30 Jul 2012

Antara Kuasa dan Kebetulan, atau Sekedar Gurauan?



In frame Judul buku Citra Perempuan dan Kuasa (Jawa), dan beberapa perempuan menari, dengan tarian yang disebut golek lambang sari. Suatu perumpamaan bahwa seorang perempuan sudah beranjak dewasa, Tari golek ini menggambarkan seorang gadis Jawa yang masih remaja sedang bersolek diri. Dengan segala keluwesan gerak tubuhnya, ia mematut-matut busananya, merias wajah cantiknya dan mengenakan perhiasan untuk memperindah penampilannya. Ekspresinya yang ceria dan keluwesan gerak tubuhnya diungkapkan melalui kelembutan dinamika gerak tari Jawa yang terstruktur secara ketat dalam bingkai gendhing Lambangsari. Well, tentang tarian itu mungkin hanya sebagian premis kecil yang kita dapat saat menonton film pendek ini. Tidak lebih.

            Ihwal tarian yang ditampilkan pada film ini sepertinya tidak begitu banyak menampilkan sisi imajinatif dalam dimensi komunikasi sinematiknya. Meski demikian, dimensi itu seringkali condong pada informatif dan inovatif yang berkisinambungan, berikut dengan kuasa dan kebetulan itu. Mesti kita garis bawahi, kehadiran voice over yang sukar lebih banyak mengambil bagian dalam film ini, sejatinya adalah penemuan karakter yang terdapat pada sutradara film ini. Ade Dae, sutradara film pendek ini dengan cukup subtil memasukan voice over di sebagian besar filmnya.  Tapi, apakah demikian?

            Seorang penulis lepas bernama Gugun, sedang berusaha mengahadapi lika-liku kehidupannya sebagai penulis. Di kemudian hari ia melihat seorang perempuan di salah satu perpustakaan yang berlatar-kan sanggar tari, tanpa berkenalan, ia pun tertarik dengan perempuan itu. Ia ingin memberitahu ke perempuan itu, kabar gembira bahwa tulisannya diterima di salah satu majalah. Isti dan Widya, entah nama perempuan mana yang dapat memikat Gugun. Ditengah masa Gugun menuju perempuan itu, untuk memberitahu kabar gembira, plot demi plot mulai memunculkan kesan pengamatan indera penonton terhadap kebetulan-kebetulan adegan di dalamnya. Kehadiran perempuan karir, sopir taksi, mahasiswa yang terlambat, penjaga toko dan kekasihnya, dan orang-orang yang bersepeda, menjadi detail di setiap mise en scene yang ada di film ini. Pada akhirnya, hukum kausalitas (sebab-akibat) yang dibangun atas kebetulan-kebetulan kecil itu terjadi. Tapi sesadarnya berpikir, semua itu hanya sekedar simbol dalam merepresentasikan cara kerja Tuhan dan Malaikat dengan gaya kerja pola pikir manusia.

            Jika pada dasarnya film ini menceritakan perihal hukum kausalitas, kebetulan dan kuasa, itu mungkin sekedar gurauan. Pada satu struktur plot yang terbangun film ini tampak jelas tidak begitu rapih menyisipkan detail per-tiap frame yang dibenturkan. Ya, kita menonton film ini secara random mengenai penyusunan baku atas adegan didalamnya, tapi sedemikian itu terlalu banyak melumat apa yang seharusnya tidak ada menjadi ada. Satu titik pada adegan dimana perempuan modern, wanita karir, pulang kerja lalu pergi ke toko butik mengenakan taksi, seketika dengan sengaja frame dibenturkan pada perempuan gemulai yang sedang menari-nari tarian golek lambang sari. Pembenturan itu terjadi kembali, saat perempuan modern, wanita karir menaiki taksi. Bagi saya itu begitu didaktis.

