Terlepas kita bicara tentang oposisi
biner, beberapa scene di film ini juga
mentampakan kepercayaan agama bahwa seorang suami merupakan ‘khalifah dalam
rumah tangga atau pemimpin rumah tangga’, yang berarti memiliki otoritas
tertinggi dalam mengatur segala masalah yang timbul di keluarga. Simin yang
bersikap dan beranggapan dengan keluarganya berpindah negara maka kesejahteraan
anak dan keluarga akan terjamin. Apakah ini juga suatu sikap gerakan feminisme
liberal? “Perempuan harus memilih,
pertama sebagai ibu, kedua sebagai pekerja produktif dan ketiga menambahkan
karier dalam pekerjaan domestiknya.” Begitulah pemikiran Feminisme Liberal
pada abad ke-19.
Sejatinya, tarik ulur permasalahan
di film A Separation begitu detail
ditampilkan oleh sutradara Asghar Farhadi, sehingga keselarasan hubungan intim
dalam keluarga terlihat begitu dekat dengan proses relasi gender yang terbangun
antara keduanya. Biar bagaimanapun film ini telah berhasil mengukir sejarah di
ajang Academy Awards alias Oscar 2012, 27 Februari kemarin. Film ini telah
dinobatkan sebagai film berbahasa asing terbaik. Dengan penghargaan tersebut, sejatinya dunia
film di iran telah mengalami sublimasi di dalam dunia polesemik ini, film.
Kalau kita melihat kebelakang, setelah saya perhatikan film-film Iran cendrung
menghadirkan kisah drama keluarga, serta penuh dengan kesunyian yang
menghadirkan suasana intim ke penonton.
Perlawanan Simin kepada Nader juga
tidak melulu pada proses perceraiannya, melainkan di beberapa scene ada dialog antara Simin dan Nader
sedang mencari titik temu mengatasi masalah diatas masalah itu. Terlebih,
ketika Simin lebih memilih solusi untuk menyelesaikan masalah Nader yang
dituduh sebagai penyebab atas keguguran Razieh, dengan jalan membayarkan uang
jaminan dan ganti rugi, yang sebagai simbol penyelesaian secara kekeluargaan,
dengan tegas Nader menolaknya. Hal ini juga memberikan visi atas kepercayaan
dalam berumah tangga yang sebaiknya bisa lebih harmonis, sehingga satu sama
lain dapat menerimanya. Nader yang di sosokan oleh Asghar sebagai lelaki yang
sedikit keras kepala, sejatinya telah mengarahkan kita pada pencitraan sosok
kepala keluarga yang mengalami kegagalan dalam rumah tangganya.
Perceraian
Bukan bagaimana hal perceraian
sebagai sebuah permasalah yang tabu untuk dibicarakan, melainkan sang sutradara
Asghar Farhadi telah menggambarkan secara general bahwa masalah perceraian di
Iran sedang mengalami peninggkatan yang begitu signifikan. Terbukti, Asghar
dengan singkat menggambarkan general itu ke dalam scene terakhir, saat Simin dan Nader dihadapan hakim disuruh untuk
memberikan keputusan bercerainya. Setelah mereka berdua memutuskan untuk
bercerai, Termeh anak tunggal perempuannya juga dituntut
untuk memilih mengikuti siapa di antara kedua orang tuanya. Secara serempak
juga suasana pengadilan yang begitu ramai dan hingar-bingar akan perdebatan
suami-istri ditampilakan. Hal ini secara garis besar memberi penanda sekaligus
petanda bahwa pengadilan agama di Iran yang mengurusi perceraian begitu banyak
dikunjugi pasangan suami-istri yang ingin bercerai. Pengambilan ruang kantor
urusan pengadilan tentang perceraian yang ditampilkan Asghar tampak begitu
mengambil titik mood paling atas
terhadap penonton. Asghar dengan perlahan memberikan jawaban bahwa tidak
selamanya hubungan keluarga harmonis bisa dirasakan oleh semua orang.
Jika kita telisik mode perceraian
ini melalui kacamata kesetaraan gender, tampaknya lebih menarik. Pada umumnya
konsep gender mengacu pada peran dan tanggung jawab sebagai perempuan dan
sebagai laki-laki yang diciptakan dan terinternalisasi dalam kebiasaaan dan
kehidupan keluarga. Gender dapat didefinisikan sebagai pembedaan peran,
atribut, sikap tindak atau perilaku, yang tumbuh dan berkembang di masyarakat
yang dianggap masyarakat pantas untuk laki-laki dan perempuan[1].
Sebagai contoh di dalam keluarga pada umumnya, laki-laki digambarkan sebagai
kepala keluarga, dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Sifat ibu biasanya cendrung
digambarkan sebagai feminine, lemah-lembut, emosional, penurut, dst. Sedang,
laki-laki digambarkan maskulin, kuat, tegas, rasional, dst. Lain halnya, ketika
saya menonton film ini. Sikap perempuan, Simin yang sebagai ibu jelas tampak
sekali setara dengan Nader sang suami yang bersikap sebagai kepala keuarga.
Nader dan Simin tidak sedemikian rupa sama dengan pasangan suami-istri umumnya.
Ada proses tarik-menarik kompromi saat keluarga ini mengalami masalah. Sikap
yang dimunculkan dalam film ini sangatlah kental untuk mencoba menyetarakan
gender diatas titik pembedaan peran dan atribut itu.
