3 Agu 2012

Perjalanan Bersama Taksi dan Makhluk Supernatural



Baru saja mendapat omnibus film pendek dari seorang kawan. Sebelumnya, kawan saya sudah membuat sekilas review omnibus film pendek ini.  Doi mendapatkannya dari sebuah jaringan situs luar negeri yang mengunggah film tersebut. Omnibus film pendek itu berjudul Fisfic Vol. 1. Sejatinya, omnibus film ini terdiri dari enam film pendek dan tujuh sutradara dengan memakai satu tema yaitu Horor. Dari keenam film tersebut saya tertarik dengan karya besutan dua sutradara yaitu Ari Anjie Az, dan Nadia Yuliani, dengan filmnya yang berjudul Taksi.

Meski demikian saya sedang tidak berusaha melupakan film-film sebelumnya. Melainkan, saya akan mencoba mencomot satu-persatu film yang ada dalam projek omnibus tersebut. Dengan mengambil urutan film dari belakang hingga depan saya akan membuat projek review tentang omnibus film pendek ini.

Film pendek menjadi begitu berarti disaat perkembangan film-film panjang sedang merosot ke tangga yang paling rendah. Film pendek juga menjadi satu medium alternatif bagi para penonton yang jenuh akan perkembangan film-film popular kini, terkhusus horor. Pada awalnya, projek omnibus film Fisfic mengedepankan satu visi dan misi untuk meruntuhkan stigma film horror Indonesia yang terkesan begitu monoton dan hanya menjual syahwat, tukas kawan saya. Dengan begitu sublimasi besar patut kita harapkan dari projek omnibus tersebut.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya tertarik dengan film yang berjudul Taksi. Ceritanya minimalis, tidak berusaha menghadirkan kerumitan, dan seakan-akan saya sedang berada dalam perjalanan yang mencekam. Kepulangan seorang perempuan di tengah malam, dan suasana kota sunyi itu menempatkan kita pada ruang hampa sudut kota yang biasanya hingar-bingar diisi beragam kesibukan individu penduduknya. Pada adegan pembuka, saya sebagai penonton cukup berada dalam posisi kenyamanan dalam menonton film horor. Meski pada umumnya kita selalu mereka-reka diawal cerita ‘setan yang seperti apa dan se-seram apa yang akan muncul’.

Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang baru saja pulang kerja setelah lembur, dikemudian waktu ia tampak bingung mencari kendaraan apa yang akan membawanya pulang. Saat sedang menunggu, sebuah mobil taksi yang satu-satunya lewat di lokasi tersebut datang menawarkan untuk mengantarnya pulang. Wajah sopir taksi tersebut memang sedikit cabul, sekilas saat saya menonton, apalagi ketika tawarannya untuk mengantarkan perempuan tersebut dengan tutur bahasa yang begitu merayu. Ditengah perempuan itu sedang berpikir, sopir taksi pun mencoba memberikan stimulus tentang kegelapan dan kehampaan kota pada malam hari. Tanpa habis pikir, perempuan itu menaiki taksi tersebut. Masa-masa perjalanan pulang, sopir taksi itu menceritakan beberapa kejadian suram dan muram ihwal perempuan yang seringkali menjadi korban kejahatan pada tengah malam. Melewati jalan-jalan tikus dan terus-menerus sopir taksi menceritakan kisah bengis itu. Ditengah perjalanan, lampu merah, tanpa disengaja si sopir taksi bertemu dengan kedua temannya yang sedang mabuk. Kecaman pun terjadi, perempuan itu diapit oleh kedua temannya, lalu dipaksa untuk ikut serta mabuk dan dilecehkan. Tanpa disadari, perempuan itu berubah menjadi seperti zombie yang mencabik-cabik se-isi perut para lelaki bajingan yang melecehkannya. Sopir taksi pun semakin jiper melihat kejadian itu, tapi tetiba temannya mampus, perempuan itu kembali lagi normal dan meminta taksi untuk berhenti. Sopir taksi dibayar dan ia tetap selamat.

