19 Feb 2011

Masih Mencari Pemimpin Ideal

Kita semua pasti mempunyai mimpi tentang pemimpin yang ideal, tapi apakah itu hanya mimpi saja. Kita harus melakukan tindakan, tidak hanya sekedar mimpi semata. Orang-orang selau mempunyai rencana yang berlapis-lapis sehingga sering terlewatkan. Ada satu hal yang menarik ketika saya membaca buku The Power of Kepepet yang mengatakan “semua orang punya keinginan tapi tak banyak orang punya pencapaian”.[1] Kita memiliki angan-angan tentang sosok pemimpin yang ideal. Kita juga terkadang tidak menyadari seperti apa sosok ideal itu. Patutnya kita mentargetkan terlebih dahulu, seperti apa ideal yang kita inginkan. Mentargetkan sebelum merencanakan sebenarnya juga termasuk dalam pecapaian angan. Hal ini juga kita dorong dengan adanya niat yang total dalam mencari pemimpin yang ideal.

Orang-orang masih bertanya-tanya tentang pemimpin yang ideal. ‘Pasti itu kesalahan pemimpinnya’ begitulah perkataan yang sering muncul dari sebagian orang-orang. Adakalanya kita tidak selalu menyalahkan pemimpin. Tapi apakah itu bisa? Tidak, setiap kaum dimuka bumi ini pasti mempunyai pemimpin dan memimpin. Peran besar yang dipegang oleh seorang pemimpin sangatlah besar. “Sesungguhnya firaun amat congkak di bumi dan menjadikan penduduk bumi terpecah-pecah”.[2] Itu potongan sebagian ayat yang mencerminkan seorang pemimpin yang amat congkak. Lalu pemimpin seperti apakah yang kita impikan selama ini? Nabi Muhammadlah yang seharusnya kita jadikan inspirasi kepemimpinan yang ideal. Sifat Nabi Muhammad SAW meliputi Sidiq (benar), Amanah (terpercaya), Tablig (menyampaikan), Fatonah (pandai). Tidak ada yang serupa dengan beliau, berganti zaman berganti pula pemimpinnya. Manusia selalu dihadapkan oleh ujian-ujian dan cobaan yang menjadi penyemangat kita. Kita sepatutnya dapat memimpin dan dipimpin. Kesadaran penuh atas diri kita sendiri merupakan kunci utama.

“Engkau adalah putra sang fajar, engkau akan menjadi manusia yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu”, begitulah kalimat yang diucapkan oleh sang ibu kepada Soekarno.[3] Tokoh besar negeri Indonesia yang sempat menggemparkan dunia menjadi kebangga dari rakyatmya tersendiri. Sosok Ir. Soekarno yang merupakan sosok pemimpin yang sering menyampaikan pesan-pesan motivasinya sewaktu pidato di depan umum. Di era globalisasi ini, pesan motivasi malah kita dapat dari media, buku, iklan, hingga coretan-coretan pinggir jalan. Tidak seperti di era Soekarno, Bennito Mussolini, Ernesto Che Guavara, atau pemimpin yang se-era dengan mereka yang selalu memberikan penyemangat rakyatnya dengan dalil-dalil atau motivasinya. Raykat pastinya sudah rindu dengan penyampaian pesan penyemangat dari sang pemimpinnya. Tetapi tidak selamanya pula kita tergantung dengan perkataan dari sang pemimpin, kita patut menyadari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dari sang pemimpin. Apakah itu adil atau tidak? Dalam wasiat yang ditinggal dari Ernesto Che Guavara “pengorbanan kita adalah dengan kesadaran sepenuhnya, yakni sebagai ongkos bagi kemerdekaan yang kita bangun, jalan kita sangat panjang, dan sebagian dari kita malah tidak diketahui, kita sadar akan keterbatasan diri, kita akan mendukung orang-orang dari abad 21: yakni kita sendiri”.[4] Kesadaran dan penuh kesadaranlah yang saat ini kita patut garis bawahi kalau memang kita ingin mendapat pemimpin yang ideal.

Mencari dan terus mencari itulah yang seharusnya kita lakukan saat ini. kita seharusnya tidak akan selalu menyerah dalam mencari solusi permasalahan yang timbul. Seorang pemimpin tentunya selalu mengahadapi rintangan atau permasalahan yang sangat kompleks, contoh saja negara kita ini. Indonesia, merupakan negara yang berpendudukan lebih dari 200 juta orang masih belum terlepas dari kemiskinan. Dalam buku Orang Kaya di Negeri Miskin, mengisahkan kaum miskin yang semakin kehilangan hak-haknya oleh pembangunan yang tunduk pada pasar.[5] keterpurukkan negara ini membuat rakyatnya menjadi lebih dewasa. Kita jatuh, bangun, lalu jatuh, dan bangun lagi. Itu semua membuat kita semakin belajar dari kesalahan sebelumnya, dan mencoba bangkit kembali tanpa mengulangi kesalahan disebelumnya. Maka dari itu, sosok pemimpin yang kita butuhkan saat ini sepertinya tidak hanya jujur, adil, tegas, atau apalah yang terbaik, tetapi dapat menjadi sosok yang berdiri paling kuat di barisan depan tanpa mundur satu langkah kebelakang.


