Sejatinya, para ‘filmmaker’ memiliki tingkat kedekatan yang begitu significance (penting) dari para penikmat film atau penonton film. Konteks yang dibangun dalam tulisan ini tak lebihnya perbincangan kita mengenai tingkat minat menonton film yang dirasa menurun. Perkembangan film pada pasca reformasi mengalami ejakulasi yang begitu pesat. Hal ini juga dibarengin dengan munculnya para pecinta, penikmat dan penonton film baru. Well, saya rasa pasca reformasi sudah lama kita emban. Saya tidak mau terlalu jauh membicarakan film dalam skup nasional. Akhir-akhir ini saya sedikit gelisah dengan minat menonton di ranah komunitas. Padahal, menonton adalah bagian terakhir dari membuat film, tapi bukan hanya film yang kita buat loh. Seperti yang ditegaskan John Hartley (1992), audiens adalah fiksi yang tak tampak yang diproduksi secara institusional bagi beragam institusi guna menjaga mekanisme kelangsungan hidup mereka sendiri. Audiens hanya ada ketika audiens menonton. Lalu ditambahkan pula oleh Nightingale (1996) ‘audiens hanya ada diambang interaksi dengan teks-bukan sebagai sebuah kelompok yang nyata-nyata ada yang menunggu untuk merespons’. Akan tetapi istilah ‘audiens’ menjadi kandungan konotasi yang pasif, hanya menerima dan menyimpan.
Terkait hal tersebut, menciptakan sebuah ‘cultur’ menonton yang aktif saat ini dirasa sangat multifungsi. Dimana audiens dapat memberikan feedback atas (decoding) membaca teks, melibatkan pemahaman terhadap kode-kode yang beraneka ragam dalam medium polisemik ini. Menonton merupakan salah satu kebutuhan otonom diri yang merangkum sebagai berikut: kebutuhan akan informasi, kebutuhan akan identitas, kebutuhan akan interaksi sosial, dan kebutuhan akan pengalihan perhatian. So, kebutuhan-kebutuhan yang kita telah dapat dari menonton patutnya kita manfaatkan dengan baik. But, setelah saya pikir-pikir selama saya bersemedi digunung ……… rupa-rupanya ‘audiens’ bisa terbagi menjadi beberapa generasi, dan diantaranya sebagai berikut:
1. Penonton Bioskop
Generasi penonton ini, biasanya mereka hanya berminat menonton film-film yang sedang up date di bioskop, dan generasi penonton ini gak jauh dari film-film yang popular. Celakanya, bioskop-bioskop kita sebagian besar hanya mendistribusi dari mainstream Film Hollywood.
2. Penonton Rumahan
Generasi penonton ini lebih lunak dan fleksibel dibanding dengan generasi pertama. Biasanya, generasi ini cendrung mementingkan selera film mereka, dan generasi ini tidak terpaku pada film-film popular. Mereka lebih mengupayakan se-nyaman mungkin bagaimana agar menonton mereka seperti di bioskop-bioskop. Semisal, mereka cendrung memilih kompilasi film sendiri dan membuat home theater. Celakanya, generasi ini kadang-kadang kalau tidak memiliki film yang sesuai dengan selera mereka, maka mereka memilih untuk membajak atau membeli bajakannya.
3. Penonton yang Beramunisi
Dalam artian, generasi penonton ini tidak mementingkan tempat menontonnya. Mereka lebih cendrung aktif dalam menonton, mampu berwacana setelah menonton film tersebut. generasi penonton ini terkesan cerewet, biasanya generasi penonton ini diliputi oleh para pencinta dan kritikus film. Karena mereka telah memiliki amunisi dan kebutuhan yang telah terpenuhi sebelum menonton film. Generasi ini juga tidak terpaku pada film-film popular ataupun non popular. Generasi ini bisa dibilang generasi penonton prefeksionis.
4. Penonton Minor
Generasi penonton ini merupkan generasi terakhir yang saya temui. Generasi ini, biasanya hanya menonton film yang mereka telah buat. Mereka lebih merasa puas ketika mereka mebuat film lalu mereka juga yang menonton. Celakanya, generasi ini terkadang tidak membuka diri dari luar kotak film mereka.
Dari apa yang sudah saya sebutkan diatas, sampai saat ini saya masih mempertanyakannya dengan dalam. Apakah kategori ini sudah cukup relevan? Well, saya hanya berwacana. So, teman-teman jangan lupa cuci kaki sebelum tidur. Thank’s for attention.
0 komentar:
Posting Komentar