Setelah menonton film ini, saya jadi teringat dengan film pendek ‘Payung Merah’ yang juga sama-sama membawa ruang perjalanan (taksi) dan kepulangan, yang juga dikemas dalam genre drama thiller supernatural atau horor. Terlepas siapa yang duluan mengembangkan gagasan itu, saya kira tetap memiliki perbedaan satu sama lain. Walaupun sebelumnya saya menonton film Payung Merah terdahulu baru film Taksi ini. Jelas perbedaannya, Payung Merah tidak diproduksi secara omnibus, dan ia juga tidak begitu ‘ekstrim’ menghadirkan sosok hantu itu. Sedang, Taksi dengan gamblang dan tampak bahwa hantu yang disimbolkan begitu menyeramkan dan buas.

Ari dan Nadia, begitu lembut menyisipkan twice kedalam setiap adegan. Hingga saya bisa menghitung beberapa twice itu. Pertama, ketika sopir taksi menaruh simpati pada perempuan itu, dengan lirikan mata yang cukup menyita kecurigaan ‘jangan-jangan si sopir bakal bertingkah aneh’, blass.. ternyata memang itu karakternya, tidak seperti apa yang saya pikirkan. Kedua, adegan saat perempuan yang tiba-tiba jadi zombie dan melumat temanya, dikemudian waktu saya mengira ia juga akan membunuh sopir taksi tersebut, dan ternyata ia selamat. Terakhir, perempuan itu tidak sadarkan diri bahwa ia seperti kesurupan, padahal saya menduga ia juga ikut mati karena tusukan pisau dari preman bengis itu. Dari beberapa twice tersebut penonton juga dibawa dalam arus perjalan pulang mengenai taksi, yang pada akhirnya kesan pulang itu menjadi satu ‘keharusan’. Lebih-lebih waktu antara ‘dunia lain’ dan ‘dunia’ berjalan secara paralel.


Hasrat Terpendam

Dalam taksi Ari dan Nadia, sebenarnya juga menghadirkan ‘hasrat-hasrat terpendam’ itu. Semisal, kasus-kasus pemerkosaan yang diceritakan sopir taxi, secara naratif menghadapkan kepada penonton bahwa hasrat-hasrat tentang sexual dan horror itu berkaitan. Saat budaya voyeurisme itu tidak terlampiaskan lagi, lalu menjadi buas. Selanjutnya, adalah hasrat materil atau akan uang. Dialog antara perempuan dan kedua ‘preman bengis’, membuka peluang anggapan si perempuan bahwa kedua orang yang mengapitnya akan merampok, dan kemudian penonton akan berusaha mereka-reka si perempuan akan mati ditangan preman itu, kemudian jadi hantu. Tapi ada satu kelucuan, saat si hantu bisa juga membayar ongkos taksi itu. Ya, itu juga yang saya maksud berjalan paralel. Oleh sebab itu, berubahnya si perempuan menjadi monster atau zombie tidak terlepas dari ciri khas film horor di Indonesia. Dimana rata-rata perempuan selalu di interpertasikan dalam film horor sebagai kaum yang ditindas. Bagi saya, itu merupakan suatu perayaan besar saat si perempuan bisa berubah menjadi buas. Hal itu juga bisa berarti sebagai motif ‘balas dendam’ yang sering kita jumpai pada film-film horor kebanyakan. Akan tetapi, film ini mencoba menghadapkan motif tersebut kedalam satu naratif yang lebih simpel, tanpa harus menghadirkan ‘penampakan diluar dunia manusia’.

Makhluk Supernatural

Hadirnya, zombie atau makhluk supernatural itu juga salah satu langkah besar mencoba untuk meruntuhkan sisi naratif film-film horor kebanyakan. Ya, Jika pada awalnya kita sudah lebih dahulu dikenalkan oleh makhluk supernatural ala Indonesia, seperti; sundel bolong, kuntilanak, pocong, gendoruwo, dan lain sebagainya. Penemuan baru tentang makhluk seperti zombie itu saya rasa bukan satu hal yang perlu dihindari. Terlebih, zombie atau sejenisnya pernah dihadirkan dalam film horor Indonesia kontemporer, yang pasalnya cerita-cerita dalam film horor Indonesia kontemporer tidak terlalu rumit dan polanya hampir mirip satu sama lain. Yang mana bukan zombie melainkan siluman (serupa tapi tak sama), dan itu diluar ikonik makhluk supernatural ala Indonesia itu.