catatan kaki:
[1] Setiabudi, Jaya, The Power Of Kepepet  (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), hlm.  42.
[2] Al- Qur’an,  surat al qashash, ayat: 4.
[3] Archer, jules, Kisah para Diktator, biografi politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis dan Tiran, terj.  As Dimyati (yogyakarta: Narasi, 2005), hlm. 164.
[4] Utomo, Teguh W, sisi lain kehidupan Ernesto Guevara (surabaya: selasar publishing, 2009), hlm. 34.
[5] Prasetyo, Eko, Orang Kaya di Negeri Orang Miskin (Yogyakarta: Resist Book, 2005).

16 Hari

Boulevard Universitas Islam Indonesia, kamis 28 oktober 2010, sekitar pukul. 17.00 wib, tenda hijau berdiri tegak di depan Boulevard UII, aku bersama teman-teman kampus membuka posko sederhana dengan misi kemanusiaan. Awalnya tenda itu sudah berdiri dari dua hari sebelumnya, tapi setelah aku perhatikan tenda ini tidak ada yang mengurusi, seperti hiasan belaka. Dengan modal pikiran, alat seadanya, dan bantuan dari teman-teman. Aku pun meminta izin untuk mengambil alih tenda itu, sedikit ragu tapi dalam hati berkata “ini misi kemanusiaan”.

Pada hari itu juga kami mengumpulkan semua bantuan dari teman-teman dekat, menjemput bola kalau bahasa manajemennya. Satu persatu bantuan datang dengan segala macam bentuk. Pakaian, mie instant, air mineral, hingga rupiah. Malam pertama aku bersama teman-teman di tenda berjaga-jaga hingga esok fajar, tapi apa daya malam pertama itu juga aku dan teman-teman sudah di kejutkan suara gemuruh tiga kali berturut-turut. Ah, itu cuman suara petir. “ujar temanku”. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan posko kami. Gunungnya meletus besar, sambil terdesah-desah mereka berkata.

Suara ambulance, gerombolan mobil, motor, aparat keamanan lalu-lalang meramaikan malam itu. Suasana malam itu begitu mecekam, butiran-butiran material abu vulkanik menghiasi sepanjang jalan kaliurang. Ayo cepat bukakan pintu gerbang, arahkan semua pengungsi ke gelanggang olahraga. Teriakku kepada teman-teman. Oia, malam itu sekitar pukul 11.45, hingga dini hari.

Gelanggang olahragapun sesak dipenuhi sekitar 250 pengungsi, koordinasi dengan universitaspun kami lakukan demi kelangsungan hidup para pengungsi. Kami sadar, kami tidak akan mampu mengorganisir manusia sebanyak itu, sebabnya karena keterbatasan alat dan sumber daya manusia. Maklum kala itu aku hanya ber-12 orang, namun dengan bantuan dari pihak relawan universitas semua dapat terorganisir.

Hari-hari begitu cepat berlalu di posko bersama teman-teman, letih, senang, gelisah, hingga mandi bersama dipelataran taman boulevard. Mendistribusikan bantuan ke desa-desa terpencil, cangkringan, kepurharjo, srumbung hingga boyolali. Kami tidak pernah mengakui kalau kami relawan, tapi orang-orang selalu mengangap kami relawan. Ya, kalau kami terlalu dipuji perkerjaan kami bisa jadi terbengkalai.

Masa-masa gunung erupsi, universitas sedang melangsungkan ujian tengah semester. Aku dan teman-teman nampak keteteran menghadapi ujian, karena kami berpendapat bisa-bisa misi kemanusiaan ini tidak terlaksana hingga akhir. Dua minggu sudah kami menghadapi ujian bersamaan misi kemanusiaan ini. Kala itu aku sudah menghitung hari-hari bersama kita di posko.

Ternyata sudah 16 hari kami berada di posko hijau ini. hari terakhir di posko ini kami dikejutkan kembali dengan suara gemuruh dahsyat pada malam harinya. Kali ini lain dari pada sebelumnya, hujan kerikil dan pasir disertai wangi belerang mencekik tenggorokkan kami. Orang-orang lebih panik dari sebelumnya, kecelakaan, pingsan, ketakutan, hingga cemas bercampur menjadi satu. Aku dan teman-teman tetap berusaha tenang agar konsentrasi tetap terjaga. Pertolongan pertama mengevakuasi pengungsi ke gedung-gedung universitas, begitulah tujuan pertama ku. Karena saat itu pengungsi harus diberi perlindungan tempat yang aman terlebih dahulu.

