8 Jul 2012

Prolog Buku Megen2012


Tuan dan Puan yang saya hormati.

Buku, adalah buku. Tuan dan puan, perlu diketahui. Buku merupakan kumpulan-kumpulan aksara, konotasi, kritik, dan pikiran tekstual yang abadi. Peradaban manusia dimulai dari menulis. Menulis adalah kemuliaan bagi kelangsungan hidup manusia.

Saya adalah bagian dari generasi amnesia, lupa akan sejarah, maka saya akan tuliskan beberapa alinea. Karena sejarah adalah sekarang. Saya adalah bagian dari generasi gegar budaya, setiap hari menonton film amerika, dan ingin menjadi seperti artis korea. Percaya atau tidak, saya maniak majalah playboy versi Indonesia, televisi pelampiasan saya setelah berkelana. Saya adalah bagian dari generasi romansa, setiap hari bergalau-ria, tidak heran, karena itu relasi antar manusia. Percaya atau tidak, saya adalah fasis klub sepakbola. Saya adalah bagian dari generasi hiperbola, suka merekayasa serta mencibir para fashionista. Semiotika ratu tega. Represi untuk siapa? Representasi oleh siapa?

Untuk zaman yang terus berotasi. Untuk kosmos yang selalu menanti. Untuk kepercayaan dan keniscayaan relasi. Berapa ribu kata terhampar dalam ambisi? Merayap menjadi sebuah lembar buku yang bukan fiksi. Tolong tuan dan puan mengerti. Buku ini tidak berisi bualan atau ilusi. Hanya sekedar imajinasi dan pengandaian para pribadi. Tak bisa dipungkiri, kami bukan bagian dari generasi puritan. Karena kami tidak hipokrit, yang hanya berpura-pura, yang hanya memasang muka tebal.

Seberapa jauh kami menghargai karya ini, seperti seberapa jauh kami menghargai orang-orang terdahulu kami. Tuan dan puan, perlu diketahui. Buku ini juga difasilitatori oleh dosen tercinta kami yaitu, Mas Fajar Junaedi.
 
Apa yang diuraikan dalam buku “Relasi Gender Antara Kepercayaan dan Keniscayaan” pada dasarnya ingin menggugah kembali, tentang ketidakadilan gender, tentang kesamarataan, tentang relasi, dan tentang sensitifitas itu. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa media merupakan medium untuk menyampaikan pesan,  ketika ‘apa yang dikatakan’ dapat ditentukan oleh ‘apa medium ia gunakan’. Gender begitu sensual untuk dibicarakan, meski pada dasarnya kita masih mempertanyakan “masihkan kita membicarakan dan mewacanakan kajian gender?”

Bukan soal jenis kelamin dan seks. Pada dasarnya, Gender lahir dari suatu proses pergumulan sosial, kultural, dan psikologis yang berlangsung dalam waktu yang lama. Seperti yang di jabarkan dalam sub-sub tema dalam buku ini, diantaranya; Representasi Gender dan Identitas  dalam Video Game, Perempuan dalam Program Televisi, Perempuan dalam Media Cetak, Gender dalam Budaya Populer, Perempuan dalam Budaya Patriarki, dan Perempuan dalam Iklan.

Tuan dan puan, perlu di pahami. Kami mengetahui, bahwa kami bagian dari ‘anak-anak zaman politik’, yang senang memberi intrik dan suka menggelitik. Saat ini yang dibutuhkan adalah sebuah laku yang lebih akrab, dan lebih hangat.

Dalam dongeng pengantar ini, saya sebagai sang batu mengajak untuk memiliki ‘rasa ikut ambil bagian’ (a sense of taking part). Di saat ‘ikut ambil-bagian’, saya bukan obyekmu, tuan dan puan bukan obyekku. Kita sama-sama aktif dalam sebuah proses yang disebut ‘ada’, atau lebih tepat, ‘men-jadi’. Mari budayakan menulis, mari satukan nyali untuk berkarya!

Wassalam,
Tertanda

@GenerasiAmnesia A.K.A Muhammad Iman Ramadhan


Keterangan: 
Teks ini disampaikan saat acara launching buku 'Relasi Gender antara Kepercayaan dan Keniscayaan'. Jum'at 06/07/12 at Amor cafe.

0 komentar:

Posting Komentar