10 Okt 2012

Musik; Mendengar sekaligus Menyusun Playlist hingga Mixtape


Era digital telah tiba, saat arus lintas informasi tiada batas maka budaya mendengar manusia akan semakin tinggi. Inilah peradaban manusia modern. Musik juga menjadi salah satu aset penting dalam perkembangan dan peradaban manusia kini, tak bisa selayang pandang kita menanggapi musik hanya sebagai produk seni. Bagi saya, musik juga lahir dari pergulatan manusia ketika mencapai satu titik kejenuhan alegori sosial. Dimana manusia mencari tempat untuk bersinggah diri mencari titik nyaman dan intim dalam menyikapi salah satu inderanya, yaitu mendengar.

Kali ini kita tidak akan membicarakan bagaimana produk seni itu dapat tercipta, melainkan kita akan berbicara bagaimana musik (sebagai produk seni) dapat diperlakukan sebagaimana menikmatinya. Bila kita tengok kembali, musik sejak zaman dahulu juga digunakan untuk memahami serta mendekatkan diri dengan alam, masyarakat, dan sang ilahi. Manusia, menggunakan musik untuk sarana meditatif dimana ia diisi dengan doa, harapan, atau puja-puji. Musik ibarat tangga, juga digunakan untuk menggapai tingkat spiritualitas tertentu. Yang jelas, musik menjadi jembatan untuk mempersempit jarak antara yang illahiah dengan hambanya. Dari situ kita bisa simpulkan bahwa musik memiliki fungsi lebih dari sekedar hiburan rakyat, atau produk seni umum. Ia tak hanya memiliki muatan sosial politik, tapi ia juga memiliki fungsi yang lebih mistik dan spiritual. 

Tapi kini orang-orang tak hanya mendengarkan musik untuk memuji alam dan ilahi, melainkan juga untuk memuji sang artis sendiri. Apapun cara ia menikmati musik sebagai-bagian dari budaya mendengar, saya rasa ‘everything is gonna be all right’. Terkait hal-hal tersebut, ada ‘regresi mendengar’ yang kini menjadi begitu penting diperhatikan, ketika musik dianggap tidak lagi dalam taraf mencerahkan, mendekatkan, serta memahami keadaan. Dengan memperhatikan hal yang janggal itu, kita dapat menelisik kembali bagaimana menikmati musik selain dengan mendengar.


Mendengar sekaligus menyusun playlist hingga mixtape adalah kebiasaan umum tapi jarang kita temui. Mengapa jarang kita temui? Semua orang pasti menyukai musik, apapun instrumen dan melodinya, tapi tak banyak orang yang mendengarkan musik secara tematik, dan rapih. Menyusun playlist dan mixtape, merupakan salah satu langkah menciptakan perilaku menikmati musik secara asik. Sadar maupun tidak, musik menjadi sebuah pertualangan mengasikan yang sejujurnya kita dapat menemukan rangkaian-rangkaian beragam tema yang bisa disusun dan dirangkai dalam bentuk playlist hingga mixtape. Sejatinya, playlist berangkat dari penyusunan lagu-lagu favorit hingga representatif perasaan ‘sang pendengar’. Lalu, jenjang itu meningkat dari meracik playlist menjadi sebuah mixtape. Dan ini termasuk dalam hobi yang unik.

Dengan begitu kita bisa menikmati musik bukan hanya dari mendengarkan melainkan dari berbagai macam kekhususannya. Menyusun playlist hingga mixtape juga sebagai usaha pencitraan diri dan mencari keotentikan lewat lagu-lagu yang disusun atau dikompilasikan dalam baris playlist di Winamp atau sejenisnya. Lebih-lebih, karena lagu-lagu dalam kompilasi itu memiliki selera musik yang oke banget menurut sang penyusun, maka dia akan merasa mixtape-nya ini akan begitu berarti jika ia sebarkan kepada semua orang, ‘bahwa selera musiknya lebih baik dari orang kebanyakan’. Lewat budaya menyusun serta meracik itu, kita juga bisa memandang sesuatu dari sudut pandang yang lain menjurus ke eksploitasi isu atau karya. Selain itu, kita juga dapat sharing (berbagi) refrensi music dan passion dari seorang musik geek. Dari situ, mari kita lestarikan menikmati musik dengan asik.