29 Jun 2012

Catatan Pinggir: Peradaban yang Semu dan Multi Ideologi


Usang dan retak sudah, perkembangan zaman yang men-ejakulasi orang-orang untuk terus hidup dan bertahan. Well, saya juga bagian dari pelaku penerus zaman ini. Bukan bagaimana saya menelaah perkembangan zaman yang dirasa semakin hipokrit, melainkan apa yang saya harus lakukan untuk menghadapi labirin hidup, peradaban zaman yang semu ini. Yah, walau perjalanan (journey) saya terkesan masih dibilang ‘anak kemarin sore’. But, saya mesti memiliki sublimasi sendiri untuk menyikapi peradaban zaman yang saya rasa semu, dan ababil ini.

Perabadan bukan karena pada apa yang telah kita hasilkan secara praktis. Nilai-nilai moral serta pola pikir saat ini disangka semakin tumpang tindih, multi prespektif dan tidak menentu arah. Kita bisa melihat poster-poster hingga foto pelaku revolusiener yang sudah marak tinggal di tengah para fashionista (life style), bahwa hari ini Che dan Lenin ada di tengah mall dalam beragam bentuk dari kaos kartun hingga mug, punk rock masuk MTV dan menjadi bagian dari industri fashion, hiphop dijadikan alat dagang sirup instan, motor hingga pakaian dalam. Bahkan agama sekalipun tak lebih dari sekedar produk marketing kit pelengkap kampanye beragam industri, dan peluru utama institusi dominan yang kita sama-sama paham juga dimana ujungnya.

Sempat saya berpikiran gila, sementara merefleksikan diri dalam kamar sempit dan sesak ini. Pertama, saya rasa masa depan populasi manusia setidaknya hanya tersisa lima persen. Karena energi bumi yang terus digerus untuk kepentingan yang lebih, alih-alih memberdayakan sumber daya alam demi kelangsungan teknologi. Pertimbangan ini saya ambil ketika pikiran subjektif saya memiliki kacamata lain. Konglomerasi, Kekuasaan yang tidak bertanggung jawab, dan Tirani. Terlebih banyak Negara yang sekarang sedang berlomba-lomba membuat tenaga Nuklir, yang pangsanya itu akan bermanfaat untuk kebutuhan manusia di masa depan, tapi resikonya lebih besar dari manfaat. Seraya saya mengelus dada.

Kedua, Kealpaan film Sains-fiksi, adalah kurang memperhitungkan apa yang terus dikonsumsi manusia sekarang, menjadi nihil kalau ada imaji mobil terbang, sepeda berkecepatan 100 km/perjam, dan sebagainya. Menjadi penting bagi saya, Karena film merupakan bagian dari perkembangan zaman yang bukan juga sebagai adagium reduksi di dalamnya. Tak heran maka fenomena distorsi yang muncul dikalangan para aktivis yang berteriak keras ihwal sosialis di siang hari, kemudian di malam harinya asik menikmati dunia gemerlap, dan bercakap manis di kaffe-kaffe kelas menengah sambil membicarakan pergerakan yang semu, atau menggunjingkan ‘hot news’ hari itu, ala ibu-ibu sosialita. Itu jadi sangat menjijikan bagi saya. Hal itu mengarahkan pikiran saya pada daya mental para penerus generasi masa kini, yang semakin naif dan tidak produktif (Lihat Cermin; Instrospeksi diri).

Nihilisme
Bukan bagaimana kita tidak bisa menjadi generasi produktif, melainkan kita masih kebingungan menetapkan arah hidup ini. “Apa sih tujuan hidup lu?” Lahir, punya cita-cita, sukses jadi kaya, nikmatin masa pensiun, dan mati. Sebegitu naifkah? Saya saja masih mempertanyakan tujuan hidup saya di dunia ini, untuk apa, dan mengapa saya hidup. Seperti apa yang dituliskan Soe Hok Gie “nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah hidup hingga tua, berbahagialah mereka yang mati muda”. Sungguh indah, dan “apakah itu ironi?” Hmm..

Berbicara tujuan hidup maka berbicara juga kita ihwal nihilisme, adapun, nihilis memiliki beberapa atau semua pandangan seperti ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.

Tidak daripada apa yang saya lontarkan ini serta-merta hanya sebagai apologi sampah, untuk lari dari kemajemukan hidup. Bagi saya, hidup ini bukan dibangun atas dua fondasi baik dan buruk, sehat dan sakit, putih dan hitam, and so on. Hidup ini terbagi atas ratusan fondasi, majemuk, tapi tidak tunggal, walau tunggal tapi itu multi, dan hidup ini dibarengin dengan kelahiran pelangi-pelangi yang tidak lain adalah busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya matahari melewati butiran air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi di dalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda, memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. “agh sudah.. itu terlalu melankolis!” pikir saya.

Pernyataan tulisan ini juga bukan semata-mata tindakan skeptis saya ihwal lika-liku kehidupan, tapi lebih saya dasarkan pada apa yang saya sadari saat ini, dan sebagai sinambung catatan saya untuk masa depan. Mungkin itu bisa berarti nihil. But, saya menulis ini berusaha untuk menolak kealpaan sejarah, yang manusia angkuh tidak mencatat sejarah, yang manusia tamak tidak ingin berbagi kemuliaan sesama.

0 komentar:

Posting Komentar