Terlepas dari itu, sosok makhluk supernatural yang tampak dalam film ini juga mengambil sisi legenda urbannya. Ketika penanda dialog dan gaya bertutur sopir taksi menceritakan kejadian masa lampau yang begitu suram dan muram. Jadi, kalau makhluk supernatural seperti yang tampak di film ini sesungguhnya berangkat dari satu titik yang sama di kebanyakan unsur naratif film horor Indonesia. Yang tidak jauh dari nekrofilia, psikopat, kanibal, dukun, makhluk gaib, dan bukan makhluk gaib seperti dalam film ini.

Perjalan bersama Taksi

Si perempuan dan sopir taksi, keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu pulang. Saat semua sudah memiliki tujuan yang sama, jiwa-jiwa moralis dalam film ini terbentuk dalam beberapa layer lebih dalam. Lebih-lebih kehidupan sosial kelas pekerja kota yang selama ini dianggap sibuk dengan individunya sendiri. Lewat jam kerja nan lembur akan saling tawar-menawarkan pertolongan dan keakraban satu sama lain. Dengan adanya layer-layer ini, penonton diajak untuk melakukan perjalanan bersama sang sutradara. Melewati gang kelinci, jalur tikus, dengan gambaran kota pinggiran yang begitu sesak, dan muram hingga cerita-cerita misterinya.

Perjalanan itu juga terbentuk untuk penonton dalam menyikapi perjalanan traumatik masyarakat tentang cerita-cerita kejahatan yang seringkali terjadi pada malam hari. Ketika hal tersebut sudah begitu tersikapi oleh penonton, maka beberapa identitas sosial bisa jadi terbentuk di dalam individu penonton. Bahwa seharusnya perjalanan traumatik masyarakat bukanlah sebagai angin lalu. Sebagaimana si sopir taksi mengambil jalur tikus merupakan satu kebiasan kehidupan sosial kelas pekerja kota, yang terbiasa mencari jalan pintas pada pagi hari, agar terhindar dari kemacetan. Dan itu terus-berulang terjadi pada kepulangan, karena suatu kebiasaan.


Taksi | 2011 (Fisfic Vol.1) |Sutradara: Ari Anjie Az, Nadia Yuliani | Produser: Titis Sapto Raharjo, Nadia Yuliani, Ari Anjie Az | Sekenario: Ari Anjie Az, Nadia Yuliani | D.O.P: Dimas Wisnu, Wardono, Shakti Siddarta, Erich Silalahi | Pemain: Shareefa Daanish, Hendra Louis, Manahan Hutauruk, Alex Loppies.

1 Agu 2012

Representasi Gender dalam Film A Separation


Film memiliki ruang-ruang misteri yang memerlukan energi untuk lebih jauh mengantarkan visi, pesan, dan kesan di dalamnya. Ketika perkembangan teknologi telah mencapai titik kemapanan, maka sebuah medium pun semakin meluas, film adalah salah satunya. Bela Balazs, seorang kritikus film kenamaan yang banyak menulis artikel sejak tahun ‘60an, pernah mengatakan  “Biar bagaimanapun, film adalah cerminan suatu bangsa, film atau video adalah suatu cabang kesenian yang lahir karena perkembangan teknologi”. Bukan hanya persoalan teknologi, film juga sudah banyak memberikan sumbangsi besar terhadap pembentukkan pola hidup manusia. Mulai dari; pola pikir, budaya, politik, ekonomi, dan agama. Kita mengetahui bahwa sebuah film terlahir bukan karena tidak memiliki alegori sosial. Seperti apa yang dikatakan Balazs cermin suatu bangsa terlahir berkat film itu, setiap negara pastinya memiliki cara pandang tersendiri mengenai misteri yang ada di dalam film.
            
Film mungkin anugerah terbesar yang pernah dimiliki oleh manusia. Semua orang merasa kisah hidupnya terwakili lewat film. Kemahiran sang sutradara dalam mendalangi sebuah sekenario merupakan senjatanya. Dalam medium polesemik ini memang bukan lagi sebagai hal yang dianggap baru. Kita tidak akan berbicara tentang posisi film itu di mata manusia masa kini. Saya akan membahas bagaimana film merepresentasikan gender di setiap mise en scene-nya.
            
