![]() |
| Poster Film |
Film
pendek merupakan lahan bermain yang menyenangkan untuk sineas, baik dalam
eksperimen penuturan sinematik maupun pengangkatan isu-isu yang tak lazim
dibicarakan di ruang publik. Bebasnya film pendek dari kepentingan pasar dan
gunting sensor memungkinkan pembuat film, seperti kata Gotot
Prakosa, untuk “mencoba menyusuri jalur lain dari yang
sudah ada”[1]. Di
awali dengan voice over Bintang yang
bertanya akan ibunya, film ini secara spontan menampilkan sebuah pertanyaan
besar ada apa dibalik pertanyaan itu. Antara tanggung jawab dan feminisme,
begitulah visi yang tampak ditampilkan film pendek Seterang Bulan yang di
sutradarai oleh Harnono Topik.
Sejatinya film ini
berkisah tentang cinta segitiga yang lumrahnya ada di kehidupan nyata, meskipun
demikian film ini tidak juga terlepas
dari persoalan khusus yang jarang kita temui di khalayak umumnya. Bulan yang
sebentar lagi dipersunting oleh Damar kekasihnya, di kemudian hari mengetahui,
bahwa Bulan mempunyai kekasih gelap yaitu Romi. Seketika Damar mengusulkan
untuk mengugurkan anak yang masih di dalam kandungannya, berkat hasil hubungan
gelapnya dengan Romi. Tanpa pandang bulu, seketika Bulan menghabisi nyawa Damar
dengan sebilah gunting, hal itulah yang menyebabkan Bulan mendekam di lapas.
Kala itu, pertemuan Romi dan Bulan di ruang tamu lapas menandakan, bahwa itu
adalah perpisahan terakhir mereka, antara Bulan dan Romi bersama Bintang, nama
anak dalam kandungannya yang sudah direncanakan sebelum kelahiran tiba.
Jikalau kita melihat
film ini dari sudut pandang dialog dan cara bertutur yang digunakan di dalamnya,
begitu kental kita menemui tutur bahasa yang seringkali memainkan metafora-metafora
unsur sastrawi. Topik panggilan akrab sutradara film Seterang Bulan, juga
dengan manis memainkan timming di
setiap mise en scene-nya, sehingga
penonton dapat terbawa oleh emosi yang fluktuatif (naik-turun) dengan adegan yang
ada di dalam film ini. Perlawanan Bulan terhadap Damar kekasihnya yang
mengusulkan untuk mengugurkan anak yang masih di dalam rahimnya merupakan model
perlawanan terhadap penindasan kaum wanita yang seakan-akan selalu di setir
oleh kaum pria. Tapi apakah demikian? Biar bagaimanapun film ini telah berhasil
meraih penghargaan S.cream Film Festival 2010 dan dinobatkan sebagai The Best Editing (editing terbaik),
sempat juga memasuki sepuluh nominasi Best
Film (film terbaik) di Festival yang sama. Topik yang juga sebagai editor,
dengan apik menempatkan
adegan-peradegan dengan alur cerita yang terbalik.
Syarat kenapa film ini
kuat akan pengendalian emosi penonton, juga tidak terlepas dari penggarapan skenario
yang begitu kerap memunculkan metafora sastrawinya. Seperti apa yang dikatakan
Martin Scorsese “The most important thing
is the script”. Begitu kental dengan bahasa sastrawi dan penuh dengan gaya
dramaturgi-nya, mengingatkan saya dengan kutipan dari seorang sutradara
kenamaan "With a good script, a good
director can produce a masterpiece. But with a bad script, one can't possibly
make a good film" ungkap Akira Kurosawa. Tidak dengan singkat juga saya memahami film ini bisa dikatakan
bagus, ada beberapa bagian yang juga patut kita perhatikan, untuk mengatakan
film ini memang layak diberi apresiasi.