            Masa-masa dimana film ini bicara kuasa juga tidak terarah dengan jelas, kuasa yang seperti apa? Walau sang sutradara menampilkan kelas pekerja (Wanita karir) pada penempatan sisi kuasa modernitas jaman, dirasa itu begitu tumpang tindih, sehingga tidak ada sublimasi kuasa yang terarah. Hanya sekedar compare atau benturan setiap frame demi frame adegan dalam film. Satu gurauan yang diperoleh. Sedikit mengutip narasi yang ada didalam.
“Boleh jadi aku sedang bernasib buruk dalam perjudian. Ya, dalam hidupku ternyata aku tak sendirian, ada orang lain yang bermain”. (pertengahan film)
“Namun terkadang aku berpikir itulah kehidupan, ia dibangun diatas kebetulan-kebetulan kecil yang saling berkaitan, tak ada satu kuasa pun untuk merubahnya”. (akhir film)
Kedua narasi ini sengaja saya kutip, karena saya ingin benturkan dan melihat lebih jauh sisi wacana kuasa yang dibangun. Sebab, film ini memang dominan kuat dengan voice over-nya. Pada narasi pertama (pertengahan film), voice over masuk dalam taraf menengahi frame sebelumnya, dan juga menjadi clue. Tetapi, ada yang ganjil dengan teks ini ‘ada orang lain yang bermain’ sekiranya ini menjadi begitu ambigu dalam mengambarkan suatu relasi dan seakan-akan ingin berfilsafat tapi setengah hati. Jika kita kaitkan dengan teks narasi di kedua (akhir film), justru konstruksi relasi kuasa yang dihadapkan sang kreator adalah  konstruksi relasi tentang manusia dan sang ‘maha’ itu, sebut saja tuhan. Hal semacam ini memang tidak tersikap oleh penonton, ketika dipertengahan ia berbicara tentang ada ‘orang lain’ yang bermain, tapi di lain sisi teks itu berganti (jumping) menjadi ‘tak ada satu kuasa pun untuk merubahnya’, secara sadar kita meng-amini bahwa itu relasi antara manusia dengan tuhan, bukan manusia dengan manusia, atau bumi dan manusia, atau manusia dan cinta. Tampaknya, sang sutradara terlalu asik bermain dengan kompleksitas konflik-konflik kecil didalamnya, sehingga menjadi begitu centil dan genit. Tentang bagaimana kealpaan konstruksi teks dalam narasi itu saya kira itu sekedar gurauan. Ugh, Lagi-lagi begitu.


Memang pada sinopsis sudah dijelaskan bahwa semua tanda-petanda yang dimainkan dalam film ini hanya sekedar ‘cara kerja Tuhan’, meski demikian itu tidak mengunggah emosi yang terbangun disetiap mise en scene film ini. Begitu statis dan linier. Kurang lebih penekanan emosi tersebut hanya muncul di akhir cerita, itu pun dibantu dengan dramatisasi ala opera sabun kekinian. Satu hal yang dilihat cheesy (menonjol) dari film ini. Sangat amat disayangkan kalau film ini kurang begitu luwes dan fokus menghadapkan soal kuasa dan kebetulan itu. Saya jadi bertanya-tanya mengapa mengambil sisi kontradiksi budaya tradisional dan modern? Kenapa nggak agama? Atau kesedihan? Atau kemiskinan? And so.. and so.

Kalau Saja | 2012 | Sutradara: Ade Dae Matolese | Produser: Muamar Fikrie | Skenario: Ade Dae Matolese | Ide cerita: Ade Dae Matolese | D.O.P: Rian Budi | Pemain: Ardiyanto Nugroho, Sekar Sari, Putri Arrumsari, Ridya Parahdina, Lattiva Septiyana R, Alim Billah, Andra Anggraini R, Raymond Paputungan, Yulian Rifqie, Prastika Ratrie. 


28 Jul 2012

Melancong ke IVAA, Diskusi "Penonton: Konsumsi & Negosiasi"


Matahari sudah mulai gagah, tapi saya masih terdampar dalam hamparan pulau mimpi. Sekitar jam sembilan pagi saya mendapat pesan singkat berisi info acara diskusi yang diadakan kawan IVAA (Indonesia Visual Art Archive) bersama Rumah Sinema dan Kunci Cultural Studies Center. Awalnya, saya kira pesan singkat itu dari operator provider yang seringkali memberikan promosi, maklum pada saat pertama saya melihat pesan singkat itu, keadaan saya masih terbawa mimpi. Lalu, lampau waktu siang hari saya check kembali, ternyata berisi info chacthy, ihwal diskusi "Penonton: Konsumsi dan Negosiasi" (Bunga Rampai Penelitian Khalayak 2). Tanpa berpikir panjang. Oke, saya tertarik dengan acara itu dan memang saya membutuhkan refrensi kajian soal penonton.

