18 Mar 2011

Lunturnya Kebhinekaan Ku


Oleh: Muhammad Iman Ramadhan

Belum lama ini kita telah dihadapkan dengan peristiwa kekerasan terhadap jama’ah Ahmaddiyah. Terkait dengan pergolakan tersebut dapat memberi pukulan keras terhadap prinsip negara Indonesia yaitu ‘Bhineka Tunggal Ika’ (berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Bagi Ernest Renan, bangsa adalah sebuah jiwa, yang lahir dan terbentuk karena atau di atas dua hal (Sardo, 2005: 67). Pertama, kepemilikan bersama atas sebuah warisan kenangan yang kaya. Warisan kenangan yang kaya disini menurut Renan terutama kenangan akan pengorbanan di masa lalu. Kedua, kesepakatan atau persetujuan di masa kini, yang ditandai dengan hasrat yang tegas untuk terus hidup bersama, serta adanya kehendak untuk terus mempergunakan warisan (kenangan) yang diterima secara merata. Memang kalau kita melihat secara menyeluruh bahwa ajaran atau keyakinan Ahmaddiyah sendiri tidak memiliki kontribusi dalam pembentukkan negara dan bangsa ini. Seperti apa yang sudah dikatakan Renan, kepemilikan bersama dan kehendak untuk mempergunakan warisan secara merata menjadikan kita sebagai bangsa yang bernegara juga berprinsip.
Persis seperti apa yang didasarkan negeri ini yaitu ‘Pancasila’ selalu menjadi momongan panjang yang tiada akhirnya. Pemaknaan hingga peng-amalan sekarang hanya tipu daya dan buaian retorika saja. Kita tidak selamanya tidur dalam selimut sutra yang menjadikan kepentingan-kepentingan politik semata. Berbagai warna menghiasi naungan keintelektualan negeri ini, tapi apa daya? Mereka semua hanya mementingkan kepentingan individu semata. Kesadaran dan kesadaran lagi ku berkata kemana aku harus melangkah? Barat, timur, utara, ataukah selatan. Andaikan kita bisa bersatu untuk memajukkan negeri ini. aku rasa tidak akan ada lagi orang-orang yang berbicara tanpa berpikir seperti menebak tanpa membidik, “it’s stupid understood”.
            “Reception In Complexu” (penerimaan dalam keseluruhan) adalah ajaran teori van den berg dan salmon keyzer, menurut teori ini adat-istiadat dan hukum (adat) sesuatu golongan hukum masyarakat adalah recptio seluruhnya dari agama yang dianut oleh golongan masyarakat itu (Sudiyat, 1978: 3). Ketidak berdayaan kita dalam menyikapi dan memahami secara menyeluruh tentang aturan-aturan tatanan sosial menjadi faktor utama bobroknya negara ini. Padahal negeri ini sudah mengadopsi demokrasi (yang katanya). Celakanya transisi pada tahun 1999 (reformasi) ternyata tidak menghasilkan banyak memajukan negara ini, lagi-lagi “ada udang dibalik batu”.
            Memahami tentang kebobrokkan negara ini adalah dari setiap individu-individu yang memiliki peran penting dipemerintahannya (pejabat). Menurut paradigma psikoanalisis adalah mengenali insting-insting seksual dan agresi- dorongan biologik yang membutuhkan kepuasan, insting yang bersifat hediter berkembang sejalan dengan pertumbuhan usia, dimana perkembangan biologik menyediakan bagian-bagian tubuh tertentu untuk menjadi pusat sensasi kepuasan (Alwisol, 2005: 3). Ketidakpuasan dari setiap pejabat pemerintah merupakan  sebab utama lambatnya pembangunan negara ini dan dapat berdampak ke moral bangsa yang berujung kepada kepentingan individu semata bukan kepada pembangunan negara.
Pemuda kehilangan arah
            Pemuda yang menjadi deretan terdepan terhadap perubahan nampaknya mulai pudar terseret derasnya gelombang era globalisasi yang berdampak terhadap kehedonisan. Di era globalisasi ini yang tanpa batas dapat mempengaruhi kehidupan, baik itu dari jati diri, karakter, teknologi, ekonomi, hingga interaksi global.  Kita mengetahui bahwa dengan adanya era globalisasi akan menjadikan kita semakin terbuka dalam menerima informasi. Bahkan karakter dan nilai-nilai suatu bangsa juga mulai memudar ketika pemuda tidak lagi memiliki rasa nasionalisme dan kebangsaannya. Hal ini terlihat sekilas ketika kita melihat pemuda yang lebih memilih mengkonsumsi barang luar negeri ketimbang warisan yang dilahirkan dari leluhurnya terdahulu. Bisa dibilang saat ini kita kehilangan aktor perubahan dari sang darah muda, dan semakin banyak pula pemuda yang kehilangan arah dikarenakan kurang adanya pembentukkan karakter dan rasa nasionalismenya.
Patutnya kita menyadari bahwa peran pemerintahan dan lembaga-lembaga saat ini seharusnya diarahkan kepada pembentukkan karakter dan nasionalisme pemuda dalam berbangsa. Pengarahan yang dilakukan seharusnya juga bersinergi dengan kondisi saat ini, merata dan berkosistensi dengan apa yang sudah ditujukan, agar tidak terjadi kelunturan terhadap kebhinekaan.


0 komentar:

Posting Komentar