Kita semua pasti mempunyai mimpi tentang pemimpin yang ideal, tapi apakah itu hanya mimpi saja. Kita harus melakukan tindakan, tidak hanya sekedar mimpi semata. Orang-orang selau mempunyai rencana yang berlapis-lapis sehingga sering terlewatkan. Ada satu hal yang menarik ketika saya membaca buku The Power of Kepepet yang mengatakan “semua orang punya keinginan tapi tak banyak orang punya pencapaian”.[1] Kita memiliki angan-angan tentang sosok pemimpin yang ideal. Kita juga terkadang tidak menyadari seperti apa sosok ideal itu. Patutnya kita mentargetkan terlebih dahulu, seperti apa ideal yang kita inginkan. Mentargetkan sebelum merencanakan sebenarnya juga termasuk dalam pecapaian angan. Hal ini juga kita dorong dengan adanya niat yang total dalam mencari pemimpin yang ideal.
Orang-orang masih bertanya-tanya tentang pemimpin yang ideal. ‘Pasti itu kesalahan pemimpinnya’ begitulah perkataan yang sering muncul dari sebagian orang-orang. Adakalanya kita tidak selalu menyalahkan pemimpin. Tapi apakah itu bisa? Tidak, setiap kaum dimuka bumi ini pasti mempunyai pemimpin dan memimpin. Peran besar yang dipegang oleh seorang pemimpin sangatlah besar. “Sesungguhnya firaun amat congkak di bumi dan menjadikan penduduk bumi terpecah-pecah”.[2] Itu potongan sebagian ayat yang mencerminkan seorang pemimpin yang amat congkak. Lalu pemimpin seperti apakah yang kita impikan selama ini? Nabi Muhammadlah yang seharusnya kita jadikan inspirasi kepemimpinan yang ideal. Sifat Nabi Muhammad SAW meliputi Sidiq (benar), Amanah (terpercaya), Tablig (menyampaikan), Fatonah (pandai). Tidak ada yang serupa dengan beliau, berganti zaman berganti pula pemimpinnya. Manusia selalu dihadapkan oleh ujian-ujian dan cobaan yang menjadi penyemangat kita. Kita sepatutnya dapat memimpin dan dipimpin. Kesadaran penuh atas diri kita sendiri merupakan kunci utama.
“Engkau adalah putra sang fajar, engkau akan menjadi manusia yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu”, begitulah kalimat yang diucapkan oleh sang ibu kepada Soekarno.[3] Tokoh besar negeri Indonesia yang sempat menggemparkan dunia menjadi kebangga dari rakyatmya tersendiri. Sosok Ir. Soekarno yang merupakan sosok pemimpin yang sering menyampaikan pesan-pesan motivasinya sewaktu pidato di depan umum. Di era globalisasi ini, pesan motivasi malah kita dapat dari media, buku, iklan, hingga coretan-coretan pinggir jalan. Tidak seperti di era Soekarno, Bennito Mussolini, Ernesto Che Guavara, atau pemimpin yang se-era dengan mereka yang selalu memberikan penyemangat rakyatnya dengan dalil-dalil atau motivasinya. Raykat pastinya sudah rindu dengan penyampaian pesan penyemangat dari sang pemimpinnya. Tetapi tidak selamanya pula kita tergantung dengan perkataan dari sang pemimpin, kita patut menyadari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dari sang pemimpin. Apakah itu adil atau tidak? Dalam wasiat yang ditinggal dari Ernesto Che Guavara “pengorbanan kita adalah dengan kesadaran sepenuhnya, yakni sebagai ongkos bagi kemerdekaan yang kita bangun, jalan kita sangat panjang, dan sebagian dari kita malah tidak diketahui, kita sadar akan keterbatasan diri, kita akan mendukung orang-orang dari abad 21: yakni kita sendiri”.[4] Kesadaran dan penuh kesadaranlah yang saat ini kita patut garis bawahi kalau memang kita ingin mendapat pemimpin yang ideal.
Mencari dan terus mencari itulah yang seharusnya kita lakukan saat ini. kita seharusnya tidak akan selalu menyerah dalam mencari solusi permasalahan yang timbul. Seorang pemimpin tentunya selalu mengahadapi rintangan atau permasalahan yang sangat kompleks, contoh saja negara kita ini. Indonesia, merupakan negara yang berpendudukan lebih dari 200 juta orang masih belum terlepas dari kemiskinan. Dalam buku Orang Kaya di Negeri Miskin, mengisahkan kaum miskin yang semakin kehilangan hak-haknya oleh pembangunan yang tunduk pada pasar.[5] keterpurukkan negara ini membuat rakyatnya menjadi lebih dewasa. Kita jatuh, bangun, lalu jatuh, dan bangun lagi. Itu semua membuat kita semakin belajar dari kesalahan sebelumnya, dan mencoba bangkit kembali tanpa mengulangi kesalahan disebelumnya. Maka dari itu, sosok pemimpin yang kita butuhkan saat ini sepertinya tidak hanya jujur, adil, tegas, atau apalah yang terbaik, tetapi dapat menjadi sosok yang berdiri paling kuat di barisan depan tanpa mundur satu langkah kebelakang.
catatan kaki:
[1] Setiabudi, Jaya, The Power Of Kepepet (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), hlm. 42.
[2] Al- Qur’an, surat al qashash, ayat: 4.