Siang hari sekitar pukul 12.15 WIB, informasi tentang zona merah dinaikkan menjadi 20 km dari puncak gunung. Memang sebelumnya aku sudah mendapat kabar sejak tadi malam, namun aku masih kurang percaya karena belum ada perintah resmi dari pemerintah. Mengkroscek kembali lewat jaringan HT ternyata informasi zona merah dinaikkan benar. Saat itu juga semua warga yang berada di daerah zona merah dievakuasi, akhirnya aku pun mengambil keputusan bahwa kita ikut mengevakuasikan diri.

Bergegas dan mengemas semua perlengkapan dari posko, dan tak sempat kami menggulungkan kembali tenda tersebut. hari-hari bersama di tenda hijau pun berakhir begitu saja. 16 harilah menjadikan pengalaman yang berharga, 16 hari pula aku belajar memaknai hidup ini. jangan pernah kita sia-siakan sisa hidup ini, jadikan hidup ini lebih berharga dari sebelumnya. Begitulah kesimpulan dapat kusampaikan.

Kompromi Angkringan

Hari itu begitu cerah, matahari, langit-langit biru menghiasi segala ruang semesta alam. Dikala senja, lambung ku terasa berdiskusi tanpa henti. Aku pun bergegas menuju angkringan pojok jalan lampu kuning perempatan. Langkahku menderu-deru dengan perlahan bersama denyut jantungku. Matahari senja terlihat indah dipandang kala itu. Tak sempat juga aku berpikir tentang kejenuhan dunia perkuliahan, karena aku terbuai dengan keindah senja saat itu.
           
            Lampu kuning itu seakan berbicara dengan detak jantungku. Satu... dua... satu... dua.. begitulah hitungan bersamaan detak jantungku. Terlihat pula mobil jip yang terparkir di depan angkringan itu. Mata ku pun dengan detail membidik angkringan pojok lampu kuning itu. Padat dan penuh dengan warna-warni, sempat juga aku terbuai dengan ideologi-ideologi kiri-kanan-depan-belakang, entah apalah yang jelas aku ingin hidup sehat.

“Ya, pak”
“Besok kita harus lebih jeli lagi”
“Apa yang jeli pak?”
“Pengawasan kita”
“Pengawas dari luar sudah datang”
“Sebelumnya timur dan sekarang menjadi barat”
“Kenapa kita yang jadi selatan pak”
“Dasar.. Goblok”

             Begitulah percakapan dari tiga orang yang duduk di samping kiri,serong,sedikit serong kiri dari ku. Sambil menikmati gorengan dan bebrapa nasi kucing ku mendengarkan lagi percakapan di angkringan ini. kali ini dari keluarga kecil, yang terlihat masih menjalani madu-madu mengasuh balita umur satu setengah sampai dua tahun.
“Nanti kalau anak kita sudah sekolah, kita sekolahkan dimana pah?”
“Ya, di sekolahan lah mah”
“Ih, si papah”
“Sekolah favorit?”
“Memang masih ada?”
“Terus, mau dimana?”

Sepertinya percakapan itu sedikit kompleks, bingung mencari sekolah yang tepat untuk anaknya. Padahal sekolah di negri ini banyak sekali, “Lalu apa yang mereka bimbangkan?”. Huh, bisa sekolah saja sudah syukur. Kembali aku mendengar percakapan ketiga orang tersebut. aku pikir mereka bukan sedang bercakap-cakap melainkan kompromi.

“Nanti kalau sudah berhasil”
“Kamu dapat bagian lebih besar”
“Lalu saya pak?”
“Ya, kamu dapat ampasnya”
“Ha-Ha-Ha”

Kompromi itu seketika berhenti saat aku mengucapkan “Es teh pak”. Entah mengapa mereka sepertinya curiga, kalau-kalau aku mengetahui pembicaraan mereka. Tak selang beberapa menit mereka langsung pergi dari angkringan ini, dengan menggunakan mobil jip hitam berplat AB 784X XX. Dengungan knalpotnya hinggap kedalam gendang telingan ku. Orang-orang yang aneh, aku sempat membaca tentang kompromi yang dalam politik merupakan berkonsensi dengan sejumlah tutuntan tertentu, dan dilepaskan sebagian tuntutan-tuntutan sendiri untuk mencapai kata sepakat. Tentunya suatu kompromi tidak hanya dilakukan diruang-ruang sidang maupun ber-AC, tetapi bisa juga di ruang-ruang terbuka seperti kompromi angkringan ini.