![]() |
| capture adegan |
Ketika
saya menelisik lebih dalam, bahwa latar tahun yang dipakai dalam film ini
berkisar tahun 90’an. Tapi tampaknya tidak sedemikian detail. Misal, pakaian
dan jam tangan yang dikenakan Damar kekasih bulan, sekilas dipandangan mata
saya sepertinya bukan mode dan produk yang tren pada tahun itu. Atau mungkin
saya yang sok tahu? Kedua, voice over
Bintang, anak yang dikandung Bulan, secara tiba-tiba muncul di awalan film.
Mungkin bagi saya, ini adalah hal yang wagu,
tanpa ditampilkan sesosok Bintang membuat pudarnya unsur kebebasan penonton
dalam mengaitkan struktur cerita yang ada, sehingga voice over Bintang secara tidak langsung menjadi didaktis bagi penonton
yang baru pertama kali menontonnya. Bisa jadi voice over tersebut malah terlupakan oleh penonton saat berupaya
mengambil kesimpulan cerita setelah menonton film ini. Terlebih, pada saat film
ini diputarkan pada acara peringatan bulan fim nasional (30/03/2011) di
Moviebox Gejayan, ada beberapa selentigan bahwa film ini telenovelais banget. Hal semacam itu mungkin kita dapatkan dalam
adegan dramaturginya, yang bisa jadi itu agak
berlebihan.
![]() |
| capture adegan |
Film ini juga kerap
menyinggung tentang gerakan feminisme. Seperti apa yang saya singgung
sebelumnya. Secara detail film ini memang mengarahkan penonton pada persoalan
feminisme itu. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di
dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan
lelaki, sejatinya itu yang tampak dengan jelas di setiap layer-layer film ini. Terlebih, Bulan yang merupakan yatim piatu
yang harus bertahan untuk menjalani hidup. Secara sadar penonton telah dibawa
kepada masalah di atas masalah yang di sajikan oleh film ini. Cinta segitiga,
Bulan anak yatim piatu, Bulan sang pembunuh, dan anak yang dilahirkan diluar
pernikahan. Perilaku-perilaku itu secara terstruktur telah membentuk satu
narasi utuh yang mengkonstruksi perilaku apa yang anda kerjakan. Perilaku tersebut
lebih sesuai disandang untuk perempuan ketimbang perilaku lainnya. Pertama, ketika perempuan setia
melakukan aktivitas domestiknya atau mengurus pekerjaan. Kedua, perempuan yang lebih sering meluapkan ekspresinnya ke dalam
bentuk emosi. Ketiga, memposisikan
perempuan di belakang dalam serombongan laki-laki. Sedang, film ini juga
menampar kita pada persoalan tanggung jawab yang kerap dilupakan oleh manusia.
“Hanya seorang anak haram, dan ibu
pembunuhun yang akan berkata bahwa wanita pun berhak mempunyai pilihan dan
melawan” begitulah sepenggal dialog film ini. Romi sesosok laki-laki penuh tanggung jawab akan selalu setia
menemani Bintang (sang anak) yang hanya memiliki satu Bulan (Ibu). Begipula
sebaliknya, Bulan seorang ibu yang hanya mempunyai satu Bintang anaknya, dan
tak ada yang lain di antara relasi anak dan kebesaran ibu. Ya. Begitulah wacana
yang saya dapatkan dari film ini. Selanjutnya, saya kembalikan kepada khalayak.
(MIR)
Seterang
Bulan | 2010 | Sutradara: Harnono Topik | Produser: Priantama Wahyu Nugroho | Skenario: Harnono Topik | Ide cerita: Rian Budi | D.O.P: Rian Budi | Pemain: Sekar Sari, Tovic Raharja, Aliem Dwi Prabowo, Susana
Amelia
[1] Gotot Prakosa. 1982. Investasi
Besar untuk Film Pendek, dalam Kamera Subyektif Rekaan Perjalanan Dari
Sinema Ngamen ke Art Cinema, disunting oleh Gotot Prakosa. Jakarta: Dewan
Kesenian Jakarta dan Yayasan Seni Visual Indonesia, 2006, halaman 47.



0 komentar:
Posting Komentar