![]() | |
| Poster Film |
Anak
sekolah menengah pertama, rokok, kehidupan urban, dan kematian, inilah yang
divisualkan secara pendek oleh film Korek. Film yang berdurasi hampir 16 menit
ini merupakan film pertama besutan sutradara Ade Dae Matolese yang cukup
berhasil menarik penonton. Terbukti, dari beberapa gonjang-ganjing yang
berhembus di kampus, teman-teman mahasiswa mengklaim bahwa film ini memiliki
visi dan misi yang jelas. Dengan membawa
narasi-narasi besar yaitu pertumbuhan pemakai rokok yang bertambah setiap
harinya, lalu berakhir dengan kematian dan tidak lupa juga kehidupan urbannya.
Film
yang bercerita tentang seorang anak perempuan yang masih menempuh Sekolah
Menengah Pertama (SMP) sudah dihadapkan dengan ketergantungan konsumsi
merokoknya, dan pada suatu saat ia memiliki rokok tetapi tidak mempunyai
‘korek’. Secara tiba-tiba ia melihat dari jendela ada kedua tetangganya sedang
bermain catur yang kebetulan perokok dan memiliki korek, ia masih terus mencari
korek tersebut. Pada akhirnya, ia menguntit korek tetangganya, dengan alibi
menakuti tetangganya, ternyata tetangganya menyadari perilakunya. Adegan
kejar-kejaran antara tetangga dan ia pun terjadi. Ditengah kejar-kejaran
tersebut ia terjatuh dan bertemu dengan freeman
(preman) yang mengambil korek yang ia curi. Bisa dikatakan film ini tidak
cerewet, karena film ini tidak banyak menggunakan dialog secara lisan. Banyak
adegan-adegan yang menurut saya sudah menggambarkan pesan film ini.
Kita
bisa memperhatikan beberapa frame pencitraannya. Pada satu level, gagasan untuk
menganalisis citra sebenarnya berkenaan dengan pelipatgandaan citra yang tidak
saling meresonansi satu sama lain, yang melintasi layar kaca dalam apa yang
kita pahami sebagai narasi visual. Pengambilan shot oleh film ini, boleh jadi menanamkan kesan sendiri - seperti
citra ikonik masyarakat urban yang mengenakan sarung, rokok, warung
kelontongan, hingga Freemanisme. Ini
yang memberikan alasan bahwa film ini membawa ‘narasi besar’, dalam artian film
ini memberikan positioning besar
terhadap himbauan merokok yang berbahaya, tanpa menyelipkan kesan personal sang
sutradara. Ini juga yang menjadikan keramaian perbincangan film ini disekitar
kampus Universitas Islam Indonesia.
Secara
gamblang film ini cukup berhasil menarik perhatian pada detail-detail penanda
yang kerap kita lupakan. ‘Korek’ yang menjadi isyarat dan tanda dari semua
rangkaian cerita ini. Akan tetapi, setelah beberapa kali saya menonton film ini
ada beberapa transisi shot atau
perpindahan gambar yang cukup risih dan menggangu. Seperti penggunaan fade in-fade out pada beberapa shot dirasa kurang relevan dengan shot. Penggunaan fade merupakan penanda
bagi pergantian waktu. But, film ini
telah menghindar dari definisi tersebut dan hal tersebut juga ditutupi oleh
beberapa kesan-pesan shot yang
cendrung memberikan isyarat dan signal ekspresi tokoh yang menarik penonton.
Untuk
beberapa kesempatan film ini telah menghadirkan adegan humor. Adegan
kejar-kejaran dan bertemu dengan kedua preman adalah sudut penggambaran yang
menarik, lalu ditambahkan juga dengan effect
sound yang mengahadirkan keterikatan penonton terhadap detail film ini.
Kabar-kabarnya film ini pernah gagal memasuki nominasi dikarenakan durasi film
yang lebih satu menit. Akan tetapi, film ini pernah menduduki beberapa
nomininasi dalam satu Festival lainnya. Sayang seribu sayang film ini hanya
berhenti dinominasi saja, persaingan yang begitu ketat dalam Festival Tebas
yang diadakan Amikom menjadikan tersisihnya film ini. But, sudah bisa bersaing dan menjadi chart terseleksi, sepertinya cukup memberikan kepuasan bagi
Komunitas kami. So, saya memiliki
pertanyaan bagi pencadu rokok khusunya. “lebih
penting memiliki rokok atau pemantik rokok (korek)?” Semoga pertanyaan ini
dapat membantu penyampaian pesan dari film ini.
Korek
| 2009 | Sutradara: Ade Dae Matolese | Produser: Hipsul | Skenario:
Ade Dae Matolese | D.O.P: Ponang | Pemain: Resti, Oteng, Kris

0 komentar:
Posting Komentar