Sejatinya, diskusi ini merupakan lanjutan pembahasan dari buku yang diterbitkan oleh Rumah Sinema. Judul bukunya serupa dengan judul diskusinya. Diskusi ini, dipimpin oleh Moderator Eko Suprati (Rumah Sinema) dengan Pembicara Firly Anisa (Rumah Sinema, salah satu penulis dalam buku), Syafiatudina (KUNCI Cultural Studies Center, sarjana komunikasi yang bergiat dalam banyak penelitian media), kamis, 26/07. Well, saya akan mengutip term of reference yang sebelumnya sudah dicantumkan di poster acara, isinya sebagai berikut.

Didirikan sejak sepuluh tahun lalu, Rumah Sinema merupakan komunitas yang bertekun belajar dan meneliti penonton. Berbasis asas sukarela mereka mengembangkan berbagai kegiatan (penelitian, penerbitan dan pelatihan) yang bertujuan untuk ‘memahami’ dan ‘memberdayakan’ penonton. Pada kesempatan ini Rumah Sinema akan mendiskusikan buku mengenai kumpulan penelitian penonton.

Penonton: Konsumsi dan Negosiasi (Bunga Rampai Penelitian Khalayak 2) yang merekap berbagai perspektif tentang penonton. Meminjam pendapat James G Webster: khalayak, dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu khalayak sebagai massa (audience as mass), khalayak sebagai hasil (audience as outcome) dan khalayak sebagai agen (audience as agent) (Webster, 1998: 191). Konsepsi audiens sebagai massa dan agen tersebut menemukan bentuknya dalam penelitian-penelitian di buku ini.

Melalui diskusi ini, kita mau melacak lebih jauh pengalaman Rumah Sinema dalam pengembangan perspektif dan penelitian penonton selama ini. Mengapa penelitian penonton penting untuk dilakukan? Lebih jauh lagi, kita juga mengaitkan dengan berbagai kajian cultural studies dewasa ini: Bagaimana posisi penonton dalam industri media saat ini? Apa yang dapat dilakukan untuk menempatkan penonton dalam ‘posisi’ yang lebih baik di mata produsen media? 


16.25 - 18.00 WIB, Diskusi yang berjalan sekitar satu setengah jam ini memberikan beberapa eksplorasi perspektif baru tentang penonton tersebut. Juga mengingatkan saya tentang tulisan saya sebelumnya bicara perihal mari membuat film, tapi jangan lupa menonton. Tetapi, pada tulisan itu saya kurang mendalami kembali ihwal penonton ini, yang melihat penonton sebagai hal yang pasif dan hanya memakai pisau analisis decoding-encoding. Justru pada diskusi ini penonton dipandang sebagai khalayak yang masif dan dapat melakukan satu mata rantai produksi ulang tersebut. Well, untuk lebih jelas tentang acara ini mari kita dengarkan rekaman diskusinya.



24 Jul 2012

Gemah Ripah Loh Jinawi

Pantai memang salah satu tempat favorit saya. Saya suka menikmati ketenangan, saya suka mendengar gemuruh ombak, saya suka melihat nelayan yang sedang men-jermal, saya suka ketegaran karang, saya suka kehijauan tumbuhan laut, saya suka lentuk kerang, saya suka menyelami teluk, saya suka menantang tebing, saya suka pasir pantai. Semua menjadi anugerah yang gemah ripah loh jinawi. Aneka hayati, warna-warni seperti pelangi, tapi kenapa masih saya temui sampah di pesisir? Garis lurus di ufuk pantai juga begitu subtil, ia membentang seperti tiada kepunahan. begitu... begitu.. dan... 


8 Jul 2012

Prolog Buku Megen2012


Tuan dan Puan yang saya hormati.