Beberapa film yang telah saya kategorikan sudah tersusun rapih, tapi tampaknya saya terpikat oleh gaya bertutur film Iran. Maka saya putuskan untuk membuat sebuah resensi ini untuk film A Separation. A Separation merupakan film yang jeli menangkap kegelisahan dan permasalahan keluarga kelas menengah di Iran. Asghar Farhadi pernah menunjukkan ini dengan sangat subtil di Wednesday Fireworks (2006). Namun, di Wednesday Fireworks, masalah hanya muncul di kelas menengah. Sedangkan kelas bawah yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, malah bisa menikmati hidup dan kebahagian-kebahagian kecil yang terjadi. Di A Separation, Asghar tak lagi selunak itu. Kali ini, ia menampilkan kedua kelas ekonomi ini sama-sama bermasalah. Ketika keduanya berbenturan, mereka akan mencapai ujung resolusi atau titik klimaks yang lebih tinggi. Apakah demikian?
            
Film ini bercerita tentang pasangan suami istri, Nader dan Simin yang hendak bercerai. Alasannya sederhana, Simin ingin pindah ke luar negeri karena beranggapan negara lain lebih cocok untuk membesarkan anak perempuan mereka, Termeh, sedangkan Nader menolak dengan alasan harus menjaga ayahnya yang mengidam penyakit Alzheimer. Merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Di sela masa de facto hubungan mereka, Simin tinggal di rumah ibunya yang membuat Nader kalang kabut mengurusi rumah, Termeh, dan ayah Nader. Mengatasi masalah itu, ia mempekerjakan Razieh, seorang pembantu rumah tangga yang selalu membawa anak perempuannya kemana-mana. Razieh dipekerjakan oleh Nader berkat usul dari Simin.
            
Razieh yang religius seketika minta berhenti karena tak ingin mengurusi ayah Nader. Baginya itu kurang pantas. Sebagai solusi, ia menawarkan suaminya yang sudah lama menganggur untuk melanjutkan pekerjaannya. Sang suami sayangnya tak jua muncul ke rumah Nader karena dipenjara dan Razieh terpaksa menggantikannya. Masalah mulai muncul saat Razieh meninggalkan ayah Nader dalam kondisi tangan terikat di tempat tidur. Nader yang pulang melihat sang ayah terpuruk di lantai, marah besar, dan mengusir Razieh dengan tuduhan mencuri. Adu mulut keduanya menyebabkan Nader mendorongnya ke luar rumah. Razieh pun menuduh kembali, bahwa Nader adalah penyebab keguguran kandungannya. Razieh pun membawa kasus itu ke meja hijau, hingga pada akhirnya kompleksitas masalah semakin meluas.
            
Film ini telah membidik saya kepada persoalan kepercayaan, perceraian, dan pengangguran. Pertanyaannya adalah bagaimana korelasi antar ketiga persoalan itu dalam representasi gender? Meski demikian hal ini tidak bisa dijawab dengan singkat. Mari kita gali satu demi satu isi (content) yang terdapat dalam film A Separation ini dengan seksama.

Kepercayaan
            
Film ini tak khayal adalah visualisasi atas sublimasi kepercayaan agama yang selama ini sebatas norma-norma dan hukum islam yang kaku. Saya melihat film ini berdasarkan agama yang dianut oleh para tokoh di dalamnya. Tidak sebatas agama, kepercayaan antar relasi Adam-Hawa pun juga saya terima dari film ini. Sesungguhnya film ini telah memberi persoalan kompleksitas kepercayaan yang tinggi. Lebih khusus kita akan ber-onani dengan hal gender yang terbangun oleh kepercayaan di dalamnya. Meski demikian, pembicaraan tentang kepercayaan merupakan hal yang paling sensual untuk dibicarakan.
            
Revolusi Islam di Iran mungkin merupakan contoh yang paling menyolok mengenai Islam sebagai kekuatan politik di dunia modern. Hal ini, tentu saja merupakan prototipe dari “Islam politik” (Islam Fundamentalis) yang menjadi kekuatan besar sekarang ini. Secara garis besar hal tersebut juga mengaitkan kita pada persoalan hubungan relasi antar gender untuk film ini.
            
