3 Agu 2012

Perjalanan Bersama Taksi dan Makhluk Supernatural



Baru saja mendapat omnibus film pendek dari seorang kawan. Sebelumnya, kawan saya sudah membuat sekilas review omnibus film pendek ini.  Doi mendapatkannya dari sebuah jaringan situs luar negeri yang mengunggah film tersebut. Omnibus film pendek itu berjudul Fisfic Vol. 1. Sejatinya, omnibus film ini terdiri dari enam film pendek dan tujuh sutradara dengan memakai satu tema yaitu Horor. Dari keenam film tersebut saya tertarik dengan karya besutan dua sutradara yaitu Ari Anjie Az, dan Nadia Yuliani, dengan filmnya yang berjudul Taksi.

Meski demikian saya sedang tidak berusaha melupakan film-film sebelumnya. Melainkan, saya akan mencoba mencomot satu-persatu film yang ada dalam projek omnibus tersebut. Dengan mengambil urutan film dari belakang hingga depan saya akan membuat projek review tentang omnibus film pendek ini.

Film pendek menjadi begitu berarti disaat perkembangan film-film panjang sedang merosot ke tangga yang paling rendah. Film pendek juga menjadi satu medium alternatif bagi para penonton yang jenuh akan perkembangan film-film popular kini, terkhusus horor. Pada awalnya, projek omnibus film Fisfic mengedepankan satu visi dan misi untuk meruntuhkan stigma film horror Indonesia yang terkesan begitu monoton dan hanya menjual syahwat, tukas kawan saya. Dengan begitu sublimasi besar patut kita harapkan dari projek omnibus tersebut.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya tertarik dengan film yang berjudul Taksi. Ceritanya minimalis, tidak berusaha menghadirkan kerumitan, dan seakan-akan saya sedang berada dalam perjalanan yang mencekam. Kepulangan seorang perempuan di tengah malam, dan suasana kota sunyi itu menempatkan kita pada ruang hampa sudut kota yang biasanya hingar-bingar diisi beragam kesibukan individu penduduknya. Pada adegan pembuka, saya sebagai penonton cukup berada dalam posisi kenyamanan dalam menonton film horor. Meski pada umumnya kita selalu mereka-reka diawal cerita ‘setan yang seperti apa dan se-seram apa yang akan muncul’.

Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang baru saja pulang kerja setelah lembur, dikemudian waktu ia tampak bingung mencari kendaraan apa yang akan membawanya pulang. Saat sedang menunggu, sebuah mobil taksi yang satu-satunya lewat di lokasi tersebut datang menawarkan untuk mengantarnya pulang. Wajah sopir taksi tersebut memang sedikit cabul, sekilas saat saya menonton, apalagi ketika tawarannya untuk mengantarkan perempuan tersebut dengan tutur bahasa yang begitu merayu. Ditengah perempuan itu sedang berpikir, sopir taksi pun mencoba memberikan stimulus tentang kegelapan dan kehampaan kota pada malam hari. Tanpa habis pikir, perempuan itu menaiki taksi tersebut. Masa-masa perjalanan pulang, sopir taksi itu menceritakan beberapa kejadian suram dan muram ihwal perempuan yang seringkali menjadi korban kejahatan pada tengah malam. Melewati jalan-jalan tikus dan terus-menerus sopir taksi menceritakan kisah bengis itu. Ditengah perjalanan, lampu merah, tanpa disengaja si sopir taksi bertemu dengan kedua temannya yang sedang mabuk. Kecaman pun terjadi, perempuan itu diapit oleh kedua temannya, lalu dipaksa untuk ikut serta mabuk dan dilecehkan. Tanpa disadari, perempuan itu berubah menjadi seperti zombie yang mencabik-cabik se-isi perut para lelaki bajingan yang melecehkannya. Sopir taksi pun semakin jiper melihat kejadian itu, tapi tetiba temannya mampus, perempuan itu kembali lagi normal dan meminta taksi untuk berhenti. Sopir taksi dibayar dan ia tetap selamat.

