3 Sep 2012

Ketika ‘Unfollow’ lebih Kejam daripada Pembunuhan?

Anda pasti pernah mendengar pepatah ini ‘Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan’, lalu apa yang salah dengan pepatah ini? Gak ada yang salah. Tapi, saya akan coba menyadur dan membuat plesetan pepatah itu, ketika ‘unfollow lebih kejam daripada pembunuhan’. Menjadi cocok saat media sosial kini mulai menguasai dunia, apalagi jejaring sosial yang satu ini (Twitter), pasti teman-teman sudah tahu dong.
Tempo hari, saya membaca beberapa laporan mengenai peringkat pengguna twitter di dunia, alhasil Indonesia berada di posisi ke-lima, ini setelah disalip oleh Inggris raya yang berhasil berada di posisi keempat dengan 23,8 juta akun. Berbeda dengan kita (Indonesia) dengan jumlah 19,5 juta akun. Sedangkan, posisi satu ditempati Amerika Serikat dengan 107,7 juta, Brasil dengan 33,3 juta di posisi kedua, dan Jepang di posisi ketiga dengan 29,9 juta akun. Hasil itu disampaikan dari penelitian Semiocast, lembaga riset media social yang berpusat di Paris, Prancis.
Ihwal peringkat Indonesia sebagai pengguna Twitter kelima terbesar di dunia, menambah marak juga perbincangan tentang gaya bermain Twitter, lalu apa sih yang menarik? Follow dan Unfollow begitulah hal paling lumrah kita jumpai saat bermain di media sosial ini. Sebenarnya sih masih banyak tentang tata cara bermain twitter, seperti; block, spam, hastag, mention, dsb. Meski demikian, saat bermain Twitter, hal pertama yang kita perhatikan adalah Followers kita bertambah atau tidak, dan kedua adalah Trendic Topic apa yang sedang booming.
Sempat memperhatikan chit-chat (percakapan) di timeline akun saya, beberapa waktu lampau. Beberapa akun itu memang dengan frontal menyatakan tweet-war yang dikarenakan ada permasalah antar pribadi mereka, yang mungkin sulit mencari jalan keluar. Kicauan burung-burung lepas itu memang agak risih saya perhatikan. Tapi ini menarik. Ketika mencapai titik klimaks, tweet-war mulai bertebaran, kedua kubu yang berkonflik ini juga menghasilkan sikapnya masing-masing. Hasilnya unik, ‘Unfollow’ adalah sikap terakhir kedua kubu yang saling menggelimangkan kicauannya ini. Hal ini memberikan kacamata lain tentang unfollow itu.
Unfollow menjadi begitu sakral bagi para pengguna akun twitter, yang mungkin juga merubah budaya bercakap anak muda kelas menengah kini. Hubungan pertemanan, bisnis, pacaran, atau apalah, jadi ibarat ‘hitam diatas putih’. Saat semua relasi itu diputuskan dengan tidak mengikuti (Unfollow) lagi akun Tweeps-nya. Alih-alih unfollow menjadi pakem simbol bahwa ia masih menjalin hubungan atau tidak. Tapi, apakah demikian? Memang tidak semua pemilik akun Twitter mengalami kasus yang sama, seperti apa yang saya gambarkan diatas.
Namun, unfollow juga menjadi penting saat pemilik akun memang mempunyai visi untuk eksis di dunia maya sekaligus nyata. Ihwal bagaimana cara bermain yang baik dalam Twitter juga sempat saya dapatkan dari salah seorang teman yang bisa dibilang ‘anak socmed’ gitu. Berikut percakapan saya dengan irfan (@Fanbul) lewat jam malam di Direct Message Twitter;
 
Irfan yang biasa disapa dengan nama Fanbul, memang kerap dipandang sebagai anak socmed yang aktif. Doi memiliki followers hingga 2.342 dengan following 974 (hasil pemantauan terakhir tanggal 16 juli 2012). Lebih-lebih, doi juga cukup konsisten dalam bermain twitter dengan mengisi tweeps galaunya pada jam-jam malam. Meski demikian, masih banyak juga sih, akun-akun tweet yang followers-nya lebih dari doi. Tempo hari, DK New Media membuat daftar 15 alasan umum kenapa akun seseorang di unfollow terhadap situs microblogging Twitter. Hasilnya sebagai berikut:


1. Akun terlalu cerewet
2. Akun terlalu mempromosikan diri sendiri
3. Akun sering melakukan spamming atau menyampah di linimasa
4. Kicauan dari sebuah akun tidak menarik lagi
5. Akun terlalu sering mengulang kicauannya
6. Akun terlalu mengandalkan fasilitas kicauan otomatis
7. Kicauan sering menyerang tweeps lain atau tidak profesional
8. Isi kicauan dari akun berisi ‘hal meminta’
9. Akun terlalu sering diam
10.  Akun terlalu sering berkicau tentang check-in di Foursquare atau layanan sejenisnya
11.  Tidak ada percakapan dengan akun lain
12.  Kicauan bertentangan dengan gramatika
13.  Terlalu banyak melakukan re-tweet14.  Menolak Direct-message (DM)
15.  Sering membuat hastag yang tidak berguna


Nah, kalau sudah tahu tentang tata cara bermain Twitter supaya tidak di unfollow, alangkah baiknya teman-teman sudah punya gambaran sendiri agar bisa mendapatkan teman yang banyak. Sejatinya, budaya berkicau juga merupakan budaya demokratik sekarang ini. Mari berkicau dengan sehat.