Topik perbedaan gender, seperti juga pada Islam merupakan hal yang sulit untuk diamati. Semisal, jika kita sebagai bangsa barat melihat masalah yang timbul di film A Separation sebagai ‘orang luar’, sehingga kita harus berhati-hati dalam menggunakan model barat ke persepsi budaya Islam dan perlakuan terhadap perempuan. Representasi penampilan fisik sangat kuat dalam film ini sehingga secara tidak langsung kita sudah memiliki makna terhadap perempuan. Sebuah konstruksi telah mengarahkan kita kepada beberapa perilaku di representasikan sebagai lebih sesuai untuk disandang perempuan ketimbang perilaku lainnya. Pertama, perempuan ketika setia melakukan aktivitas domestik atau mengurus pekerjaan. Kedua, perempuan yang mengekspresikan emosi. Ketiga, perilaku memposisikan perempuan di belakang dalam serombongan laki-laki.
            

Kebanyakkan orang Amerika mungkin merasa aneh ketika melihat sekumpulan perempuan menutup rambut mereka dengan menggunakan jilbab, namun perempuan muslim mungkin sulit mengerti mengapa banyak perempuan di Amerika mewarnai rambut mereka. Generalisasi itu menyangkut gender, yang terkadang melewatkan masalah perbedaan regional. Meski demikian, film ini telah menghindar dari persoalan pokok itu, Simin secara fisik menggunakan jilbab yang tidak begitu tertutup dan berambut kemerahan adalah suatu efek revolusi politik di Iran tanpa disadari langsung. Walaupun, Razieh yang menjadi tokoh muslim yang bisa dikatakan sangat fundamentalis lebih menampilkan dirinya dengan berpakaian tertutup dibandingkan Simin. Secara gamblang film ini bukan mengarahkan kita kepada benturan masalah di atas masalah tersebut, melainkan langsung menghadapkan kita kepada suatu konstruksi oposisi biner. Oposisi biner yang dihadapkan oleh film A Separation menekankan kita “berdasarkan cara pakaian mereka, daya tarik mereka, dan anak-anak mereka dan struktur wacana bisa dilihat dari operasi dalam oposisi-oposisi dan tidak ada yang lebih bersifat oposisional ketimbang wacana gender” menurut (Burton, 2011: 265).
            
Terlepas kita bicara tentang oposisi biner, beberapa scene di film ini juga mentampakan kepercayaan agama bahwa seorang suami merupakan ‘khalifah dalam rumah tangga atau pemimpin rumah tangga’, yang berarti memiliki otoritas tertinggi dalam mengatur segala masalah yang timbul di keluarga. Simin yang bersikap dan beranggapan dengan keluarganya berpindah negara maka kesejahteraan anak dan keluarga akan terjamin. Apakah ini juga suatu sikap gerakan feminisme liberal? “Perempuan harus memilih, pertama sebagai ibu, kedua sebagai pekerja produktif dan ketiga menambahkan karier dalam pekerjaan domestiknya.” Begitulah pemikiran Feminisme Liberal pada abad ke-19.
            
Sejatinya, tarik ulur permasalahan di film A Separation begitu detail ditampilkan oleh sutradara Asghar Farhadi, sehingga keselarasan hubungan intim dalam keluarga terlihat begitu dekat dengan proses relasi gender yang terbangun antara keduanya. Biar bagaimanapun film ini telah berhasil mengukir sejarah di ajang Academy Awards alias Oscar 2012, 27 Februari kemarin. Film ini telah dinobatkan sebagai film berbahasa asing terbaik.  Dengan penghargaan tersebut, sejatinya dunia film di iran telah mengalami sublimasi di dalam dunia polesemik ini, film. Kalau kita melihat kebelakang, setelah saya perhatikan film-film Iran cendrung menghadirkan kisah drama keluarga, serta penuh dengan kesunyian yang menghadirkan suasana intim ke penonton.
            
Perlawanan Simin kepada Nader juga tidak melulu pada proses perceraiannya, melainkan di beberapa scene ada dialog antara Simin dan Nader sedang mencari titik temu mengatasi masalah diatas masalah itu. Terlebih, ketika Simin lebih memilih solusi untuk menyelesaikan masalah Nader yang dituduh sebagai penyebab atas keguguran Razieh, dengan jalan membayarkan uang jaminan dan ganti rugi, yang sebagai simbol penyelesaian secara kekeluargaan, dengan tegas Nader menolaknya. Hal ini juga memberikan visi atas kepercayaan dalam berumah tangga yang sebaiknya bisa lebih harmonis, sehingga satu sama lain dapat menerimanya. Nader yang di sosokan oleh Asghar sebagai lelaki yang sedikit keras kepala, sejatinya telah mengarahkan kita pada pencitraan sosok kepala keluarga yang mengalami kegagalan dalam rumah tangganya.