Terlebih, ketika saya melihat plot
pertama dalam film ini. Kehadiran Nader dan Simin di pengadilan Agama yang
mengurusi perceraian. Ketika itu dialog dan adegan pertama film masuk, tampak Asghar
menampilkan bahwa kasus perceraian merupakan titik kompleksitas dari kesetaraan
gender itu. Adanya tarik-ulur hubungan antara laki-laki dan perempuan padahal
mereka mesti mempunyai pilihan yang tepat. Sekilas itu yang saya dapat, atau
mungkin saya yang mereka-reka. Entahlah. Meski demikian, film ini telah
menghindarkan kita dari stereotip gender,
dimana laki-laki dan perempuan harus sedemikian lumrah dengan anggapan umum masyarakat.
Pengangguran
Isu tentang pengangguran dalam film
ini tampak disajikan secara minim. Asghar dengan manis menyelipkan premis kecil
dalam beberapa scene di film ini.
Premis kecil itu soal pengangguran. Meski demikian, isu pengangguran yang
sejatinya sudah seringkali dibicarakan, baik di dunia belahan timur maupun di
dunia belahan asia. Pengangguran semakin asyik dibicarakan, karena menyangkut bagaimana
manusia itu bisa bertahan untuk hidup. Pengangguran bukan hanya memberikan efek
dari ekonomi, akan tetapi pengganguran juga bisa menyangkut tentang bagaimana
relasi antar manusia (social cultur)
bisa saling menjatuhkan. Film A
Separation mencoba melihatkan aksi dan reaksi itu bisa terjadi.
Suami Razieh yang notabene menjadi
pengangguran setelah ia dipenjara, sejatinya telah memberikan anggapan pada
penonton bahwa mantan narapidana otomatis mengalami hambatan untuk berkerja. Di
sela scene saat Razieh mengundurkan
diri dan mengusulkan agar suaminya yang menggantikan ia untuk berkerja bersama
Nader, dirasa sebagai penanda bahwa keluarga
Razieh dan Hodjat adalah gambaran umum keluarga kelas bawah di Iran. Razieh
merupakan representasi perempuan tradisional Iran dengan chador-nya. Ia taat
pada suami dan agama. Meski suaminya, Hodjat, kasar dan pengangguran, Razieh
tetap menganggapnya segala-galanya. Hodjat sudah berbulan-bulan menganggur dan
terlilit hutang. Demi membantu keuangan keluarga, Razieh diam-diam bekerja
sebagai pembantu rumah tangga, walau ia tahu tak akan diperbolehkan bila
ketahuan suaminya. Oleh sebab itu, ketika suaminya menuntut Nader ke
pengadilan, ia ikut saja. Satu-satunya yang bisa mengalahkan pandangan suaminya
di mata Razieh adalah Tuhan dan kepentingan anaknya. Bahkan, Ada adegan di mana
ia berkonsultasi tentang apa yang ia lakukan itu berdosa atau tidak.
Belum lagi jikalau kita melihat pada
keluaraga Simin dan Nader. Penyebab dari segala
permasalahan dalam film ini adalah Simin dengan ‘kemandirian secara intelektual
dan finansialnya’ yang membuatnya menampik esensi dari sebuah nilai pernikahan
tradisional yang mengusung kesamarataan. Namun tetap hormat dan patuh pada
keputusan suami. Tumpang tindih perbedaan antara dua keluarga ini telah
menyibak semua persoalan terkait kelas-kelas sosial itu. Justru saya lebih
melihat persoalan ini bukan hanya dari siapa yang salah dan siapa yang benar,
karena film ini hanya berbicara perihal yakin dan tidak yakin penonton akan
premis dalam film ini.
Ihwal
Pembaca
Para pembaca
yang budiman, dari panjang lebar saya membahas film ini, alangkah baiknya saya
mencoba menarik garis besar persoalan gender di film ini, guna memudahkan ihwal
pembaca yang budiman. Persinggungan keluarga Simin dengan Razieh sebenarnya
seperti ‘kesempatan’ yang bisa digunakan Nader dan Simin untuk mereka
menimbang-nimbang lagi keputusan bercerai mereka. Banyak film-film komedi
romantis Hollywood menggunakan treatment ini
dengan premis sederhana; bahwa bila menghadapi masalah yang sama, pasangan yang
bermasalah akan saling menolong untuk bisa mengatasinya dan akhirnya
bersatu kembali. Di A Separation, Asghar seolah menampar kita pada
kenyataan bahwa masalah seringkali muncul lebih karena ketidakinginan, bukan
ketidakmampuan. Masalah yang sebenarnya tak perlu muncul, namun bila sudah
terjadi akan sangat sulit menemukan jalan keluarnya.
Sejatinya,
resensi ini tidak disarankan untuk menjadi pedoman. Sebagaimana tulisan ini
merupakan kacamata saya mengenai film A
Separation, saya harap teman-teman pembaca punya kacamata sendiri terhadap
film ini. Bilamana terjadi pembedaan antar kacamata teman-teman pembaca
mengenai film ini, semoga itu dapat membantu untuk menampilkan kekayaan dan
warna dalam media polesemik ini, film.
A Separation | 2011 | Sutradara: Asghar Farhadi | Penulis Naskah: Asghar Farhadi | Pemain: Peyman Moadi, Leila Hatami, Sarah Bayat.
[1]
Karena
didapat dari cara belajar budaya atau tradisi yang dianut secara turun temurun
(culturally learned behavior),
perilaku itu disahkan oleh masyarakat sebagai budaya setempat (Culturally assigned behavior). Lebih
lanjut penjelasan tentang kesetaraan gender ada di dalam buku terbitan
kementrian Hukum dan Ham perihal Parameter Kesetaraan Gender.



0 komentar:
Posting Komentar