Setelah menonton film ini, saya jadi teringat dengan film pendek ‘Payung Merah’ yang juga sama-sama membawa ruang perjalanan (taksi) dan kepulangan, yang juga dikemas dalam genre drama thiller supernatural atau horor. Terlepas siapa yang duluan mengembangkan gagasan itu, saya kira tetap memiliki perbedaan satu sama lain. Walaupun sebelumnya saya menonton film Payung Merah terdahulu baru film Taksi ini. Jelas perbedaannya, Payung Merah tidak diproduksi secara omnibus, dan ia juga tidak begitu ‘ekstrim’ menghadirkan sosok hantu itu. Sedang, Taksi dengan gamblang dan tampak bahwa hantu yang disimbolkan begitu menyeramkan dan buas.

Ari dan Nadia, begitu lembut menyisipkan twice kedalam setiap adegan. Hingga saya bisa menghitung beberapa twice itu. Pertama, ketika sopir taksi menaruh simpati pada perempuan itu, dengan lirikan mata yang cukup menyita kecurigaan ‘jangan-jangan si sopir bakal bertingkah aneh’, blass.. ternyata memang itu karakternya, tidak seperti apa yang saya pikirkan. Kedua, adegan saat perempuan yang tiba-tiba jadi zombie dan melumat temanya, dikemudian waktu saya mengira ia juga akan membunuh sopir taksi tersebut, dan ternyata ia selamat. Terakhir, perempuan itu tidak sadarkan diri bahwa ia seperti kesurupan, padahal saya menduga ia juga ikut mati karena tusukan pisau dari preman bengis itu. Dari beberapa twice tersebut penonton juga dibawa dalam arus perjalan pulang mengenai taksi, yang pada akhirnya kesan pulang itu menjadi satu ‘keharusan’. Lebih-lebih waktu antara ‘dunia lain’ dan ‘dunia’ berjalan secara paralel.


Hasrat Terpendam

Dalam taksi Ari dan Nadia, sebenarnya juga menghadirkan ‘hasrat-hasrat terpendam’ itu. Semisal, kasus-kasus pemerkosaan yang diceritakan sopir taxi, secara naratif menghadapkan kepada penonton bahwa hasrat-hasrat tentang sexual dan horror itu berkaitan. Saat budaya voyeurisme itu tidak terlampiaskan lagi, lalu menjadi buas. Selanjutnya, adalah hasrat materil atau akan uang. Dialog antara perempuan dan kedua ‘preman bengis’, membuka peluang anggapan si perempuan bahwa kedua orang yang mengapitnya akan merampok, dan kemudian penonton akan berusaha mereka-reka si perempuan akan mati ditangan preman itu, kemudian jadi hantu. Tapi ada satu kelucuan, saat si hantu bisa juga membayar ongkos taksi itu. Ya, itu juga yang saya maksud berjalan paralel. Oleh sebab itu, berubahnya si perempuan menjadi monster atau zombie tidak terlepas dari ciri khas film horor di Indonesia. Dimana rata-rata perempuan selalu di interpertasikan dalam film horor sebagai kaum yang ditindas. Bagi saya, itu merupakan suatu perayaan besar saat si perempuan bisa berubah menjadi buas. Hal itu juga bisa berarti sebagai motif ‘balas dendam’ yang sering kita jumpai pada film-film horor kebanyakan. Akan tetapi, film ini mencoba menghadapkan motif tersebut kedalam satu naratif yang lebih simpel, tanpa harus menghadirkan ‘penampakan diluar dunia manusia’.

