In
frame Judul buku Citra Perempuan dan Kuasa (Jawa), dan beberapa perempuan menari, dengan
tarian yang disebut golek lambang sari. Suatu perumpamaan bahwa seorang
perempuan sudah beranjak dewasa, Tari golek ini menggambarkan seorang gadis
Jawa yang masih remaja sedang bersolek diri. Dengan segala keluwesan gerak
tubuhnya, ia mematut-matut busananya, merias wajah cantiknya dan mengenakan
perhiasan untuk memperindah penampilannya. Ekspresinya yang ceria dan keluwesan
gerak tubuhnya diungkapkan melalui kelembutan dinamika gerak tari Jawa yang
terstruktur secara ketat dalam bingkai gendhing Lambangsari. Well, tentang tarian itu mungkin hanya sebagian
premis kecil yang kita dapat saat menonton film pendek ini. Tidak lebih.
Ihwal tarian yang ditampilkan pada
film ini sepertinya tidak begitu banyak menampilkan sisi imajinatif dalam
dimensi komunikasi sinematiknya. Meski demikian, dimensi itu seringkali condong
pada informatif dan inovatif yang berkisinambungan, berikut dengan kuasa dan
kebetulan itu. Mesti kita garis bawahi, kehadiran voice over yang sukar lebih banyak mengambil bagian dalam film ini,
sejatinya adalah penemuan karakter yang terdapat pada sutradara film ini. Ade
Dae, sutradara film pendek ini dengan cukup subtil memasukan voice over di sebagian besar filmnya. Tapi, apakah demikian?
Seorang penulis lepas bernama Gugun,
sedang berusaha mengahadapi lika-liku kehidupannya sebagai penulis. Di kemudian
hari ia melihat seorang perempuan di salah satu perpustakaan yang berlatar-kan
sanggar tari, tanpa berkenalan, ia pun tertarik dengan perempuan itu. Ia ingin
memberitahu ke perempuan itu, kabar gembira bahwa tulisannya diterima di salah
satu majalah. Isti dan Widya, entah nama perempuan mana yang dapat memikat
Gugun. Ditengah masa Gugun menuju perempuan itu, untuk memberitahu kabar
gembira, plot demi plot mulai memunculkan kesan pengamatan indera penonton
terhadap kebetulan-kebetulan adegan di dalamnya. Kehadiran perempuan karir,
sopir taksi, mahasiswa yang terlambat, penjaga toko dan kekasihnya,
dan orang-orang yang bersepeda, menjadi detail di setiap mise en scene yang ada di film ini. Pada akhirnya, hukum kausalitas
(sebab-akibat) yang dibangun atas kebetulan-kebetulan kecil itu terjadi. Tapi
sesadarnya berpikir, semua itu hanya sekedar simbol dalam merepresentasikan cara
kerja Tuhan dan Malaikat dengan gaya kerja pola pikir manusia.
Jika pada dasarnya film ini
menceritakan perihal hukum kausalitas, kebetulan dan kuasa, itu mungkin sekedar
gurauan. Pada satu struktur plot yang terbangun film ini tampak jelas tidak
begitu rapih menyisipkan detail per-tiap frame
yang dibenturkan. Ya, kita menonton film ini secara random mengenai penyusunan baku atas adegan didalamnya, tapi
sedemikian itu terlalu banyak melumat apa yang seharusnya tidak ada menjadi ada.
Satu titik pada adegan dimana perempuan modern, wanita karir, pulang kerja lalu
pergi ke toko butik mengenakan taksi, seketika dengan sengaja frame dibenturkan pada perempuan gemulai
yang sedang menari-nari tarian golek lambang sari. Pembenturan itu terjadi
kembali, saat perempuan modern, wanita karir menaiki taksi. Bagi saya itu
begitu didaktis.
