Tempo, edisi 24-30 januari 2011
Membolak-balik melihat isi berita apa saja yang ada di koran tempo minggu ini, tampilan judul depan majalah tempo kali ini berbicara tentang 'korupssi', topik utamanya berbicara seputar PSSI. Saya tidak tertarik dengan berita utama, tapi malah ketika saya membolak-balik ada satu judul tulisan yang menarik 'Dari Otak ke Pembuluh Darah', dalam tulisan ini berbicara tentang depresi pada anak, dalam jangka panjang bisa merusak organ tubuh anak, dari sel-sel pembuluh darah hingga ke jantung.
Seorang anak yang terus disuguhi dengan segala macam pelajaran dan kemauan dari orang tua yang menuntun agar anak menjadi tidak leluasa. Permasalahan ini timbul biasanya pada anak yang masih usia dini. Dilangsir dalam tulisan ini, ada permasalahan dari Bella anak berusia lima tahun yang memiliki jadwal kegiatan harian yang padat. Dari senin hingga sabtu, Bella keluar masuk tempat les. Pada usia enam tahun, bella mulai berulah. Anak yang sebelumnya penurut dan manis itu menjadi tak ingin melakukan apa-apa di sekolah. "Anak pintar, IQ tinggi, tapi sudah bosan belajar karena bermacam les itu", kata purboyo solek dokter anak di Bandung yang menangani Bella.
Kemalasan dan perubahan tingkah laku dan sikap bella memiliki keterkaitan bahwa anak ini sedang mengalami depresi akibat berbagai macam les. Hal ini disebabkan karena anak merasa kurang mampu memenuhi keinginan dari orang tuanya. "Depresi pada anak bentuknya menarik diri, dan tidak berkontak dengan lingkungan sosialnya," ujar Purboyo. Bentuk lain, anak berlaku implusif dan agresif. di sekolah atau di rumah anak biasa membuat keonaran dan mencari-cari masalah.
Penyebab depresi juga bisa diakibatkan dari permasalah dalam keluarga, seperti perceraian orang tua, kehilangan orang tua, dan ketidak harmonisan orang tua. Anak-anak seringkali tidak dapat menyesuaikan dirinya terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan mereka. Bukan hanya dampak terhadap perilaku, seperti menarik diri dari pergaulan atau malah agresif dan melarikan diri ke obat-obatan terlarang. Hal ini mengkhawatirkan depresi yang berdampak ke kesehatan fisik. Menurut hasil penelitian Profesor Herbert Scheithauer dari Free University of Berlin, 70 persen anak yang mengalami penyakit pembuluh darah dan jantung disebabkan oleh depresi. Penjelasannya, tekanan kejiwaan tersebut mempengaruhi sel-sel dalam pembuluh darah.
Penelitian dari Davi J. Abbott, menyatakan disadari atau tidak, emosi erat hubungannya dengan kesehatan seseorang. Menurut dia, tubuh merespon cara berpikir, kemudian merasakan dan melakukan tindakan."Inilah yang dinamai koneksi pikiran dan tubuh. Apabila anda sedang dilanda stres, kegelisahan, atau kesedihan. tubuh seolah-olah mengatakan ada sesuatu yang salah," ujar Abott.
Membaca sekilas tentang tulisan ini mengingatkan saya kepada fenomena-fenomena kekerasan yang terjadi di negri ini. kalau kita melihat berita-berita televisi pasti selalu ada setiap harinya berita tentang kekerasan, buruknya berita kekerasan itu muncul akibat ulah anak-anak dan remaja masa kini, dan baru-baru ini kita sudah mendengar tentang kekerasan dari supporter salah satu klub bola yang menyebabkan satu korban tewas. tentunya hal ini tidak terlepas dari permasalahan yang dilangsir dari berita tempo ini.
keterangan:
-untuk lebih jelasnya, silahkan baca majalah tempo edisi yang tertera diatas.
0 komentar:
Posting Komentar