Baru saja mendapat omnibus film pendek dari seorang kawan. Sebelumnya, kawan saya sudah membuat sekilas review omnibus film pendek ini. Doi mendapatkannya dari sebuah jaringan situs luar negeri yang mengunggah film tersebut. Omnibus film pendek itu berjudul Fisfic Vol. 1. Sejatinya, omnibus film ini terdiri dari enam film pendek dan tujuh sutradara dengan memakai satu tema yaitu Horor. Dari keenam film tersebut saya tertarik dengan karya besutan dua sutradara yaitu Ari Anjie Az, dan Nadia Yuliani, dengan filmnya yang berjudul Taksi.
Meski demikian saya sedang tidak berusaha melupakan film-film
sebelumnya. Melainkan, saya akan mencoba mencomot
satu-persatu film yang ada dalam projek omnibus tersebut. Dengan mengambil
urutan film dari belakang hingga depan saya akan membuat projek review tentang
omnibus film pendek ini.
Film pendek menjadi begitu berarti disaat perkembangan
film-film panjang sedang merosot ke tangga yang paling rendah. Film pendek juga
menjadi satu medium alternatif bagi para penonton yang jenuh akan perkembangan
film-film popular kini, terkhusus horor. Pada awalnya, projek omnibus film
Fisfic mengedepankan satu visi dan misi untuk meruntuhkan stigma film horror
Indonesia yang terkesan begitu monoton dan hanya menjual syahwat, tukas kawan
saya. Dengan begitu sublimasi besar patut kita harapkan dari projek omnibus
tersebut.
Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang baru saja
pulang kerja setelah lembur, dikemudian waktu ia tampak bingung mencari
kendaraan apa yang akan membawanya pulang. Saat sedang menunggu, sebuah mobil
taksi yang satu-satunya lewat di lokasi tersebut datang menawarkan untuk mengantarnya
pulang. Wajah sopir taksi tersebut memang sedikit cabul, sekilas saat saya menonton, apalagi ketika tawarannya untuk
mengantarkan perempuan tersebut dengan tutur bahasa yang begitu merayu. Ditengah
perempuan itu sedang berpikir, sopir taksi pun mencoba memberikan stimulus tentang kegelapan dan kehampaan
kota pada malam hari. Tanpa habis pikir, perempuan itu menaiki taksi tersebut. Masa-masa
perjalanan pulang, sopir taksi itu menceritakan beberapa kejadian suram dan
muram ihwal perempuan yang seringkali menjadi korban kejahatan pada tengah
malam. Melewati jalan-jalan tikus dan terus-menerus sopir taksi menceritakan
kisah bengis itu. Ditengah perjalanan, lampu merah, tanpa disengaja si sopir
taksi bertemu dengan kedua temannya yang sedang mabuk. Kecaman pun terjadi,
perempuan itu diapit oleh kedua temannya, lalu dipaksa untuk ikut serta mabuk
dan dilecehkan. Tanpa disadari, perempuan itu berubah menjadi seperti zombie
yang mencabik-cabik se-isi perut para lelaki bajingan yang melecehkannya. Sopir
taksi pun semakin jiper melihat
kejadian itu, tapi tetiba temannya mampus,
perempuan itu kembali lagi normal dan meminta taksi untuk berhenti. Sopir taksi
dibayar dan ia tetap selamat.
Setelah menonton film ini, saya jadi teringat dengan film pendek
‘Payung Merah’ yang juga sama-sama membawa ruang perjalanan (taksi) dan
kepulangan, yang juga dikemas dalam genre drama thiller
supernatural atau horor. Terlepas siapa yang duluan mengembangkan gagasan itu,
saya kira tetap memiliki perbedaan satu sama lain. Walaupun sebelumnya saya
menonton film Payung Merah terdahulu baru film Taksi ini. Jelas perbedaannya,
Payung Merah tidak diproduksi secara omnibus, dan ia juga tidak begitu ‘ekstrim’
menghadirkan sosok hantu itu. Sedang, Taksi dengan gamblang dan tampak bahwa
hantu yang disimbolkan begitu menyeramkan dan buas.
Ari dan Nadia, begitu lembut menyisipkan twice kedalam setiap adegan. Hingga saya bisa menghitung beberapa twice itu. Pertama, ketika sopir taksi
menaruh simpati pada perempuan itu, dengan lirikan mata yang cukup menyita
kecurigaan ‘jangan-jangan si sopir bakal bertingkah aneh’, blass.. ternyata memang itu karakternya, tidak seperti apa yang
saya pikirkan. Kedua, adegan saat perempuan yang tiba-tiba jadi zombie dan
melumat temanya, dikemudian waktu saya mengira ia juga akan membunuh sopir taksi
tersebut, dan ternyata ia selamat. Terakhir, perempuan itu tidak sadarkan diri
bahwa ia seperti kesurupan, padahal saya menduga ia juga ikut mati karena
tusukan pisau dari preman bengis itu. Dari beberapa twice tersebut penonton juga dibawa dalam arus perjalan pulang mengenai
taksi, yang pada akhirnya kesan pulang itu menjadi satu ‘keharusan’. Lebih-lebih
waktu antara ‘dunia lain’ dan ‘dunia’ berjalan secara paralel.