Masa-masa dimana film ini bicara
kuasa juga tidak terarah dengan jelas, kuasa yang seperti apa? Walau sang
sutradara menampilkan kelas pekerja (Wanita karir) pada penempatan sisi kuasa modernitas
jaman, dirasa itu begitu tumpang tindih, sehingga tidak ada sublimasi kuasa
yang terarah. Hanya sekedar compare
atau benturan setiap frame demi frame adegan dalam film. Satu gurauan yang
diperoleh. Sedikit mengutip narasi yang ada didalam.
“Boleh jadi aku sedang bernasib buruk dalam perjudian. Ya, dalam hidupku ternyata aku tak sendirian, ada orang lain yang bermain”. (pertengahan film)
“Namun terkadang aku berpikir itulah kehidupan, ia dibangun diatas kebetulan-kebetulan kecil yang saling berkaitan, tak ada satu kuasa pun untuk merubahnya”. (akhir film)
Kedua
narasi ini sengaja saya kutip, karena saya ingin benturkan dan melihat lebih
jauh sisi wacana kuasa yang dibangun. Sebab, film ini memang dominan kuat dengan
voice over-nya. Pada narasi pertama (pertengahan
film), voice over masuk dalam taraf
menengahi frame sebelumnya, dan juga menjadi
clue. Tetapi, ada yang ganjil dengan
teks ini ‘ada orang lain yang bermain’ sekiranya ini menjadi begitu ambigu
dalam mengambarkan suatu relasi dan seakan-akan ingin berfilsafat tapi setengah
hati. Jika kita kaitkan dengan teks narasi di kedua (akhir film), justru
konstruksi relasi kuasa yang dihadapkan sang kreator adalah konstruksi relasi tentang manusia dan sang ‘maha’
itu, sebut saja tuhan. Hal semacam ini memang tidak tersikap oleh penonton,
ketika dipertengahan ia berbicara tentang ada ‘orang lain’ yang bermain, tapi
di lain sisi teks itu berganti (jumping)
menjadi ‘tak ada satu kuasa pun untuk merubahnya’, secara sadar kita meng-amini
bahwa itu relasi antara manusia dengan tuhan, bukan manusia dengan manusia,
atau bumi dan manusia, atau manusia dan cinta. Tampaknya, sang sutradara
terlalu asik bermain dengan kompleksitas konflik-konflik kecil didalamnya,
sehingga menjadi begitu centil dan genit. Tentang bagaimana kealpaan konstruksi
teks dalam narasi itu saya kira itu sekedar gurauan. Ugh, Lagi-lagi begitu.
Memang
pada sinopsis sudah dijelaskan bahwa semua tanda-petanda yang dimainkan dalam
film ini hanya sekedar ‘cara kerja Tuhan’, meski demikian itu tidak mengunggah
emosi yang terbangun disetiap mise en
scene film ini. Begitu statis dan linier. Kurang lebih penekanan emosi
tersebut hanya muncul di akhir cerita, itu pun dibantu dengan dramatisasi ala
opera sabun kekinian. Satu hal yang dilihat cheesy
(menonjol) dari film ini. Sangat amat disayangkan kalau film ini kurang begitu
luwes dan fokus menghadapkan soal kuasa dan kebetulan itu. Saya jadi bertanya-tanya
mengapa mengambil sisi kontradiksi budaya tradisional dan modern? Kenapa nggak agama? Atau kesedihan? Atau kemiskinan?
And so.. and so.
Kalau Saja | 2012 | Sutradara: Ade
Dae Matolese | Produser: Muamar
Fikrie | Skenario: Ade Dae Matolese
| Ide cerita: Ade Dae Matolese | D.O.P: Rian Budi | Pemain: Ardiyanto Nugroho, Sekar Sari, Putri Arrumsari, Ridya
Parahdina, Lattiva Septiyana R, Alim Billah, Andra Anggraini R, Raymond
Paputungan, Yulian Rifqie, Prastika Ratrie.



0 komentar:
Posting Komentar