Buku, adalah buku. Tuan dan puan, perlu diketahui. Buku merupakan kumpulan-kumpulan aksara, konotasi, kritik, dan pikiran tekstual yang abadi. Peradaban manusia dimulai dari menulis. Menulis adalah kemuliaan bagi kelangsungan hidup manusia.

Saya adalah bagian dari generasi amnesia, lupa akan sejarah, maka saya akan tuliskan beberapa alinea. Karena sejarah adalah sekarang. Saya adalah bagian dari generasi gegar budaya, setiap hari menonton film amerika, dan ingin menjadi seperti artis korea. Percaya atau tidak, saya maniak majalah playboy versi Indonesia, televisi pelampiasan saya setelah berkelana. Saya adalah bagian dari generasi romansa, setiap hari bergalau-ria, tidak heran, karena itu relasi antar manusia. Percaya atau tidak, saya adalah fasis klub sepakbola. Saya adalah bagian dari generasi hiperbola, suka merekayasa serta mencibir para fashionista. Semiotika ratu tega. Represi untuk siapa? Representasi oleh siapa?

Untuk zaman yang terus berotasi. Untuk kosmos yang selalu menanti. Untuk kepercayaan dan keniscayaan relasi. Berapa ribu kata terhampar dalam ambisi? Merayap menjadi sebuah lembar buku yang bukan fiksi. Tolong tuan dan puan mengerti. Buku ini tidak berisi bualan atau ilusi. Hanya sekedar imajinasi dan pengandaian para pribadi. Tak bisa dipungkiri, kami bukan bagian dari generasi puritan. Karena kami tidak hipokrit, yang hanya berpura-pura, yang hanya memasang muka tebal.

Seberapa jauh kami menghargai karya ini, seperti seberapa jauh kami menghargai orang-orang terdahulu kami. Tuan dan puan, perlu diketahui. Buku ini juga difasilitatori oleh dosen tercinta kami yaitu, Mas Fajar Junaedi.
 
Apa yang diuraikan dalam buku “Relasi Gender Antara Kepercayaan dan Keniscayaan” pada dasarnya ingin menggugah kembali, tentang ketidakadilan gender, tentang kesamarataan, tentang relasi, dan tentang sensitifitas itu. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa media merupakan medium untuk menyampaikan pesan,  ketika ‘apa yang dikatakan’ dapat ditentukan oleh ‘apa medium ia gunakan’. Gender begitu sensual untuk dibicarakan, meski pada dasarnya kita masih mempertanyakan “masihkan kita membicarakan dan mewacanakan kajian gender?”

Bukan soal jenis kelamin dan seks. Pada dasarnya, Gender lahir dari suatu proses pergumulan sosial, kultural, dan psikologis yang berlangsung dalam waktu yang lama. Seperti yang di jabarkan dalam sub-sub tema dalam buku ini, diantaranya; Representasi Gender dan Identitas  dalam Video Game, Perempuan dalam Program Televisi, Perempuan dalam Media Cetak, Gender dalam Budaya Populer, Perempuan dalam Budaya Patriarki, dan Perempuan dalam Iklan.

Tuan dan puan, perlu di pahami. Kami mengetahui, bahwa kami bagian dari ‘anak-anak zaman politik’, yang senang memberi intrik dan suka menggelitik. Saat ini yang dibutuhkan adalah sebuah laku yang lebih akrab, dan lebih hangat.

Dalam dongeng pengantar ini, saya sebagai sang batu mengajak untuk memiliki ‘rasa ikut ambil bagian’ (a sense of taking part). Di saat ‘ikut ambil-bagian’, saya bukan obyekmu, tuan dan puan bukan obyekku. Kita sama-sama aktif dalam sebuah proses yang disebut ‘ada’, atau lebih tepat, ‘men-jadi’. Mari budayakan menulis, mari satukan nyali untuk berkarya!

Wassalam,
Tertanda

@GenerasiAmnesia A.K.A Muhammad Iman Ramadhan


Keterangan: 
Teks ini disampaikan saat acara launching buku 'Relasi Gender antara Kepercayaan dan Keniscayaan'. Jum'at 06/07/12 at Amor cafe.