Perceraian
            
Bukan bagaimana hal perceraian sebagai sebuah permasalah yang tabu untuk dibicarakan, melainkan sang sutradara Asghar Farhadi telah menggambarkan secara general bahwa masalah perceraian di Iran sedang mengalami peninggkatan yang begitu signifikan. Terbukti, Asghar dengan singkat menggambarkan general itu ke dalam scene terakhir, saat Simin dan Nader dihadapan hakim disuruh untuk memberikan keputusan bercerainya. Setelah mereka berdua memutuskan untuk bercerai, Termeh anak tunggal perempuannya juga dituntut untuk memilih mengikuti siapa di antara kedua orang tuanya. Secara serempak juga suasana pengadilan yang begitu ramai dan hingar-bingar akan perdebatan suami-istri ditampilakan. Hal ini secara garis besar memberi penanda sekaligus petanda bahwa pengadilan agama di Iran yang mengurusi perceraian begitu banyak dikunjugi pasangan suami-istri yang ingin bercerai. Pengambilan ruang kantor urusan pengadilan tentang perceraian yang ditampilkan Asghar tampak begitu mengambil titik mood paling atas terhadap penonton. Asghar dengan perlahan memberikan jawaban bahwa tidak selamanya hubungan keluarga harmonis bisa dirasakan oleh semua orang.

         
Jika kita telisik mode perceraian ini melalui kacamata kesetaraan gender, tampaknya lebih menarik. Pada umumnya konsep gender mengacu pada peran dan tanggung jawab sebagai perempuan dan sebagai laki-laki yang diciptakan dan terinternalisasi dalam kebiasaaan dan kehidupan keluarga. Gender dapat didefinisikan sebagai pembedaan peran, atribut, sikap tindak atau perilaku, yang tumbuh dan berkembang di masyarakat yang dianggap masyarakat pantas untuk laki-laki dan perempuan[1]. Sebagai contoh di dalam keluarga pada umumnya, laki-laki digambarkan sebagai kepala keluarga, dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Sifat ibu biasanya cendrung digambarkan sebagai feminine, lemah-lembut, emosional, penurut, dst. Sedang, laki-laki digambarkan maskulin, kuat, tegas, rasional, dst. Lain halnya, ketika saya menonton film ini. Sikap perempuan, Simin yang sebagai ibu jelas tampak sekali setara dengan Nader sang suami yang bersikap sebagai kepala keuarga. Nader dan Simin tidak sedemikian rupa sama dengan pasangan suami-istri umumnya. Ada proses tarik-menarik kompromi saat keluarga ini mengalami masalah. Sikap yang dimunculkan dalam film ini sangatlah kental untuk mencoba menyetarakan gender diatas titik pembedaan peran dan atribut itu.
            
Terlebih, ketika saya melihat plot pertama dalam film ini. Kehadiran Nader dan Simin di pengadilan Agama yang mengurusi perceraian. Ketika itu dialog dan adegan pertama film masuk, tampak Asghar menampilkan bahwa kasus perceraian merupakan titik kompleksitas dari kesetaraan gender itu. Adanya tarik-ulur hubungan antara laki-laki dan perempuan padahal mereka mesti mempunyai pilihan yang tepat. Sekilas itu yang saya dapat, atau mungkin saya yang mereka-reka. Entahlah. Meski demikian, film ini telah menghindarkan kita dari stereotip gender, dimana laki-laki dan perempuan harus sedemikian lumrah dengan anggapan umum masyarakat.

Pengangguran                                                                        
            
Isu tentang pengangguran dalam film ini tampak disajikan secara minim. Asghar dengan manis menyelipkan premis kecil dalam beberapa scene di film ini. Premis kecil itu soal pengangguran. Meski demikian, isu pengangguran yang sejatinya sudah seringkali dibicarakan, baik di dunia belahan timur maupun di dunia belahan asia. Pengangguran semakin asyik dibicarakan, karena menyangkut bagaimana manusia itu bisa bertahan untuk hidup. Pengangguran bukan hanya memberikan efek dari ekonomi, akan tetapi pengganguran juga bisa menyangkut tentang bagaimana relasi antar manusia (social cultur) bisa saling menjatuhkan. Film A Separation mencoba melihatkan aksi dan reaksi itu bisa terjadi.
            
