Usang dan retak sudah, perkembangan zaman yang men-ejakulasi
orang-orang untuk terus hidup dan bertahan. Well,
saya juga bagian dari pelaku penerus zaman ini. Bukan bagaimana saya menelaah
perkembangan zaman yang dirasa semakin hipokrit, melainkan apa yang saya harus
lakukan untuk menghadapi labirin hidup, peradaban zaman yang semu ini. Yah,
walau perjalanan (journey) saya terkesan masih dibilang ‘anak
kemarin sore’. But, saya mesti
memiliki sublimasi sendiri untuk menyikapi peradaban zaman yang saya rasa semu,
dan ababil ini.
Perabadan bukan karena pada apa yang telah kita hasilkan
secara praktis. Nilai-nilai moral serta pola pikir saat ini disangka semakin
tumpang tindih, multi prespektif dan tidak menentu arah. Kita bisa melihat
poster-poster hingga foto pelaku revolusiener yang sudah marak tinggal di
tengah para fashionista (life style), bahwa hari ini Che dan Lenin ada di tengah mall dalam beragam bentuk dari kaos kartun
hingga mug, punk rock masuk MTV dan menjadi bagian dari industri fashion, hiphop dijadikan alat dagang
sirup instan, motor hingga pakaian dalam. Bahkan agama sekalipun tak lebih dari
sekedar produk marketing kit pelengkap kampanye beragam industri, dan peluru
utama institusi dominan yang kita sama-sama paham juga dimana ujungnya.
Sempat saya berpikiran gila, sementara merefleksikan diri dalam
kamar sempit dan sesak ini. Pertama, saya rasa masa depan populasi manusia
setidaknya hanya tersisa lima persen. Karena energi bumi yang terus digerus
untuk kepentingan yang lebih, alih-alih memberdayakan sumber daya alam demi
kelangsungan teknologi. Pertimbangan ini saya ambil ketika pikiran subjektif
saya memiliki kacamata lain. Konglomerasi, Kekuasaan yang tidak bertanggung
jawab, dan Tirani. Terlebih banyak Negara yang sekarang sedang berlomba-lomba
membuat tenaga Nuklir, yang pangsanya itu akan bermanfaat untuk kebutuhan
manusia di masa depan, tapi resikonya lebih besar dari manfaat. Seraya saya
mengelus dada.
Kedua, Kealpaan film Sains-fiksi, adalah kurang
memperhitungkan apa yang terus dikonsumsi manusia sekarang, menjadi nihil kalau
ada imaji mobil terbang, sepeda berkecepatan 100 km/perjam, dan sebagainya. Menjadi
penting bagi saya, Karena film merupakan bagian dari perkembangan zaman yang bukan
juga sebagai adagium reduksi di dalamnya. Tak heran maka fenomena distorsi yang
muncul dikalangan para aktivis yang berteriak keras ihwal sosialis di siang
hari, kemudian di malam harinya asik menikmati dunia gemerlap, dan bercakap
manis di kaffe-kaffe kelas menengah sambil membicarakan pergerakan yang semu,
atau menggunjingkan ‘hot news’ hari
itu, ala ibu-ibu sosialita. Itu jadi sangat menjijikan bagi saya. Hal itu
mengarahkan pikiran saya pada daya mental para penerus generasi masa kini, yang
semakin naif dan tidak produktif (Lihat Cermin; Instrospeksi diri).
Nihilisme
Bukan bagaimana kita tidak bisa menjadi generasi produktif,
melainkan kita masih kebingungan menetapkan arah hidup ini. “Apa sih tujuan hidup lu?” Lahir, punya
cita-cita, sukses jadi kaya, nikmatin masa pensiun, dan mati. Sebegitu naifkah?
Saya saja masih mempertanyakan tujuan hidup saya di dunia ini, untuk apa, dan
mengapa saya hidup. Seperti apa yang dituliskan Soe Hok Gie “nasib terbaik
adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial
adalah hidup hingga tua, berbahagialah mereka yang mati muda”. Sungguh indah,
dan “apakah itu ironi?” Hmm..
Berbicara tujuan hidup maka berbicara juga kita ihwal
nihilisme, adapun, nihilis memiliki beberapa atau
semua pandangan seperti ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan
pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin.
Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih
baik daripada yang lain.
Tidak daripada apa yang saya lontarkan ini serta-merta hanya
sebagai apologi sampah, untuk lari dari kemajemukan hidup. Bagi saya, hidup ini
bukan dibangun atas dua fondasi baik dan buruk, sehat dan sakit, putih dan
hitam, and so on. Hidup ini terbagi
atas ratusan fondasi, majemuk, tapi tidak tunggal, walau tunggal tapi itu
multi, dan hidup ini dibarengin dengan kelahiran pelangi-pelangi yang tidak
lain adalah busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan
cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya matahari melewati butiran
air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi di dalam tetesan air,
kita sudah mendapatkan warna yang berbeda, memanjang dari satu sisi ke sisi
tetesan air lainnya. “agh sudah..
itu terlalu melankolis!” pikir saya.
Pernyataan tulisan ini juga bukan semata-mata tindakan skeptis
saya ihwal lika-liku kehidupan, tapi lebih saya dasarkan pada apa yang saya
sadari saat ini, dan sebagai sinambung catatan saya untuk masa depan. Mungkin itu bisa berarti
nihil. But, saya menulis ini berusaha
untuk menolak kealpaan sejarah, yang manusia angkuh tidak mencatat sejarah,
yang manusia tamak tidak ingin berbagi kemuliaan sesama.
0 komentar:
Posting Komentar