28 Jul 2012

Melancong ke IVAA, Diskusi "Penonton: Konsumsi & Negosiasi"


Matahari sudah mulai gagah, tapi saya masih terdampar dalam hamparan pulau mimpi. Sekitar jam sembilan pagi saya mendapat pesan singkat berisi info acara diskusi yang diadakan kawan IVAA (Indonesia Visual Art Archive) bersama Rumah Sinema dan Kunci Cultural Studies Center. Awalnya, saya kira pesan singkat itu dari operator provider yang seringkali memberikan promosi, maklum pada saat pertama saya melihat pesan singkat itu, keadaan saya masih terbawa mimpi. Lalu, lampau waktu siang hari saya check kembali, ternyata berisi info chacthy, ihwal diskusi "Penonton: Konsumsi dan Negosiasi" (Bunga Rampai Penelitian Khalayak 2). Tanpa berpikir panjang. Oke, saya tertarik dengan acara itu dan memang saya membutuhkan refrensi kajian soal penonton.

Sejatinya, diskusi ini merupakan lanjutan pembahasan dari buku yang diterbitkan oleh Rumah Sinema. Judul bukunya serupa dengan judul diskusinya. Diskusi ini, dipimpin oleh Moderator Eko Suprati (Rumah Sinema) dengan Pembicara Firly Anisa (Rumah Sinema, salah satu penulis dalam buku), Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center, sarjana komunikasi yang bergiat dalam banyak penelitian media), kamis, 26/07. Well, saya akan mengutip term of reference yang sebelumnya sudah dicantumkan di poster acara, isinya sebagai berikut.

Didirikan sejak sepuluh tahun lalu, Rumah Sinema merupakan komunitas yang bertekun belajar dan meneliti penonton. Berbasis asas sukarela mereka mengembangkan berbagai kegiatan (penelitian, penerbitan dan pelatihan) yang bertujuan untuk ‘memahami’ dan ‘memberdayakan’ penonton. Pada kesempatan ini Rumah Sinema akan mendiskusikan buku mengenai kumpulan penelitian penonton.

Penonton: Konsumsi dan Negosiasi (Bunga Rampai Penelitian Khalayak 2) yang merekap berbagai perspektif tentang penonton. Meminjam pendapat James G Webster: khalayak, dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu khalayak sebagai massa (audience as mass), khalayak sebagai hasil (audience as outcome) dan khalayak sebagai agen (audience as agent) (Webster, 1998: 191). Konsepsi audiens sebagai massa dan agen tersebut menemukan bentuknya dalam penelitian-penelitian di buku ini.

Melalui diskusi ini, kita mau melacak lebih jauh pengalaman Rumah Sinema dalam pengembangan perspektif dan penelitian penonton selama ini. Mengapa penelitian penonton penting untuk dilakukan? Lebih jauh lagi, kita juga mengaitkan dengan berbagai kajian cultural studies dewasa ini: Bagaimana posisi penonton dalam industri media saat ini? Apa yang dapat dilakukan untuk menempatkan penonton dalam ‘posisi’ yang lebih baik di mata produsen media? 


16.25 - 18.00 WIB, Diskusi yang berjalan sekitar satu setengah jam ini memberikan beberapa eksplorasi perspektif baru tentang penonton tersebut. Juga mengingatkan saya tentang tulisan saya sebelumnya bicara perihal mari membuat film, tapi jangan lupa menonton. Tetapi, pada tulisan itu saya kurang mendalami kembali ihwal penonton ini, yang melihat penonton sebagai hal yang pasif dan hanya memakai pisau analisis decoding-encoding. Justru pada diskusi ini penonton dipandang sebagai khalayak yang masif dan dapat melakukan satu mata rantai produksi ulang tersebut. Well, untuk lebih jelas tentang acara ini mari kita dengarkan rekaman diskusinya.



0 komentar:

Posting Komentar