14 Jun 2012

Retrospeksi; Bulan yang Hanya Punya Satu Bintang

Poster Film
Film pendek merupakan lahan bermain yang menyenangkan untuk sineas, baik dalam eksperimen penuturan sinematik maupun pengangkatan isu-isu yang tak lazim dibicarakan di ruang publik. Bebasnya film pendek dari kepentingan pasar dan gunting sensor memungkinkan pembuat film, seperti kata Gotot Prakosa, untuk “mencoba menyusuri jalur lain dari yang sudah ada”[1]. Di awali dengan voice over Bintang yang bertanya akan ibunya, film ini secara spontan menampilkan sebuah pertanyaan besar ada apa dibalik pertanyaan itu. Antara tanggung jawab dan feminisme, begitulah visi yang tampak ditampilkan film pendek Seterang Bulan yang di sutradarai oleh Harnono Topik.

Sejatinya film ini berkisah tentang cinta segitiga yang lumrahnya ada di kehidupan nyata, meskipun demikian film ini  tidak juga terlepas dari persoalan khusus yang jarang kita temui di khalayak umumnya. Bulan yang sebentar lagi dipersunting oleh Damar kekasihnya, di kemudian hari mengetahui, bahwa Bulan mempunyai kekasih gelap yaitu Romi. Seketika Damar mengusulkan untuk mengugurkan anak yang masih di dalam kandungannya, berkat hasil hubungan gelapnya dengan Romi. Tanpa pandang bulu, seketika Bulan menghabisi nyawa Damar dengan sebilah gunting, hal itulah yang menyebabkan Bulan mendekam di lapas. Kala itu, pertemuan Romi dan Bulan di ruang tamu lapas menandakan, bahwa itu adalah perpisahan terakhir mereka, antara Bulan dan Romi bersama Bintang, nama anak dalam kandungannya yang sudah direncanakan sebelum kelahiran tiba.

Jikalau kita melihat film ini dari sudut pandang dialog dan cara bertutur yang digunakan di dalamnya, begitu kental kita menemui tutur bahasa yang seringkali memainkan metafora-metafora unsur sastrawi. Topik panggilan akrab sutradara film Seterang Bulan, juga dengan manis memainkan timming di setiap mise en scene-nya, sehingga penonton dapat terbawa oleh emosi yang fluktuatif (naik-turun) dengan adegan yang ada di dalam film ini. Perlawanan Bulan terhadap Damar kekasihnya yang mengusulkan untuk mengugurkan anak yang masih di dalam rahimnya merupakan model perlawanan terhadap penindasan kaum wanita yang seakan-akan selalu di setir oleh kaum pria. Tapi apakah demikian? Biar bagaimanapun film ini telah berhasil meraih penghargaan S.cream Film Festival 2010 dan dinobatkan sebagai The Best Editing (editing terbaik), sempat juga memasuki sepuluh nominasi Best Film (film terbaik) di Festival yang sama. Topik yang juga sebagai editor, dengan apik menempatkan adegan-peradegan dengan alur cerita yang terbalik.  

Syarat kenapa film ini kuat akan pengendalian emosi penonton, juga tidak terlepas dari penggarapan skenario yang begitu kerap memunculkan metafora sastrawinya. Seperti apa yang dikatakan Martin Scorsese “The most important thing is the script”. Begitu kental dengan bahasa sastrawi dan penuh dengan gaya dramaturgi-nya, mengingatkan saya dengan kutipan dari seorang sutradara kenamaan "With a good script, a good director can produce a masterpiece. But with a bad script, one can't possibly make a good film" ungkap Akira Kurosawa. Tidak dengan singkat juga saya memahami film ini bisa dikatakan bagus, ada beberapa bagian yang juga patut kita perhatikan, untuk mengatakan film ini memang layak diberi apresiasi. 