Hasrat Terpendam
Dalam taksi Ari dan Nadia, sebenarnya juga menghadirkan ‘hasrat-hasrat
terpendam’ itu. Semisal, kasus-kasus pemerkosaan yang diceritakan sopir taxi,
secara naratif menghadapkan kepada penonton bahwa hasrat-hasrat tentang sexual
dan horror itu berkaitan. Saat budaya voyeurisme
itu tidak terlampiaskan lagi, lalu menjadi buas. Selanjutnya, adalah hasrat
materil atau akan uang. Dialog antara perempuan dan kedua ‘preman bengis’,
membuka peluang anggapan si perempuan bahwa kedua orang yang mengapitnya akan
merampok, dan kemudian penonton akan berusaha mereka-reka si perempuan akan mati
ditangan preman itu, kemudian jadi hantu. Tapi ada satu kelucuan, saat si hantu
bisa juga membayar ongkos taksi itu. Ya, itu juga yang saya maksud berjalan paralel.
Oleh sebab itu, berubahnya si perempuan menjadi monster atau zombie tidak
terlepas dari ciri khas film horor di Indonesia. Dimana rata-rata perempuan
selalu di interpertasikan dalam film horor sebagai kaum yang ditindas. Bagi saya,
itu merupakan suatu perayaan besar saat si perempuan bisa berubah menjadi buas.
Hal itu juga bisa berarti sebagai motif ‘balas dendam’ yang sering kita jumpai
pada film-film horor kebanyakan. Akan tetapi, film ini mencoba menghadapkan
motif tersebut kedalam satu naratif yang lebih simpel, tanpa harus menghadirkan
‘penampakan diluar dunia manusia’.
Makhluk Supernatural
Hadirnya, zombie atau makhluk supernatural itu juga salah
satu langkah besar mencoba untuk meruntuhkan sisi naratif film-film horor kebanyakan.
Ya, Jika pada awalnya kita sudah lebih dahulu dikenalkan oleh makhluk
supernatural ala Indonesia, seperti; sundel bolong, kuntilanak, pocong,
gendoruwo, dan lain sebagainya. Penemuan baru tentang makhluk seperti zombie
itu saya rasa bukan satu hal yang perlu dihindari. Terlebih, zombie atau
sejenisnya pernah dihadirkan dalam film horor Indonesia kontemporer, yang
pasalnya cerita-cerita dalam film horor Indonesia kontemporer tidak terlalu
rumit dan polanya hampir mirip satu sama lain. Yang mana bukan zombie melainkan
siluman (serupa tapi tak sama), dan itu diluar ikonik makhluk supernatural ala Indonesia
itu.
Terlepas dari itu, sosok makhluk supernatural yang tampak
dalam film ini juga mengambil sisi legenda urbannya. Ketika penanda dialog dan
gaya bertutur sopir taksi menceritakan kejadian masa lampau yang begitu suram
dan muram. Jadi, kalau makhluk supernatural seperti yang tampak di film ini
sesungguhnya berangkat dari satu titik yang sama di kebanyakan unsur naratif
film horor Indonesia. Yang tidak jauh dari nekrofilia, psikopat, kanibal,
dukun, makhluk gaib, dan bukan makhluk gaib seperti dalam film ini.
Perjalan bersama Taksi
Si perempuan dan sopir taksi, keduanya mempunyai tujuan yang
sama yaitu pulang. Saat semua sudah memiliki tujuan yang sama, jiwa-jiwa
moralis dalam film ini terbentuk dalam beberapa layer lebih dalam. Lebih-lebih
kehidupan sosial kelas pekerja kota yang selama ini dianggap sibuk dengan
individunya sendiri. Lewat jam kerja nan lembur akan saling tawar-menawarkan
pertolongan dan keakraban satu sama lain. Dengan adanya layer-layer ini,
penonton diajak untuk melakukan perjalanan bersama sang sutradara. Melewati gang
kelinci, jalur tikus, dengan gambaran kota pinggiran yang begitu sesak, dan
muram hingga cerita-cerita misterinya.
Perjalanan itu juga terbentuk untuk penonton dalam menyikapi
perjalanan traumatik masyarakat tentang cerita-cerita kejahatan yang seringkali
terjadi pada malam hari. Ketika hal tersebut sudah begitu tersikapi oleh
penonton, maka beberapa identitas sosial bisa jadi terbentuk di dalam individu
penonton. Bahwa seharusnya perjalanan traumatik masyarakat bukanlah sebagai
angin lalu. Sebagaimana si sopir taksi mengambil jalur tikus merupakan satu
kebiasan kehidupan sosial kelas pekerja kota, yang terbiasa mencari jalan
pintas pada pagi hari, agar terhindar dari kemacetan. Dan itu terus-berulang terjadi pada kepulangan, karena suatu kebiasaan.
Taksi | 2011 (Fisfic Vol.1) |Sutradara:
Ari Anjie Az, Nadia Yuliani | Produser:
Titis Sapto Raharjo, Nadia Yuliani, Ari Anjie Az | Sekenario: Ari Anjie Az, Nadia Yuliani | D.O.P: Dimas Wisnu, Wardono, Shakti Siddarta, Erich Silalahi | Pemain: Shareefa Daanish, Hendra Louis,
Manahan Hutauruk, Alex Loppies.





