19 Feb 2011

16 Hari

Boulevard Universitas Islam Indonesia, kamis 28 oktober 2010, sekitar pukul. 17.00 wib, tenda hijau berdiri tegak di depan Boulevard UII, aku bersama teman-teman kampus membuka posko sederhana dengan misi kemanusiaan. Awalnya tenda itu sudah berdiri dari dua hari sebelumnya, tapi setelah aku perhatikan tenda ini tidak ada yang mengurusi, seperti hiasan belaka. Dengan modal pikiran, alat seadanya, dan bantuan dari teman-teman. Aku pun meminta izin untuk mengambil alih tenda itu, sedikit ragu tapi dalam hati berkata “ini misi kemanusiaan”.

Pada hari itu juga kami mengumpulkan semua bantuan dari teman-teman dekat, menjemput bola kalau bahasa manajemennya. Satu persatu bantuan datang dengan segala macam bentuk. Pakaian, mie instant, air mineral, hingga rupiah. Malam pertama aku bersama teman-teman di tenda berjaga-jaga hingga esok fajar, tapi apa daya malam pertama itu juga aku dan teman-teman sudah di kejutkan suara gemuruh tiga kali berturut-turut. Ah, itu cuman suara petir. “ujar temanku”. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan posko kami. Gunungnya meletus besar, sambil terdesah-desah mereka berkata.

Suara ambulance, gerombolan mobil, motor, aparat keamanan lalu-lalang meramaikan malam itu. Suasana malam itu begitu mecekam, butiran-butiran material abu vulkanik menghiasi sepanjang jalan kaliurang. Ayo cepat bukakan pintu gerbang, arahkan semua pengungsi ke gelanggang olahraga. Teriakku kepada teman-teman. Oia, malam itu sekitar pukul 11.45, hingga dini hari.

Gelanggang olahragapun sesak dipenuhi sekitar 250 pengungsi, koordinasi dengan universitaspun kami lakukan demi kelangsungan hidup para pengungsi. Kami sadar, kami tidak akan mampu mengorganisir manusia sebanyak itu, sebabnya karena keterbatasan alat dan sumber daya manusia. Maklum kala itu aku hanya ber-12 orang, namun dengan bantuan dari pihak relawan universitas semua dapat terorganisir.

Hari-hari begitu cepat berlalu di posko bersama teman-teman, letih, senang, gelisah, hingga mandi bersama dipelataran taman boulevard. Mendistribusikan bantuan ke desa-desa terpencil, cangkringan, kepurharjo, srumbung hingga boyolali. Kami tidak pernah mengakui kalau kami relawan, tapi orang-orang selalu mengangap kami relawan. Ya, kalau kami terlalu dipuji perkerjaan kami bisa jadi terbengkalai.

Masa-masa gunung erupsi, universitas sedang melangsungkan ujian tengah semester. Aku dan teman-teman nampak keteteran menghadapi ujian, karena kami berpendapat bisa-bisa misi kemanusiaan ini tidak terlaksana hingga akhir. Dua minggu sudah kami menghadapi ujian bersamaan misi kemanusiaan ini. Kala itu aku sudah menghitung hari-hari bersama kita di posko.

Ternyata sudah 16 hari kami berada di posko hijau ini. hari terakhir di posko ini kami dikejutkan kembali dengan suara gemuruh dahsyat pada malam harinya. Kali ini lain dari pada sebelumnya, hujan kerikil dan pasir disertai wangi belerang mencekik tenggorokkan kami. Orang-orang lebih panik dari sebelumnya, kecelakaan, pingsan, ketakutan, hingga cemas bercampur menjadi satu. Aku dan teman-teman tetap berusaha tenang agar konsentrasi tetap terjaga. Pertolongan pertama mengevakuasi pengungsi ke gedung-gedung universitas, begitulah tujuan pertama ku. Karena saat itu pengungsi harus diberi perlindungan tempat yang aman terlebih dahulu.

Siang hari sekitar pukul 12.15 WIB, informasi tentang zona merah dinaikkan menjadi 20 km dari puncak gunung. Memang sebelumnya aku sudah mendapat kabar sejak tadi malam, namun aku masih kurang percaya karena belum ada perintah resmi dari pemerintah. Mengkroscek kembali lewat jaringan HT ternyata informasi zona merah dinaikkan benar. Saat itu juga semua warga yang berada di daerah zona merah dievakuasi, akhirnya aku pun mengambil keputusan bahwa kita ikut mengevakuasikan diri.

Bergegas dan mengemas semua perlengkapan dari posko, dan tak sempat kami menggulungkan kembali tenda tersebut. hari-hari bersama di tenda hijau pun berakhir begitu saja. 16 harilah menjadikan pengalaman yang berharga, 16 hari pula aku belajar memaknai hidup ini. jangan pernah kita sia-siakan sisa hidup ini, jadikan hidup ini lebih berharga dari sebelumnya. Begitulah kesimpulan dapat kusampaikan.

0 komentar:

Posting Komentar