capture adegan
Ketika saya menelisik lebih dalam, bahwa latar tahun yang dipakai dalam film ini berkisar tahun 90’an. Tapi tampaknya tidak sedemikian detail. Misal, pakaian dan jam tangan yang dikenakan Damar kekasih bulan, sekilas dipandangan mata saya sepertinya bukan mode dan produk yang tren pada tahun itu. Atau mungkin saya yang sok tahu? Kedua, voice over Bintang, anak yang dikandung Bulan, secara tiba-tiba muncul di awalan film. Mungkin bagi saya, ini adalah hal yang wagu, tanpa ditampilkan sesosok Bintang membuat pudarnya unsur kebebasan penonton dalam mengaitkan struktur cerita yang ada, sehingga voice over Bintang secara tidak langsung menjadi didaktis bagi penonton yang baru pertama kali menontonnya. Bisa jadi voice over tersebut malah terlupakan oleh penonton saat berupaya mengambil kesimpulan cerita setelah menonton film ini. Terlebih, pada saat film ini diputarkan pada acara peringatan bulan fim nasional (30/03/2011) di Moviebox Gejayan, ada beberapa selentigan bahwa film ini telenovelais banget. Hal semacam itu mungkin kita dapatkan dalam adegan dramaturginya, yang bisa jadi itu agak berlebihan.

capture adegan
Film ini juga kerap menyinggung tentang gerakan feminisme. Seperti apa yang saya singgung sebelumnya. Secara detail film ini memang mengarahkan penonton pada persoalan feminisme itu. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki, sejatinya itu yang tampak dengan jelas di setiap layer-layer film ini. Terlebih, Bulan yang merupakan yatim piatu yang harus bertahan untuk menjalani hidup. Secara sadar penonton telah dibawa kepada masalah di atas masalah yang di sajikan oleh film ini. Cinta segitiga, Bulan anak yatim piatu, Bulan sang pembunuh, dan anak yang dilahirkan diluar pernikahan. Perilaku-perilaku itu secara terstruktur telah membentuk satu narasi utuh yang mengkonstruksi perilaku apa yang anda kerjakan. Perilaku tersebut lebih sesuai disandang untuk perempuan ketimbang perilaku lainnya. Pertama, ketika perempuan setia melakukan aktivitas domestiknya atau mengurus pekerjaan. Kedua, perempuan yang lebih sering meluapkan ekspresinnya ke dalam bentuk emosi. Ketiga, memposisikan perempuan di belakang dalam serombongan laki-laki. Sedang, film ini juga menampar kita pada persoalan tanggung jawab yang kerap dilupakan oleh manusia. “Hanya seorang anak haram, dan ibu pembunuhun yang akan berkata bahwa wanita pun berhak mempunyai pilihan dan melawan” begitulah sepenggal dialog film ini. Romi sesosok laki-laki penuh tanggung jawab akan selalu setia menemani Bintang (sang anak) yang hanya memiliki satu Bulan (Ibu). Begipula sebaliknya, Bulan seorang ibu yang hanya mempunyai satu Bintang anaknya, dan tak ada yang lain di antara relasi anak dan kebesaran ibu. Ya. Begitulah wacana yang saya dapatkan dari film ini. Selanjutnya, saya kembalikan kepada khalayak. (MIR)
      
Seterang Bulan | 2010 | Sutradara: Harnono Topik | Produser: Priantama Wahyu Nugroho | Skenario: Harnono Topik | Ide cerita: Rian Budi | D.O.P: Rian Budi | Pemain: Sekar Sari, Tovic Raharja, Aliem Dwi Prabowo, Susana Amelia



[1] Gotot Prakosa. 1982. Investasi Besar untuk Film Pendek, dalam Kamera Subyektif Rekaan Perjalanan Dari Sinema Ngamen ke Art Cinema, disunting oleh Gotot Prakosa. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Seni Visual Indonesia, 2006, halaman 47.

0 komentar:

Posting Komentar