4 Feb 2012

Setetes hingga Segelas

   Mengerjakan sesuatu yang dibilang awal dan baru diraba adalah tantangan bagi saya, kemampuan saya bisa diuji dan boleh dicoba pada saat itu. Men-direct sebuah film kalau bahasa kerennya, film yang berdurasi 11 menit 51 detik (kalau gak salah) adalah flm kedua saya. Bukan soal tanggung jawab ataupun kegelisahan, jujur boleh jujur film ini sebenarnya merupakan hutang-piutang kami saat bergelut dalam keanggotaan Komunitas Film dikampus, boleh dibilang hasil kerja keras saya bersama teman-teman saat produksi ini sebenarnya gak terbayar lunas. Tujuan pertama sih yah bayar hutang karya itu, tapi setelah dipikir-pikir 'kenapa harus melandaskan karena hutang, ingin berkarya aja koq mesti kepepet'. selanjutnya, saya pun memutar stir kendali pikiran saya "untuk membuat karya ini saya tidak mendasarkan karena utang, tapi karena kebersamaan saya dan teman-teman untuk berproses".

"Gak terbayar lunas", saya ingin menjelaskan kalimat ini;
  1. film ini dibuat karena tuntutan kakak-kakak komunitas, alhasil saya sendiri merasa tekanan berkarya saya sebatas karena orang lain yang menuntut saya bukan dari hati nurani.
  2. film ini sempat mendapat masalah ketika proses editing, hampir setengah kaset mini-dv mengalami 'blank-video', alhasil kami harus retake beberapa scene yang hilang.
  3. karena terburu-buru mengejar festival film di salah satu kampus jogja, maka saat melakukan proses editing ke-dua saya merasa kurang relax dan enjoy.
  4. jujur, dalam film ini saya yang sebagai sutradara sepertinya bukan pure menjadi sutradara melainkan sebatas 'penghantar pikiran sang penulish naskah'. Alhasil, beberapa mise en scene yang disarankan oleh saya bertolak belakang dipandangan crew. Yah, apa boleh buat "ini juga pengalaman pertama saya".
       Ah.. sudahlah, spertinya saya terlalu banyak ber-Apologi. Walaupun hasil dari film ini kurang memuaskan, baik dalam proses dan hasilnya. Tapi saya merasa bangga ketika film ini sudah menjadi arsip kekakayaan berkarya saya bersama teman-teman. Banyak hal yang didapat setelah film ini dipostingkan, diantaranya sebagai berikut:

    1. Saat film ini masuk 15 besar dalam ajang Festival Avikom UPN Yogyakarta, ada selentingan dari juri (entah ini ditujukan untuk film ini atau keselurahan peserta) "ada film yang ingin menonjolkan teknik sinematografinya tetapi sangat menjadi berlebihan, dalam film seharusnya teknik dengan teori mesti saling bersinergi, dan tidak berlebihan atau kekurangan".
    2. ketika film ini diputar di Jogja Movie Meeting Point (JMMP) #6, mendapatkan kritikan pedas dari pembicara kala itu, ia berpendapat "film ini terlalu umum, dan kekuatan story-telling masih kurang".
    3. lain halnya, saat film ini dilaunching di Karta Pustaka bersamaan dengan empat film Komunitas Pilem Orang Komunikasi (Kompor.kom). malah ada yang bertanya "kenapa film ini dibuat dengan cahaya minim?", jawab saya; "kepengen tunjukin karakter tokoh film dengan teknik cahaya lampu aja sih". Ditambah pula, "setahu saya over-dosis itu biasanya terjadi untuk pemakai narkoba" dan saya menjawab lagi; "sesuatu yang berlebihan itu kan gak baik juga mas, apalagi film ini dibuat bersamaan dengan merebaknya kasus minuman beralkohol oplosan yang menyebabkan kematian belasan orang (lihat berita)".
         Nampaknya, beberapa dorongan, kritik, hingga saran sepertinya sudah sedikit saya dapatkan. Hingga saat ini saya sepertinya telah 'Falling in Love' dengan dunia film, walaupun konsentrasi jurusan saya tidak prospek kebagian arah itu.
      "I don't care about the odds, but I must still deal with it until the end"
         Film ini juga bukan sebuah akhir dalam perjalanan saya untuk menemukkan kesuksesan, film ini merupakan setetes air yang akan mengalir hingga mengisi gelas itu menjadi penuh. oleh karena itu, film ini berjudul "Segelas Kebersamaan"

        0 komentar:

        Posting Komentar