[3] Archer, jules, Kisah para Diktator, biografi politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis dan Tiran, terj. As Dimyati (yogyakarta: Narasi, 2005), hlm. 164.
[4] Utomo, Teguh W, sisi lain kehidupan Ernesto Guevara (surabaya: selasar publishing, 2009), hlm. 34.
[5] Prasetyo, Eko, Orang Kaya di Negeri Orang Miskin (Yogyakarta: Resist Book, 2005).
Orang-orang masih bertanya-tanya tentang pemimpin yang ideal. ‘Pasti itu kesalahan pemimpinnya’ begitulah perkataan yang sering muncul dari sebagian orang-orang. Adakalanya kita tidak selalu menyalahkan pemimpin. Tapi apakah itu bisa? Tidak, setiap kaum dimuka bumi ini pasti mempunyai pemimpin dan memimpin. Peran besar yang dipegang oleh seorang pemimpin sangatlah besar. “Sesungguhnya firaun amat congkak di bumi dan menjadikan penduduk bumi terpecah-pecah”.[2] Itu potongan sebagian ayat yang mencerminkan seorang pemimpin yang amat congkak. Lalu pemimpin seperti apakah yang kita impikan selama ini? Nabi Muhammadlah yang seharusnya kita jadikan inspirasi kepemimpinan yang ideal. Sifat Nabi Muhammad SAW meliputi Sidiq (benar), Amanah (terpercaya), Tablig (menyampaikan), Fatonah (pandai). Tidak ada yang serupa dengan beliau, berganti zaman berganti pula pemimpinnya. Manusia selalu dihadapkan oleh ujian-ujian dan cobaan yang menjadi penyemangat kita. Kita sepatutnya dapat memimpin dan dipimpin. Kesadaran penuh atas diri kita sendiri merupakan kunci utama.
“Engkau adalah putra sang fajar, engkau akan menjadi manusia yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu”, begitulah kalimat yang diucapkan oleh sang ibu kepada Soekarno.[3] Tokoh besar negeri Indonesia yang sempat menggemparkan dunia menjadi kebangga dari rakyatmya tersendiri. Sosok Ir. Soekarno yang merupakan sosok pemimpin yang sering menyampaikan pesan-pesan motivasinya sewaktu pidato di depan umum. Di era globalisasi ini, pesan motivasi malah kita dapat dari media, buku, iklan, hingga coretan-coretan pinggir jalan. Tidak seperti di era Soekarno, Bennito Mussolini, Ernesto Che Guavara, atau pemimpin yang se-era dengan mereka yang selalu memberikan penyemangat rakyatnya dengan dalil-dalil atau motivasinya. Raykat pastinya sudah rindu dengan penyampaian pesan penyemangat dari sang pemimpinnya. Tetapi tidak selamanya pula kita tergantung dengan perkataan dari sang pemimpin, kita patut menyadari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dari sang pemimpin. Apakah itu adil atau tidak? Dalam wasiat yang ditinggal dari Ernesto Che Guavara “pengorbanan kita adalah dengan kesadaran sepenuhnya, yakni sebagai ongkos bagi kemerdekaan yang kita bangun, jalan kita sangat panjang, dan sebagian dari kita malah tidak diketahui, kita sadar akan keterbatasan diri, kita akan mendukung orang-orang dari abad 21: yakni kita sendiri”.[4] Kesadaran dan penuh kesadaranlah yang saat ini kita patut garis bawahi kalau memang kita ingin mendapat pemimpin yang ideal.
Mencari dan terus mencari itulah yang seharusnya kita lakukan saat ini. kita seharusnya tidak akan selalu menyerah dalam mencari solusi permasalahan yang timbul. Seorang pemimpin tentunya selalu mengahadapi rintangan atau permasalahan yang sangat kompleks, contoh saja negara kita ini. Indonesia, merupakan negara yang berpendudukan lebih dari 200 juta orang masih belum terlepas dari kemiskinan. Dalam buku Orang Kaya di Negeri Miskin, mengisahkan kaum miskin yang semakin kehilangan hak-haknya oleh pembangunan yang tunduk pada pasar.[5] keterpurukkan negara ini membuat rakyatnya menjadi lebih dewasa. Kita jatuh, bangun, lalu jatuh, dan bangun lagi. Itu semua membuat kita semakin belajar dari kesalahan sebelumnya, dan mencoba bangkit kembali tanpa mengulangi kesalahan disebelumnya. Maka dari itu, sosok pemimpin yang kita butuhkan saat ini sepertinya tidak hanya jujur, adil, tegas, atau apalah yang terbaik, tetapi dapat menjadi sosok yang berdiri paling kuat di barisan depan tanpa mundur satu langkah kebelakang.
catatan kaki:
[1] Setiabudi, Jaya, The Power Of Kepepet (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), hlm. 42.
[2] Al- Qur’an, surat al qashash, ayat: 4.
[3] Archer, jules, Kisah para Diktator, biografi politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis dan Tiran, terj. As Dimyati (yogyakarta: Narasi, 2005), hlm. 164.
[4] Utomo, Teguh W, sisi lain kehidupan Ernesto Guevara (surabaya: selasar publishing, 2009), hlm. 34.
[5] Prasetyo, Eko, Orang Kaya di Negeri Orang Miskin (Yogyakarta: Resist Book, 2005).
0 komentar:
Posting Komentar