Makhluk Supernatural

Hadirnya, zombie atau makhluk supernatural itu juga salah satu langkah besar mencoba untuk meruntuhkan sisi naratif film-film horor kebanyakan. Ya, Jika pada awalnya kita sudah lebih dahulu dikenalkan oleh makhluk supernatural ala Indonesia, seperti; sundel bolong, kuntilanak, pocong, gendoruwo, dan lain sebagainya. Penemuan baru tentang makhluk seperti zombie itu saya rasa bukan satu hal yang perlu dihindari. Terlebih, zombie atau sejenisnya pernah dihadirkan dalam film horor Indonesia kontemporer, yang pasalnya cerita-cerita dalam film horor Indonesia kontemporer tidak terlalu rumit dan polanya hampir mirip satu sama lain. Yang mana bukan zombie melainkan siluman (serupa tapi tak sama), dan itu diluar ikonik makhluk supernatural ala Indonesia itu.

Terlepas dari itu, sosok makhluk supernatural yang tampak dalam film ini juga mengambil sisi legenda urbannya. Ketika penanda dialog dan gaya bertutur sopir taksi menceritakan kejadian masa lampau yang begitu suram dan muram. Jadi, kalau makhluk supernatural seperti yang tampak di film ini sesungguhnya berangkat dari satu titik yang sama di kebanyakan unsur naratif film horor Indonesia. Yang tidak jauh dari nekrofilia, psikopat, kanibal, dukun, makhluk gaib, dan bukan makhluk gaib seperti dalam film ini.

Perjalan bersama Taksi

Si perempuan dan sopir taksi, keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu pulang. Saat semua sudah memiliki tujuan yang sama, jiwa-jiwa moralis dalam film ini terbentuk dalam beberapa layer lebih dalam. Lebih-lebih kehidupan sosial kelas pekerja kota yang selama ini dianggap sibuk dengan individunya sendiri. Lewat jam kerja nan lembur akan saling tawar-menawarkan pertolongan dan keakraban satu sama lain. Dengan adanya layer-layer ini, penonton diajak untuk melakukan perjalanan bersama sang sutradara. Melewati gang kelinci, jalur tikus, dengan gambaran kota pinggiran yang begitu sesak, dan muram hingga cerita-cerita misterinya.

Perjalanan itu juga terbentuk untuk penonton dalam menyikapi perjalanan traumatik masyarakat tentang cerita-cerita kejahatan yang seringkali terjadi pada malam hari. Ketika hal tersebut sudah begitu tersikapi oleh penonton, maka beberapa identitas sosial bisa jadi terbentuk di dalam individu penonton. Bahwa seharusnya perjalanan traumatik masyarakat bukanlah sebagai angin lalu. Sebagaimana si sopir taksi mengambil jalur tikus merupakan satu kebiasan kehidupan sosial kelas pekerja kota, yang terbiasa mencari jalan pintas pada pagi hari, agar terhindar dari kemacetan. Dan itu terus-berulang terjadi pada kepulangan, karena suatu kebiasaan.


Taksi | 2011 (Fisfic Vol.1) |Sutradara: Ari Anjie Az, Nadia Yuliani | Produser: Titis Sapto Raharjo, Nadia Yuliani, Ari Anjie Az | Sekenario: Ari Anjie Az, Nadia Yuliani | D.O.P: Dimas Wisnu, Wardono, Shakti Siddarta, Erich Silalahi | Pemain: Shareefa Daanish, Hendra Louis, Manahan Hutauruk, Alex Loppies.

1 komentar:

UnKnown mengatakan...

Hanya ada di www(.)sm558poker(.)co anda dapat menikmati berbagai bonus menarik di situs Sakong Online terbaik di Indonesia
- Bonus referral 15%
- Bonus Cashback (Harian, Mingguan, Bulanan)
- Bonus Mingguan 0.5%

Kami juga menawarkan berbagai permainan yang terpopuler saat ini dengan minimal deposit hanya 10rb! Nikmati 8 Permainan dalam 1 user ID

*ADU Q
*BANDAR POKER
*BANDAR Q
*CAPSA SUSUN
*DOMINO 99
*POKER ONLINE
*SAKONG
*BANDAR 66
Festival Poker 2019
WA: 0812.2222.996
BBM : PKRVITA1 (HURUF BESAR)
Wechat: pokervitaofficial
Line: vitapoker

Posting Komentar