Perjalanan ku menelusuri negri mimpi ini berlanjut, kedudukkan ku di samping wanita parfum cassablank ternyata tidak menghasilkan apa-apa, apa boleh buat seperti pesan yang kutinggalkan pada cerita sebelumnya “karena cinta tak harus memiliki”. Luka hati sepertinya sudah sering aku alami, dan itu tentunya bukan menjadi halangan untuk ku. Pertualangan hati penasaran ku tentang negri ini lah yang menjadi semangatnya. Seretan kaki ku mulai meninggalkan wanita cassablank itu, melewati gang sempit tembok yang menjulang tinggi disertai coretan-coretan menghiasi sekitar perjalananku.
Perut ku mulai berdiskusi, pikiran, dan hati pun ikut bertanya. “Dimanakah kita bisa menjumpai rumah makan?”, mulai ku percepat langkah kaki, mata, dan pikiran hanya tertuju pada rumah makan sederhana yang bisa cukup dengan kantong saku ku. Tak selang beberapa jauh akhirnya aku menemukan rumah makan sederhana itu. Isi rumah makan tersebut ternyata ramai, penuh dengan beraneka ragam orang. Ah.. Tapi itu bukan permasalahan bagi ku.
“Sayur terong”
“Telur dadar”
“Tahu, tempe”
“Minumnya mas?”
“Teh hangat bu”
Huahhhh.... Diskusi panjang perutku akhirnya mulai terhenti. Dengan sangat sigap aku menyantap makanan sederhana ini. seperti yang sudah aku bilang rumah makan ini ramai dan beraneka ragam orang, tapi ternyata itu hanya pandangan mata ku dari kejauhan saja. Rumah makan ini nampaknya bukan rumah makan biasa. Orang-orang yang sedang makan disini rata-rata badannya tinggi besar berkulit hitam, dan hanya satu sampai dua orang yang berkulit kecoklatan. Tinggi besar kulit kehitaman atau kecoklatan, “so.. no problem about me”. Ada yang ganjil dengan rumah makan ini. kehadiranku nampaknya sudah mulai berpengaruh dengan orang-orang itu.
Bruuukkkkkk.......!! suara gebrakkan meja dari seorang diantara mereka.
“Aku tidak suka keberadaannya”
Mulanya suasana di rumah makan itu nampak biasa saja, tapi ketika terdengar suara gebrakkan itu nada jantungku mulai berantakkan. Seakan sedang mengayuhkan sepeda berkilo-kilometer seraya aku menyuap demi suapan makanan ku. Hingga suapan terakhir kegaduhan itu masih saja terdengar di telingan ku.
“Mereka tidak mengerti permasalahan itu”
“Sudah nanti kita pecahkan dengan kepala dingin”
“Kepala ku sudah dingin sejak hari kemarin”
“Ah.. kau selalu begitu”
“Bull shit lah mereka!”
Aku kira kegaduhan dan jeritan hati tidak akan muncul lagi setelah setengah perjalanan ku menyelusuri negri mimpi ini, tapi ternyata masih saja ku temukan kembali kejadian baru. Percakapan itu sepertinya bercampur aduk dengan perasaan, logika, hingga emosi. Oia, aku lupa orang-orang tinggi besar berkulit hitam dan kecoklatan itu berjumlah sekitar lima orang dan dua diantaranya berkulit kecoklatan. Aku baru menghitung karena perut ku sudah mulai tertidur. Kembali percakapan kusir itu, maaf.. aku bukannya sedang menguping tentang orang-orang yang sedang bercakap tapi memang tak bisa dihindarkan lagi, karena semua kepekaan ku akan teruji disetiap ruang-ruang kehidupan ini.
***
“What do you want?”
“hmmm….”
Seketika aku tersentak dengan perkataan si bule perancis, singgahku disebelah bule perancis menjadi perhatian banyak manusia. Kita berada di keramai yang sunyi, aku-dia-mereka seperti debu-debu di trotoar bumi. Orang-orang mulai bersikap dengan bahasa tubuh ku, hingga ku intip dari jendela kamar, orang-orang itu mulai kembali menyetubuhi prasangkanya.
“Aku takut tentang cerita di senja tadi”
“Mengapa engkau takut?”
“Mereka bercerita seperti tidak mengada”
“Memang apa cerita di senja tadi?”
“Sudahlah… bukan tentang manusia dan alam”
“What? So..”
“Tentang anak pinak yang bertengkar merebut kuasa diantara kuasa”
Sepercik darah tiba-tiba terlontar dari batuknya yang menghempas kedamaian disekitar. Aku memerah diantara perkata si bule perancis itu. Mungkin hingga percikan terakhir darah itu akan berbinar di tengah sinaran rembulan pada malam minggu.
“Sudah… aku tahu tentang cerita mu”
“Kau tahu apa tentang cerita menakutkan itu?”
Pertanyaan terakhir tentang cerita itu membuat aku tenang dalam keramaian yang menjelma menjadi kesunyian. Mungkin hanya sepatah kata bule perancis itu bernyawa dalam jiwa. Aku teringat, tentang tangisan-tangisan tua disepanjang jalan tol Jakarta Raya.
Jakarata raya…
Tak sepi hinggap lampu-lampu tua terang-menderang
Diantara selipan suap sang penguasa durjana
Jakarta raya…
Diantara selokan-demi-selokan engkau tertata
Terhuni sang penakluk moral
Tanpa kapal yang membentang layarnya
Jakarta raya…
Hanya sekedar selipan tangisan-tangisan yang suram
Sudah, menjadi bangkai diantara global
Jakarta raya…
Mampukah engkau berdiri tegap?
***
0 komentar:
Posting Komentar