Tuan
dan Puan yang saya hormati.
Buku,
adalah buku. Tuan dan puan, perlu diketahui. Buku merupakan kumpulan-kumpulan
aksara, konotasi, kritik, dan pikiran tekstual yang abadi. Peradaban manusia
dimulai dari menulis. Menulis adalah kemuliaan bagi kelangsungan hidup manusia.
Saya
adalah bagian dari generasi amnesia, lupa akan sejarah, maka saya akan tuliskan
beberapa alinea. Karena sejarah adalah
sekarang. Saya adalah bagian dari generasi gegar budaya, setiap hari
menonton film amerika, dan ingin menjadi seperti artis korea. Percaya atau
tidak, saya maniak majalah playboy versi Indonesia, televisi pelampiasan saya
setelah berkelana. Saya adalah bagian dari generasi romansa, setiap hari
bergalau-ria, tidak heran, karena itu relasi antar manusia. Percaya atau tidak,
saya adalah fasis klub sepakbola. Saya adalah bagian dari generasi hiperbola,
suka merekayasa serta mencibir para fashionista. Semiotika ratu tega. Represi
untuk siapa? Representasi oleh siapa?
Untuk
zaman yang terus berotasi. Untuk kosmos yang selalu menanti. Untuk kepercayaan dan keniscayaan relasi.
Berapa ribu kata terhampar dalam ambisi? Merayap menjadi sebuah lembar buku
yang bukan fiksi. Tolong tuan dan puan mengerti. Buku ini tidak berisi bualan
atau ilusi. Hanya sekedar imajinasi dan pengandaian para pribadi. Tak bisa
dipungkiri, kami bukan bagian dari generasi puritan. Karena kami tidak
hipokrit, yang hanya berpura-pura, yang hanya memasang muka tebal.
Seberapa
jauh kami menghargai karya ini, seperti seberapa jauh kami menghargai
orang-orang terdahulu kami. Tuan dan puan, perlu diketahui. Buku ini juga difasilitatori oleh
dosen tercinta kami yaitu, Mas Fajar Junaedi.
Apa yang diuraikan dalam buku “Relasi Gender Antara Kepercayaan dan
Keniscayaan” pada dasarnya ingin menggugah kembali, tentang ketidakadilan
gender, tentang kesamarataan, tentang relasi, dan tentang sensitifitas itu.
Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa media merupakan medium untuk menyampaikan
pesan, ketika ‘apa yang dikatakan’ dapat
ditentukan oleh ‘apa medium ia gunakan’. Gender begitu sensual untuk
dibicarakan, meski pada dasarnya kita masih mempertanyakan “masihkan kita
membicarakan dan mewacanakan kajian gender?”
Bukan soal jenis kelamin dan seks. Pada
dasarnya, Gender lahir dari suatu proses pergumulan sosial, kultural, dan
psikologis yang berlangsung dalam waktu yang lama. Seperti yang di jabarkan
dalam sub-sub tema dalam buku ini, diantaranya; Representasi Gender dan
Identitas dalam Video Game, Perempuan dalam Program Televisi,
Perempuan dalam Media Cetak, Gender dalam Budaya Populer, Perempuan dalam
Budaya Patriarki, dan Perempuan dalam Iklan.
Tuan dan puan, perlu di pahami. Kami
mengetahui, bahwa kami bagian dari ‘anak-anak zaman politik’, yang senang
memberi intrik dan suka menggelitik. Saat ini yang dibutuhkan adalah sebuah laku yang lebih akrab, dan lebih hangat.
Dalam dongeng pengantar ini, saya sebagai sang batu mengajak
untuk memiliki ‘rasa ikut ambil bagian’ (a sense of taking part). Di saat ‘ikut
ambil-bagian’, saya bukan obyekmu, tuan dan puan bukan obyekku. Kita sama-sama
aktif dalam sebuah proses yang disebut ‘ada’, atau lebih tepat, ‘men-jadi’.
Mari budayakan menulis, mari satukan nyali untuk berkarya!
Wassalam,
Tertanda
Keterangan:
Teks ini disampaikan saat acara launching buku 'Relasi Gender antara Kepercayaan dan Keniscayaan'. Jum'at 06/07/12 at Amor cafe.
0 komentar:
Posting Komentar