14 Jun 2012

Film Korek membawa ‘Narasi Besar’


Poster Film
Anak sekolah menengah pertama, rokok, kehidupan urban, dan kematian, inilah yang divisualkan secara pendek oleh film Korek. Film yang berdurasi hampir 16 menit ini merupakan film pertama besutan sutradara Ade Dae Matolese yang cukup berhasil menarik penonton. Terbukti, dari beberapa gonjang-ganjing yang berhembus di kampus, teman-teman mahasiswa mengklaim bahwa film ini memiliki visi dan misi yang jelas.  Dengan membawa narasi-narasi besar yaitu pertumbuhan pemakai rokok yang bertambah setiap harinya, lalu berakhir dengan kematian dan tidak lupa juga kehidupan urbannya. 
Film yang bercerita tentang seorang anak perempuan yang masih menempuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah dihadapkan dengan ketergantungan konsumsi merokoknya, dan pada suatu saat ia memiliki rokok tetapi tidak mempunyai ‘korek’. Secara tiba-tiba ia melihat dari jendela ada kedua tetangganya sedang bermain catur yang kebetulan perokok dan memiliki korek, ia masih terus mencari korek tersebut. Pada akhirnya, ia menguntit korek tetangganya, dengan alibi menakuti tetangganya, ternyata tetangganya menyadari perilakunya. Adegan kejar-kejaran antara tetangga dan ia pun terjadi. Ditengah kejar-kejaran tersebut ia terjatuh dan bertemu dengan freeman (preman) yang mengambil korek yang ia curi. Bisa dikatakan film ini tidak cerewet, karena film ini tidak banyak menggunakan dialog secara lisan. Banyak adegan-adegan yang menurut saya sudah menggambarkan pesan film ini.
Kita bisa memperhatikan beberapa frame pencitraannya. Pada satu level, gagasan untuk menganalisis citra sebenarnya berkenaan dengan pelipatgandaan citra yang tidak saling meresonansi satu sama lain, yang melintasi layar kaca dalam apa yang kita pahami sebagai narasi visual. Pengambilan shot oleh film ini, boleh jadi menanamkan kesan sendiri - seperti citra ikonik masyarakat urban yang mengenakan sarung, rokok, warung kelontongan, hingga Freemanisme. Ini yang memberikan alasan bahwa film ini membawa ‘narasi besar’, dalam artian film ini memberikan positioning besar terhadap himbauan merokok yang berbahaya, tanpa menyelipkan kesan personal sang sutradara. Ini juga yang menjadikan keramaian perbincangan film ini disekitar kampus Universitas Islam Indonesia.
Secara gamblang film ini cukup berhasil menarik perhatian pada detail-detail penanda yang kerap kita lupakan. ‘Korek’ yang menjadi isyarat dan tanda dari semua rangkaian cerita ini. Akan tetapi, setelah beberapa kali saya menonton film ini ada beberapa transisi shot atau perpindahan gambar yang cukup risih dan menggangu. Seperti penggunaan fade in-fade out pada beberapa shot dirasa kurang relevan dengan shot. Penggunaan fade merupakan penanda bagi pergantian waktu. But, film ini telah menghindar dari definisi tersebut dan hal tersebut juga ditutupi oleh beberapa kesan-pesan shot yang cendrung memberikan isyarat dan signal ekspresi tokoh yang menarik penonton.
Untuk beberapa kesempatan film ini telah menghadirkan adegan humor. Adegan kejar-kejaran dan bertemu dengan kedua preman adalah sudut penggambaran yang menarik, lalu ditambahkan juga dengan effect sound yang mengahadirkan keterikatan penonton terhadap detail film ini. Kabar-kabarnya film ini pernah gagal memasuki nominasi dikarenakan durasi film yang lebih satu menit. Akan tetapi, film ini pernah menduduki beberapa nomininasi dalam satu Festival lainnya. Sayang seribu sayang film ini hanya berhenti dinominasi saja, persaingan yang begitu ketat dalam Festival Tebas yang diadakan Amikom menjadikan tersisihnya film ini. But, sudah bisa bersaing dan menjadi chart terseleksi, sepertinya cukup memberikan kepuasan bagi Komunitas kami. So, saya memiliki pertanyaan bagi pencadu rokok khusunya. “lebih penting memiliki rokok atau pemantik rokok (korek)?” Semoga pertanyaan ini dapat membantu penyampaian pesan dari film ini.


Korek | 2009 | Sutradara: Ade Dae Matolese | Produser: Hipsul | Skenario: Ade Dae Matolese | D.O.P: Ponang | Pemain: Resti, Oteng, Kris

0 komentar:

Posting Komentar