Suami Razieh yang notabene menjadi pengangguran setelah ia dipenjara, sejatinya telah memberikan anggapan pada penonton bahwa mantan narapidana otomatis mengalami hambatan untuk berkerja. Di sela scene saat Razieh mengundurkan diri dan mengusulkan agar suaminya yang menggantikan ia untuk berkerja bersama Nader, dirasa sebagai penanda bahwa keluarga Razieh dan Hodjat adalah gambaran umum keluarga kelas bawah di Iran. Razieh merupakan representasi perempuan tradisional Iran dengan chador-nya. Ia taat pada suami dan agama. Meski suaminya, Hodjat, kasar dan pengangguran, Razieh tetap menganggapnya segala-galanya. Hodjat sudah berbulan-bulan menganggur dan terlilit hutang. Demi membantu keuangan keluarga, Razieh diam-diam bekerja sebagai pembantu rumah tangga, walau ia tahu tak akan diperbolehkan bila ketahuan suaminya. Oleh sebab itu, ketika suaminya menuntut Nader ke pengadilan, ia ikut saja. Satu-satunya yang bisa mengalahkan pandangan suaminya di mata Razieh adalah Tuhan dan kepentingan anaknya. Bahkan, Ada adegan di mana ia berkonsultasi tentang apa yang ia lakukan itu berdosa atau tidak.
            
Belum lagi jikalau kita melihat pada keluaraga Simin dan Nader. Penyebab dari segala permasalahan dalam film ini adalah Simin dengan ‘kemandirian secara intelektual dan finansialnya’ yang membuatnya menampik esensi dari sebuah nilai pernikahan tradisional yang mengusung kesamarataan. Namun tetap hormat dan patuh pada keputusan suami. Tumpang tindih perbedaan antara dua keluarga ini telah menyibak semua persoalan terkait kelas-kelas sosial itu. Justru saya lebih melihat persoalan ini bukan hanya dari siapa yang salah dan siapa yang benar, karena film ini hanya berbicara perihal yakin dan tidak yakin penonton akan premis dalam film ini.

Ihwal Pembaca
            
Para pembaca yang budiman, dari panjang lebar saya membahas film ini, alangkah baiknya saya mencoba menarik garis besar persoalan gender di film ini, guna memudahkan ihwal pembaca yang budiman. Persinggungan keluarga Simin dengan Razieh sebenarnya seperti ‘kesempatan’ yang bisa digunakan Nader dan Simin untuk mereka menimbang-nimbang lagi keputusan bercerai mereka. Banyak film-film komedi romantis Hollywood menggunakan treatment ini dengan premis sederhana; bahwa bila menghadapi masalah yang sama, pasangan yang bermasalah akan saling menolong untuk bisa mengatasinya dan akhirnya  bersatu kembali. Di A Separation, Asghar seolah menampar kita pada kenyataan bahwa masalah seringkali muncul lebih karena ketidakinginan, bukan ketidakmampuan. Masalah yang sebenarnya tak perlu muncul, namun bila sudah terjadi akan sangat sulit menemukan jalan keluarnya.
            
Sejatinya, resensi ini tidak disarankan untuk menjadi pedoman. Sebagaimana tulisan ini merupakan kacamata saya mengenai film A Separation, saya harap teman-teman pembaca punya kacamata sendiri terhadap film ini. Bilamana terjadi pembedaan antar kacamata teman-teman pembaca mengenai film ini, semoga itu dapat membantu untuk menampilkan kekayaan dan warna dalam media polesemik ini, film.


A Separation | 2011 | Sutradara: Asghar Farhadi | Penulis Naskah: Asghar Farhadi | Pemain: Peyman Moadi, Leila Hatami, Sarah Bayat.


[1] Karena didapat dari cara belajar budaya atau tradisi yang dianut secara turun temurun (culturally learned behavior), perilaku itu disahkan oleh masyarakat sebagai budaya setempat (Culturally assigned behavior). Lebih lanjut penjelasan tentang kesetaraan gender ada di dalam buku terbitan kementrian Hukum dan Ham perihal Parameter Kesetaraan Gender.