Anda pasti
pernah mendengar pepatah ini ‘Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan’, lalu apa
yang salah dengan pepatah ini? Gak
ada yang salah. Tapi, saya akan coba menyadur dan membuat plesetan pepatah itu,
ketika ‘unfollow lebih kejam daripada pembunuhan’. Menjadi cocok saat media
sosial kini mulai menguasai dunia, apalagi jejaring sosial yang satu ini (Twitter),
pasti teman-teman sudah tahu dong.
1. Akun terlalu cerewet
2. Akun terlalu mempromosikan diri sendiri
3. Akun sering melakukan spamming atau menyampah di linimasa
4. Kicauan dari sebuah akun tidak menarik lagi
5. Akun terlalu sering mengulang kicauannya
6. Akun terlalu mengandalkan fasilitas kicauan otomatis
7. Kicauan sering menyerang tweeps lain atau tidak profesional
8. Isi kicauan dari akun berisi ‘hal meminta’
9. Akun terlalu sering diam
10. Akun terlalu sering berkicau tentang check-in di Foursquare atau layanan sejenisnya
11. Tidak ada percakapan dengan akun lain
12. Kicauan bertentangan dengan gramatika
13. Terlalu banyak melakukan re-tweet14. Menolak Direct-message (DM)
15. Sering membuat hastag yang tidak berguna
Tempo hari, saya
membaca beberapa laporan mengenai peringkat pengguna twitter di dunia, alhasil
Indonesia berada di posisi ke-lima, ini setelah disalip oleh Inggris raya yang
berhasil berada di posisi keempat dengan 23,8 juta akun. Berbeda dengan kita
(Indonesia) dengan jumlah 19,5 juta akun. Sedangkan, posisi satu ditempati
Amerika Serikat dengan 107,7 juta, Brasil dengan 33,3 juta di posisi kedua, dan
Jepang di posisi ketiga dengan 29,9 juta akun. Hasil itu disampaikan dari penelitian
Semiocast, lembaga riset media social yang berpusat di Paris, Prancis.
Ihwal peringkat
Indonesia sebagai pengguna Twitter kelima terbesar di dunia, menambah marak
juga perbincangan tentang gaya bermain Twitter, lalu apa sih yang menarik? Follow dan Unfollow begitulah hal paling lumrah kita jumpai saat bermain di
media sosial ini. Sebenarnya sih masih banyak tentang tata cara bermain twitter,
seperti; block, spam, hastag, mention, dsb. Meski demikian, saat bermain Twitter,
hal pertama yang kita perhatikan adalah Followers
kita bertambah atau tidak, dan kedua adalah Trendic
Topic apa yang sedang booming.
Sempat memperhatikan
chit-chat (percakapan) di timeline
akun saya, beberapa waktu lampau. Beberapa akun itu memang dengan frontal
menyatakan tweet-war yang dikarenakan
ada permasalah antar pribadi mereka, yang mungkin sulit mencari jalan keluar.
Kicauan burung-burung lepas itu memang agak
risih saya perhatikan. Tapi ini menarik. Ketika mencapai titik klimaks, tweet-war mulai bertebaran, kedua kubu
yang berkonflik ini juga menghasilkan sikapnya masing-masing. Hasilnya unik, ‘Unfollow’ adalah sikap terakhir kedua
kubu yang saling menggelimangkan kicauannya ini. Hal ini memberikan kacamata
lain tentang unfollow itu.
Unfollow menjadi begitu sakral bagi para
pengguna akun twitter, yang mungkin juga merubah budaya bercakap anak muda
kelas menengah kini. Hubungan pertemanan, bisnis, pacaran, atau apalah, jadi
ibarat ‘hitam diatas putih’. Saat semua relasi itu diputuskan dengan tidak
mengikuti (Unfollow) lagi akun Tweeps-nya. Alih-alih unfollow menjadi pakem simbol bahwa ia
masih menjalin hubungan atau tidak. Tapi, apakah demikian? Memang tidak semua
pemilik akun Twitter mengalami kasus yang sama, seperti apa yang saya gambarkan
diatas.
Namun, unfollow juga menjadi penting saat
pemilik akun memang mempunyai visi untuk eksis di dunia maya sekaligus nyata. Ihwal
bagaimana cara bermain yang baik dalam Twitter juga sempat saya dapatkan dari
salah seorang teman yang bisa dibilang ‘anak socmed’ gitu. Berikut percakapan saya dengan irfan (@Fanbul) lewat jam malam di Direct Message Twitter;
Irfan yang biasa disapa dengan nama Fanbul, memang kerap dipandang sebagai
anak socmed yang aktif. Doi memiliki followers hingga 2.342 dengan following 974 (hasil pemantauan terakhir
tanggal 16 juli 2012). Lebih-lebih, doi juga cukup konsisten dalam bermain twitter
dengan mengisi tweeps galaunya pada
jam-jam malam. Meski demikian, masih banyak juga sih, akun-akun tweet yang followers-nya lebih dari doi. Tempo
hari, DK New Media membuat daftar 15 alasan umum kenapa akun seseorang di unfollow terhadap situs microblogging Twitter. Hasilnya sebagai
berikut:
1. Akun terlalu cerewet
2. Akun terlalu mempromosikan diri sendiri
3. Akun sering melakukan spamming atau menyampah di linimasa
4. Kicauan dari sebuah akun tidak menarik lagi
5. Akun terlalu sering mengulang kicauannya
6. Akun terlalu mengandalkan fasilitas kicauan otomatis
7. Kicauan sering menyerang tweeps lain atau tidak profesional
8. Isi kicauan dari akun berisi ‘hal meminta’
9. Akun terlalu sering diam
10. Akun terlalu sering berkicau tentang check-in di Foursquare atau layanan sejenisnya
11. Tidak ada percakapan dengan akun lain
12. Kicauan bertentangan dengan gramatika
13. Terlalu banyak melakukan re-tweet14. Menolak Direct-message (DM)
15. Sering membuat hastag yang tidak berguna
Nah, kalau sudah tahu tentang tata cara bermain Twitter supaya tidak di unfollow, alangkah baiknya teman-teman
sudah punya gambaran sendiri agar bisa mendapatkan teman yang banyak.
Sejatinya, budaya berkicau juga merupakan budaya demokratik sekarang ini. Mari berkicau
dengan sehat.







