Hari itu begitu cerah, matahari, langit-langit biru menghiasi segala ruang semesta alam. Dikala senja, lambung ku terasa berdiskusi tanpa henti. Aku pun bergegas menuju angkringan pojok jalan lampu kuning perempatan. Langkahku menderu-deru dengan perlahan bersama denyut jantungku. Matahari senja terlihat indah dipandang kala itu. Tak sempat juga aku berpikir tentang kejenuhan dunia perkuliahan, karena aku terbuai dengan keindah senja saat itu.
Lampu kuning itu seakan berbicara dengan detak jantungku. Satu... dua... satu... dua.. begitulah hitungan bersamaan detak jantungku. Terlihat pula mobil jip yang terparkir di depan angkringan itu. Mata ku pun dengan detail membidik angkringan pojok lampu kuning itu. Padat dan penuh dengan warna-warni, sempat juga aku terbuai dengan ideologi-ideologi kiri-kanan-depan-belakang, entah apalah yang jelas aku ingin hidup sehat.
“Ya, pak”
“Besok kita harus lebih jeli lagi”
“Apa yang jeli pak?”
“Pengawasan kita”
“Pengawas dari luar sudah datang”
“Sebelumnya timur dan sekarang menjadi barat”
“Kenapa kita yang jadi selatan pak”
“Dasar.. Goblok”
Begitulah percakapan dari tiga orang yang duduk di samping kiri,serong,sedikit serong kiri dari ku. Sambil menikmati gorengan dan bebrapa nasi kucing ku mendengarkan lagi percakapan di angkringan ini. kali ini dari keluarga kecil, yang terlihat masih menjalani madu-madu mengasuh balita umur satu setengah sampai dua tahun.
“Nanti kalau anak kita sudah sekolah, kita sekolahkan dimana pah?”
“Ya, di sekolahan lah mah”
“Ih, si papah”
“Sekolah favorit?”
“Memang masih ada?”
“Terus, mau dimana?”
Sepertinya percakapan itu sedikit kompleks, bingung mencari sekolah yang tepat untuk anaknya. Padahal sekolah di negri ini banyak sekali, “Lalu apa yang mereka bimbangkan?”. Huh, bisa sekolah saja sudah syukur. Kembali aku mendengar percakapan ketiga orang tersebut. aku pikir mereka bukan sedang bercakap-cakap melainkan kompromi.
“Nanti kalau sudah berhasil”
“Kamu dapat bagian lebih besar”
“Lalu saya pak?”
“Ya, kamu dapat ampasnya”
“Ha-Ha-Ha”
Kompromi itu seketika berhenti saat aku mengucapkan “Es teh pak”. Entah mengapa mereka sepertinya curiga, kalau-kalau aku mengetahui pembicaraan mereka. Tak selang beberapa menit mereka langsung pergi dari angkringan ini, dengan menggunakan mobil jip hitam berplat AB 784X XX. Dengungan knalpotnya hinggap kedalam gendang telingan ku. Orang-orang yang aneh, aku sempat membaca tentang kompromi yang dalam politik merupakan berkonsensi dengan sejumlah tutuntan tertentu, dan dilepaskan sebagian tuntutan-tuntutan sendiri untuk mencapai kata sepakat. Tentunya suatu kompromi tidak hanya dilakukan diruang-ruang sidang maupun ber-AC, tetapi bisa juga di ruang-ruang terbuka seperti kompromi angkringan ini.
0 komentar:
Posting Komentar